Puncak Konsumsi Berlalu, Harga Pangan Kembali Normal

Jumat, 03 Agustus 2018 – 13:15 WIB
Harga pangan di pasar stabil. ILUSTRASI. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat inflasi pada Juli 2018 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month) atau 3,18 persen secara tahunan (year on year).

Secara tahun kalender (Januari-Juli), inflasi sebesar 2,18 persen. Inflasi ini menurun dibandingkan posisi bulan lalu sebesar 0,59 persen.

BACA JUGA: Kementan Harap PT CPIN Tambah Mobil Pengering Jagung

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, inflasi yang terkendali ini disebabkan harga barang kembali normal.

“Ini biasa karena puncak konsumsi kita berada di Ramadan dan lebaran. Jadi Lebaran sudah usai dan harga kembali normal,” kata Suhariyanto.

BACA JUGA: 2018, Kementan Tingkatkan Volume Ekspor Tanaman Hias

Kenaikan inflasi secara bulanan, menurut Suhariyanto, dipicu oleh peningkatan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.

Dia menyebut telur ayam ras menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi Juli 2018, disusul oleh daging ayam ras dan bensin.

BACA JUGA: Indonesia Kembali Ekspor 5.600 Ton Bawang Merah ke Thailand

"Itu komoditas yang mendorong inflasi dari bahan makanan. Namun bahan makanan juga ada yang mengalami deflasi seperti bawang merah 0,05 persen, cabai merah 0,02 persen, daging sapi dan ikan segar juga menahan inflasi dan menyumbang deflasi masing-masing 0,01 persen," kata Suhariyanto.

Kementan Terus Berupaya Jaga Pasokan Komoditas Bahan Pangan

Mencermati rilis data BPS ini, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian (Kementan) Ketut Kariyasa menyampaikan sejumlah komoditas pangan menahan deflasi karena ketersediaan stoknya terjaga.

"Ini menunjukkan hasil dari upaya Kementan menjaga ketersediaan stok sejumlah pangan, sehingga kestabilan harga terjaga dan inflasi pun terkendali," ungkap Kariyasa.

Setelah Lebaran Idul Fitri harga telur ayam sempat tinggi hingga menembus Rp 30.000,-/kg. Disusul harga daging ayam hingga mencapai Rp 40.000,-/kg. Kementan kemudian melakukan operasi pasar (OP) sebagai upaya stabilisasi harga.

"19 Juli Menteri Pertanian Amran Sulaiman melepas 100 ton telur dalam OP telur ayam murah. Dijual seharga Rp 19.500,-/kg. Kemudian 28 Juli lalu Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan juga menggelar OP daging ayam beku. Keduanya sukses menurunkan harga", jelas Kariyasa.

Dan yang paling mutakhir, tambahnya, pada Rabu (1/8), Mentan Amran melepas 5.600 ton bawang merah untuk diekspor PT Revi Makmur Sentosa dan PT Aman Buana Putera ke beberapa negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Sukses komoditas bawang merah menembus pasar internasional, khususnya Asia Tenggara, dimulai sejak Kementan menggenjot produksi. 2014 lalu Indonesia masih impor 74.903 ton bawang merah, lalu turun drastis pada 2015 menjadi 17.428 ton. Adapun pada 2016 pemerintah telah menutup keran impor bawang merah.

"Sejak 2017 Indonesia berhasil membalikkan keadaan dengan mulai mengekspor bawang merah ke beberapa negara tetangga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka ekspor bawang merah nasional pada 2017 mencapai 7.750 ton atau naik 93,5 persen dibandingkan pada 2016 yang hanya 736 ton", jelas Kariyasa. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Produksi Jagung Melebihi Kebutuhan Nasional


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler