Puan

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Jumat, 30 Juli 2021 – 12:48 WIB
Puan Maharani. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Puan Maharani bisa disebut sebagai politisi yang unik. Atau, kalau mau agak lebih keren, disebut sebagai politisi anti-mainstream, meminjam istilah anak milenial zaman now.

Politisi mainstream biasanya dikritik karena salah omong, banyak tingkah di medsos, bikin status yang kontroversial, atau salah komen.

BACA JUGA: Puan Maharani Ajak Masyarakat Optimistis Hadapi Pandemi Covid-19

Namun, Puan dikritik karena tidak pernah omong, tidak aktif di medsos, dan tidak pernah memberi komen terhadap kasus-kasus aktual.

Puan beda dengan para politisi mainstream, yang suka caper alias cari perhatian, atau melakukan panjat sosial (pansos) di medsos.

BACA JUGA: Mbak Puan Angkat Bicara soal Perubahan Kebijakan PPKM, Begini...

Para politisi mainstream suka banyak komen supaya disukai awak media dan menjadi media darling, dan pada akhirnya popularitasnya naik. Puan lebih suka diam. Mungkin ini sifat yang dia warisi dari ibunya, Megawati Soekarnoputri.

Puan beda dengan mereka semua. Sebagai Ketua DPR dia banyak diam, tidak suka komen, dan tidak suka orang yang banyak komen. Kalau ada orang yang banyak omong dia akan matikan mik, seperti yang pernah dilakukannya saat memimpin rapat pleno.

BACA JUGA: Baliho Dirusak, Masyarakat Bakal Kian Simpati kepada Mbak Puan

Puan juga tidak terlalu aktif di media sosial. Kalau toh bikin unggahan, status, atau konten, biasa-biasa saja dan tidak pernah menjadi trending topic atau viral.

Malah, kalau ada politisi—terutama dari sesama kader PDIP—yang aktif bermedsos akan kena semprot oleh Puan. Contohnya adalah Ganjar Pranowo, yang oleh Puan disindir lebih banyak sibuk di medsos daripada bekerja sebagai gubernur.

Seorang gubernur, kata Puan menyindir Ganjar, seharusnya bekerja turun ke bawah, bukan sibuk mencari popularitas di dunia maya untuk mengejar rating tinggi di survei.

Untuk yang satu ini Puan kena kick balik. Dia juga dianggap tidak banyak bekerja, tidak populer di medsos, dan di survei rating-nya tidak bisa naik dari nol koma sekian persen.

Ganjar Pranowo sangat lincah dan fasih bermain medsos. Dia juga banyak turun ke bawah bertemu rakyat, sangat semanak dan sederhana. Semua msnuver itu disebut sebagai pencitraan, dan Ganjar dianggap mencuri start untuk pemilihan presiden 2024.

Manuver Ganjar dianggap terlalu cepat dan melampaui kebijakan partai, yang belum memberi aba-aba kepada siapa pun di antara kadernya untuk bergerak mempersiapkan diri menghadapi perhelatan 2024.

Karena itu Ganjar kena semprit oleh Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, Ketua Badan Pemenangan PDIP, yang juga dikenal sebagai tangan kanan Puan.

Ganjar dianggap kemajon, terlalu maju, dan keminter, sok pintar. Dan, yang paling penting, Ganjar dianggap melakukan fait accompli yang bisa merusak kans Puan untuk maju sebagai calon dari PDIP pada 2024.

PDIP sudah tukar cincin dengan Gerindra, untuk memasangkan Puan sebagai cawapres dengan Prbowo Subianto sebagai capres. Tukar cincin ini bisa berujung dengan kawin paksa, kalau popularitas Puan rendah dan tetap macet seperti sekarang.

Berbagai survei menunjukkan popularitas Puan belum beranjak dari satu persen, sementara Ganjar konsisten di atas sepuluh sampai 15 persen. Ganjar selalu konsisten di tiga besar capres populer bersama Prabowo dan Anies Baswedan.

Tiga orang itu saling menyalip dan saling mengejar.

Kalau Puan masih tetap tidak beranjak dari posisi jongkok, tentu akan menyulitkan Prabowo, yang masih sangat berambisi untuk maju keempat kalinya dalam kontestasi pilpres.

Sisa waktu yang ada kelihatannya tidak cukup panjang untuk mendongkrak popularitas Puan.

Kader-kader PDIP di Jawa Timur mengambil inisiatif dengan memasang billboard dan baliho di kota-kota penting di Jawa Timur.

Di Surabaya, billboard dan baliho bergambar Puan bertebaran di sudut-sudut jalan yang strategis. Di kota lain, seperti Blitar, baliho Puan juga banyak terpampang.

Alih-alih menarik perhatian publik, baliho Puan malah menjadi korban vandalisme. Tangan-tangan jail itu menuliskan kalimat kurang pantas, seperti ‘’Open BO’’. Ada juga yang mencoretkan ‘’PKI’’ dan juga ‘’Koruptor’’.

Reaksi negatif ini terjadi di Surabaya dan Blitar. Dua kota yang menjadi stronghold PDIP.

Di Surabaya PDIP baru saja memenangi pilwali 2020 meskipun dikepung oleh koalisi partai-partai besar. Kota Blitar dijuluki sebagai ‘’Kota Bung Karno’’, karena Proklamator Indonesia itu dimakamkan di kota itu.

Namun, justru di Kota Blitar baliho Puan malah menjadi korban vandalisme.

Hal ini tentu menjadi sinyal merah bagi PDIP. Di kandang banteng sendiri reaksi publik malah negatif terhadap Puan.

Selama 20 tahun terakhir sejak reformasi, PDIP tidak pernah memenangi kursi gubernur Jawa Timur. Meski di tingkat kabupaten-kota banyak berjaya, tetapi di level kontestasi gubernur jago PDIP selalu keok.

Terakhir pada pilgub 2019 jago PDIP Saifullah Yusuf yang nota-bene petahana, kalah dari penantang Khofifah Indar Parawansa.

Pada perhelatan pilpres 2019 pasangan Jokowi-Makruf beruntung bisa mengalahkan Prabowo-Sandi di Jawa Timur.

Kemenangan di Jawa Timur ini sangat krusial sebagai penentu kemenangan Jokowi. Pertempuran paling seru terjadi di Madura. Selama kampanye Prabowo sangat kuat di Madura, tetapi ketika pemilihan ternyata suara Prabowo jeblok.

Mengangkat popularitas Puan tentu menjadi kunci penting kalau PDIP masih tetap ingin mengawinkan Puan dengan Prabowo.

Tentu ini pekerjaan yang tidak gampang, karena gaya politik Puan yang anti-mainstream itu.

Pengamat politik Ray Rangkuti dalam sebuah diskusi di Jakarta (29/7) mengaku heran dengan Puan yang tidak pernah bersuara sama sekali.

Kali ini, sebagai Ketua DPR RI seharusnya Puan bersuara, karena DPR tengah menjadi sorotan gegara menyiapkan hotel bintang tiga untuk fasilitas isoman anggota DPR RI.

Publik ribut dan banyak yang menentang keras kebijakan ini. Di tengah kondisi PPKM level 4 yang dianggap mencekik leher rakyat, dan di tengah sulitnya rakyat memperoleh layanan kesehatan karena rumah sakit penuh, ternyata anggota DPR dapat privilege pelayanan yang eksklusif.

Fasilitas isoman bintang tiga ini dianggap tidak pantas, dan tidak menunjukkan empati terhadap penderitaan rakyat. Ray Rangkuti menunggu komentar Puan terhadap kasus ini.

Sebagai ketua, Puan seharusnya bersuara menjawab kritikan masyarakat. Namun, Puan masih belum bersuara.

Ini salah satu bukti baru bahwa Puan adalah politisi anti-mainstream, yang lebih suka diam daripada banyak komen. Mungkin Puan lebih suka menganut prinsip ‘’Silence is Golden’’, diam itu emas. Siapa tahu? (*)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler