Pungli di Penjara, Sel Nyaman Rp 7 Juta, Bilik Asmara Sejuta

Minggu, 01 Oktober 2017 – 00:05 WIB
Warga binaan di bilik penjara. Ilustrasi Foto: Paksi Sandang Prabowo/dok.JPNN.com

jpnn.com - Pungli oleh oknum sipir penjara dan antarnarapidana masih cukup marak.

Warga binaan alias napi yang menemui keluarga yang membesuk, mau nelpon, makan enak, bahkan mengajak istri ke bilik asmara, semua harus bayar. Berikut penelusuran Sumatera Ekspres (Jawa Pos Group).
---
WAKTU menunjukkan pukul 13.15 WIB, siang itu. Suasana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas III Palembang, Jl Tanjung Sari LK III, Serong, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan tampak lengang.

BACA JUGA: Pemeran Pierre Tendean, Benar-benar Dipopor, Disundut Rokok

Beberapa mobil terparkir di halaman penjara. Kamera CCTV terpasang di sudut-sudut gedung.

Di pintu utama ada tulisan, “Tidak dipungut biaya apapun.” Seorang tamping (narapidana pembantu petugas) jaga di meja resepsionis.

BACA JUGA: Kisah Mencari Musik Horor Menyayat Hati Film G 30 S/PKI

Saat itu, wartawan Sumatera Ekspres menyamar sebagai pembesuk napi. Menemani seorang ibu, AY (35).

Dia mau menjenguk suaminya, DE (40) yang dipenjara karena kasus narkoba. Sudah dua bulan ini, AY tak bertemu suaminya.

BACA JUGA: Amoroso Katamsi Cerita soal Komentar Pak Harto dan Bu Tien

Dari pintu utama langsung masuk ruang pendaftaran pembesuk di gedung depan. Beberapa keluarga menunggu. Dua petugas Lapas mencatat nama pembesuk satu persatu.

Giliran AY dipanggil. Dia menyerahkan KTP dan wartawan Sumatera Ekspres ikut berdiri di sampingnya.

“Ini adik saya,” AY menjelaskan kepada petugas. Setelah itu, petugas meminta dompet dan semua alat elektronik (kamera, HP, dan lainnya) dititip dalam loker besi.

Dari sana, menuju gedung kedua masuk dari pintu 2. Lima menit menunggu di depan pintu besi itu, sipir laki-laki membuka pintu. Dia memeriksa tas dan makanan bawaan.

Bahkan meminta mencicipi mie instan yang sudah direndam air panas. Ada seorang tamping ikut membantu. Lewat sensor X-Ray, kemudian petugas dan tamping itu, memeriksa seluruh tubuh.

Setelah yakin tidak ada barang terlarang dibawa masuk, keduanya lalu mengecap tangan wartawan Sumeki.

Memberi ID card tamu dan kertas besuk napi sambil mempersilakan melewati pintu 3. Saat itu, sang tamping meminta dengan suara samar-samar kepada wartawan Sumeks. “Uang kebersihannya,” kata dia.

Sumatera Ekspres memberi uang sukarela Rp10 ribu kepadanya. Setelah melewati pintu ketiga, gabung keluarga napi lain di ruang pengunjung. Luas ruangan, 15 x 20 meter persegi. Kertas besuk tadi diberikan ke tamping, lalu nama napi DE dipanggil.

Tak lama DE datang ke ruang pengunjung. Dia langsung mencium dan memeluk istrinya.

Blak-blakkan DE cerita kondisinya di penjara. Mulai dari masuk Lapas Narkotika, setelah sebelumnya dikurung di ruang isolasi 6x2 meter persegi yang pengap dan gelap. Isinya sampai 25 napi.

“Napi-napi baru atau pelanggar biasanya dikurung full sebulan di ruang itu. Tidak bisa mandi, cuma ada WC. Kalau tidur meringkuk,” ceritanya.

Karena tidak tahan, setelah seminggu DE menyuap petugas Rp800 ribu supaya bisa keluar. “Itu sebelum Juli 2017, kejadian rusuh di lapas. Kalau sekarang diisolasi dua minggu, tidak lagi sebulan. Mungkin tak banyak lagi napi yang nyuap,” ujarnya.

Tapi pungli lain masih banyak. “Kalau menemui keluarga yang besuk, napi bayar setelah kunjungan usai. Istilahnya buka kunci (pintu),” ujarnya. Bayarnya Rp15 ribu ke sipir yang jaga pintu 4 masuk blok penjara.

Lalu Rp5 ribu ke napi yang pegang kunci sel. Kalau sebelum kisruh (demonstrasi napi), bayarnya sampai Rp60 ribu. “Jadi setiap ada kunjungan, napi minta ke pembesuk untuk bayar uang itu,” cetusnya.

Bukan itu saja. Menelpon pun gampang dari penjara. “Napi bisa bawa handphone ke sel. Bahkan dari 30-an napi satu sel dengannya, mungkin sampai 10 napi punya hp. Di sel lain demikian,” cetusnya.

Sebab, untuk bawa hp diizinkan sipir dengan catatan membayar Rp100 ribu untuk daftar pertama, namanya dicatat. Lalu setiap bulan bayar Rp50 ribu.

“Kalau ada razia, hp napi yang kedapatan tidak diambil. Sebaliknya jika tidak mendaftar,” terangnya.

Sebenarnya, kata dia, setiap kamar sel ada fasilitas TV, kipas angin, dan 1 unit hp tapi milik bersama.

“Kalau di sel mau pakai hp kamar itu beli sendiri pulsanya,” ujarnya. Untuk makan sehari-hari, kata DE, semuanya gratis dan 3 kali sehari.

“Tapi nasinya sedikit, lauk seadanya seperti ikan asin, sayur, tapi kadang-kadang daging atau ikan,” ujarnya.

Namun, kalau mau dapat porsi besar (2 kali lipat) tinggal bayar Rp100 ribu sebulan. Bayarnya ke napi tukang masak dan memberi makan napi.

“Di penjara ini lapas berdayakan napi. Mereka yang kerja, memasak, menyiapkan air minum untuk napi. Termasuk membersihkan lapas,” katanya.

Kalau ada tamping minta uang kebersihan, ya gunanya untuk itu. “Tapi kalau di sini, jadi pekerja ada kriterianya. Biasanya napi dengan hukuman di bawah 4 tahun dan tak lama lagi bebas,” cetusnya.

Bagaimana dengan pungli baik air, listrik, maupun fasilitas lain yang sempat diributkan pascakisruh Juli lalu? Kata DE, untuk air minum, napi biasa masak sendiri air galon.

Mandi dan mencuci dengan air sumur bor, ada kamar mandi dan beberapa WC di kamar sel. “Tak ada lagi pungli kalau air dan listrik ini.”

Hanya saja, hasrat bercinta tak bisa dibantah setelah lama tak bertemu istri. “Di sini, untuk hubungan seperti itu ada bilik asmara. Tapi bayar sejuta, tempatnya di atas,” kata dia lalu menunjuk ke atas ruang kunjungan. Waktunya juga tak sembarang. Diatur di luar jam dinas Sabtu-Minggu atau malam hari.

Selain membesuk napi di Lapas Narkotika Palembang, Sumatera Ekspres juga masuk Rutan dan Lapas lain dengan modus sama.

Membesuk napi. Kasus pungli serupa ternyata juga terjadi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pakjo Palembang Jl Inspektur Marzuki. Malah lebih parah.

Waktu besuk di sana, 2 kali. Pukul 09.00-11.00 dan 13.00-15.00 WIB. Wartawan Sumatera Ekspres menjenguk napi kriminal, MI (37) pukul 13.00 WIB. Rutan tersebut agak berbeda dengan Lapas Narkotika.

Keluarga pembesuk lebih ramai. Harus antre. Kadang saling sikut. Seperti di Lapas Narkotika, satu persatu makanan bawaan diperiksa dan diberi nomor.

Setelah mendaftar, semua barang elektronik dan barang berharga dititip ke tamping yang jaga. Baru lewati pintu 2 yang dijaga sipir.

Sumatera Ekspres kembali lewati X'Ray dan diperiksa sipir. Dari situ lewati pintu 3 yang dijaga 4 tamping. Dia mengambil kertas besuk tahanan dan memanggil nama napi.

Wartawan Sumeks diminta menunggu di ruang kunjungan. Setelah 15 menit, MI keluar menemui Sumatera Ekspres.

“Selama saya di sini, tidak ada yang tidak bayar. Semuanya bayar,” curhat dia setelah ditanyai soal pungli Rutan.

Kalau besuk, katanya, napi keluar lewati pintu blok dan pintu giling (berputar). “Ada tamping jaga pintu giling. Nanti dia minta Rp50 ribu setelah napi dibesuk, cuma itu. Istilahnya sama, uang buka pintu,” ujarnya. Tamping yang nanti menyerahkan uang tersebut ke sipir.

Selain itu, saat jam besuk ada namanya jam “berpanas” di depan sel (halaman) bagi tahanan yang tak dibesuk.

“Tapi itu tidak semua napi boleh keluar sel. Hanya napi yang rajin nyetor. Mereka akan dibebaskan untuk hirup udara segar beberapa menit lalu masuk sel lagi,” ujarnya.

Setiap hari, napi wajib apel sekali di pagi hari. “Itu namanya absen. Bayar Rp10 ribu ke sipir usai apel,” ujarnya.

Kalau momen Lebaran atau hari libur besar saat kunjungan sedang ramai, apel napi bisa dadakan sehari 3 kali dan 3 kali bayar.

Di Rutan Pakjo ada istilah uang pindah blok. “Setiap blok ada beberapa sel tahanan. Masing-masing kamar sel beda-beda jumlah penghuni. Dari 3 sampai 49 orang,” ungkapnya.

Contoh Blok D dari nomor 21 dan seterusnya. Berisi 20 orang. Blok B-C bisa maksimal 49 orang. Kalau sudah terlalu padat, tidurnya sampai depan WC.

Mau pindah sel dengan jumlah tahanan sedikit, ada syaratnya. “Setiap kamar harga beda-beda. Makin sedikit tahanan dan kamar luas, makin mahal tarifnya,” ujar MI.

Setoran ke sipir penjara mulai Rp3 juta untuk isi kamar 20 orang. Paling mahal Rp7 juta yang selnya cuma 3 tahanan.

Itu dilengkapi TV dan kipas angin. Ada lagi, kalau sedang apes masuk ruang isolasi, bisa keluar Rp3 juta ke sipir.

Tak hanya itu, air juga bayar Rp100 ribu per bulan ke kepala kamar. Diduga kepala kamar ini setor ke sipir.

“Dapatnya cuma sekaleng cat 20 liter per hari. Kalau rajin ngasih uang, bisa lebih banyak lagi dapat air,” ujarnya.

Makanya pagi-pagi kadang ngantre. Air itu yang digunakan untuk mandi, mencuci, buang air besar dan kecil. Semuanya dilakukan di WC atau kamar mandi sel. Tinggal berpikir saja bagaimana hemat air.

Jika ingin tidur pakai kasur bisa sewa ke sipir Rp100 ribu. Tikar Rp75 ribu. “Bawa sendiri tidak boleh,” ujarnya.

Di sini juga bisa bawa hp dengan catatan, tinggal beri sipir Rp100 ribu. Yang boleh hanya hp biasa, bukan smartphone. “Kalau kedapatan, razia akan disita,” ujarnya.

Bagaimana jika napi tak punya uang atau jarang dikunjungi keluarga? “Biasanya mereka jadi petugas kebersihan WC, ruang isolasi, sel tahanan, dan lainnya,” ujar MI.

Tapi mereka berbeda dengan tamping. Sebab tamping ini punya kelebihan. Bebas keluar masuk dan dipercaya petugas.

Untuk jadi tamping pun bayar Rp500 ribu. Kalau sipir ditanya kok semua bayar, petugas beralasan tidak ada seseran.

“Mungkin rutan ini tinggal nunggu 'meledak' saja. Jangan sampai seperti Serong, karena terlalu banyak pungli,” ungkapnya.

Sebelum ke Rutan Kelas I Pakjo Palembang, di hari yang sama Sumatera Ekspres juga membesuk napi berinisial ZA (31) ke Lapas Perempuan Kelas II A Palembang Jl Merdeka. Prosedur di sana juga sama dengan Lapas/Rutan lain.

Tapi saat mendaftar pertama, ada sipir wanita memeriksa kantong makanan koran ini. Setelah itu, dia terang-terangan meminta uang kebersihan. “Uang kebersihannya, Rp10 ribu,” ujarnya.

Sepuluh menit menunggu, ZA muncul. Ruang besuk itu, dilengkapi beberapa CCTV. “Kalau napi baru masuk, biasanya menyiapkan ember, gayung, dan perlengkapan mandi sendiri,” ujarnya.

Kecuali itu, tidak boleh bawa barang apapun termasuk barang elektronik. Tidak ada TV, kipas angin, atau hp dalam sel. Kalau mau nelpon, ada warung telepon di dalam. “Tinggal bayar pulsa Rp5 ribu,” sebutnya.

Bagaimana biaya lain, dia mengaku tidak ada pungli apapun di Lapas Wanita. “Makan tiga kali sehari dan semuanya tidak ada yang bayar. Lauknya katering enak-enak,” klaimnya. Untuk satu sel tahanan diisi 4 napi perempuan.

Terpisah, Sumatera Ekspres juga membesuk napi ke Lapas Kelas II A Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir (OI). Di lapas itu, pemeriksaan dan penjagaan tak kalah ketat. Di depan pintu masuk pertama terpampang jelas “Tidak menerima titipan apapun”.

Menemani istri seorang napi, koran ini bertemu NM, tahanan narkoba. “Di sini, kunci sel dipegang napi bayar Rp5 ribu, kunci pintu 4 dijaga sipir bayar Rp10 ribu,” sebutnya.

Bayarnya nanti setelah dibesuk. Kalau tidak bayar, jadi utang. Jika terlalu sering tidak akan diizinkan keluar.

Di Lapas ini pungli tergolong sedikit. “Tidak ada bilik asmara, padahal banyak napi yang minta tapi tak disetujui,” ujarnya. Sebenarnya dulu sempat ada, tapi ditutup karena khawatir bukan istri sendiri melainkan orang lain dibawa masuk.

NM sendiri menempati sel berpenghuni 20-an orang. “Tidurnya dempet-dempetan,” ujarnya. Di sini pun tak gratis, dia mengaku setiap Minggu napi bayar iuran Rp15 ribu ke napi kepala kamar.

Katanya, iuran itu untuk kebersihan, air, dan kebutuhan kamar. “Setiap pagi, napi ngantre ngambil air untuk minum di tedmond, dan rata-rata langsung minum, tak dimasak lagi.”

Soal Hp juga ketat dan dilarang. “Tapi banyak napi bawa Hp, kalau ketahuan disita. Jika tak mau disita, pintar-pintar kasih uang Rp50 ribu ke oknum sipir,” tandasnya. (tim)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Film G 30 S/PKI, Ternyata Adegan Penyiksaan Sudah Diperhalus


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler