Punya Pengalaman Pahit, Aliah Prihatin Teman-temannya Nekat Jadi TKI Ilegal

Minggu, 15 November 2015 – 04:47 WIB
Ilustrasi

jpnn.com - JAKARTA - Aliah masih belum bisa melupakan pengalaman pahitnya menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) secara ilegal. Sebab, saat dia menjadi TKI nonprosedural, berarti dia bekerja di luar negeri tanpa ada kepastian perlindungan dari tindak kekerasan majikan. Aliah juga terancam hukuman di negara tempatnya bekerja. Kini, Aliah pun kapok dan berjanji tak akan pernah mau menjadi TKI ilegal.

Tapi, penyesalan dan pengalaman pahit yang dia rasakan ternyata tidak diikuti para calon TKI yang masih nekat menempun cara ilegal. Dia merasa prihatin ketika beberapa orang yang dia kenal nekat berangkat kerja ke luar negeri tanpa melalui prosedur yang benar.

BACA JUGA: Informasi Soal WNI di Paris, Hubungi Nomor Ini

"TKI yang menempuh jalan secara non prosedural atau ilegal, sampai hari ini ternyata masih banyak. Hingga saat ini masih terjadi meskipun Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) terus melakukan berbagai langkah untuk mencegahnya. Padahal, mereka yang berangkat sebagai TKI secara non prosedural risikonya sangat tinggi, baik dari segi keamanan maupun kepastian perlindungan," demikian cerita Aliah, Sabtu (14/11).

Aliah pantas prihatin dan kesal. Sebab dia punya pengalaman pahit karena diberangkatkan secara nonprosedural oleh calo, dan diancam oleh calo akan diminta denda kalau dia tidak menyelesaikan kontrak kerjanya sebagai TKI.

BACA JUGA: Lagi, Kapal Berbendera Malaysia Ditangkap Mencuri Ikan

Warga Tangerang ini bekerja sebagai TKI di sektor rumah tangga atau lebih dikenal sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT) melalui mekanisme penempatan nonprosedural ke Dubai.

Dia bekerja selama enam bulan dan dipulangkan melalui mekanisme pemulangan TKI bermasalah (TKI-B) yang diawaki Perwakilan Republik Indonesia, di Dubai.

BACA JUGA: Menteri Yuddy Beri Perhatian Khusus ke Kota Tanjung Pinang, Ada Apa?

Yang Aliah merasa kesal saat ini adalah para calon TKI (keberatan menyebutkan nama) yang tidak mau menyadari adanya resiko besar kalau mereka nekad bekerja keluar negeri tanpa prosedur yang benar.

"Kalau mereka memilih menggunakan calo dari pada mengurus secara resmi (melalui Dinas Tenaga Kerja atau  BP3TKI) ya jangan menyalahkan pemerintah kalau terjadi apa apa, saya sudah beritahu dan mencontohkan diri saya sendiri yang pernah mengalami kesengsaraan di luar negeri namun mereka bilang, kalau tidak jadi TKI mau makan apa?," tutur Aliah dengan kesal.

Aliah menceritakan ada empat orang yang sudah di Dubai. Tapi, baru 3 bulan kerja sekarang sudah minta pulang ke Inonesia. Mereka berangkat tidak melalui prosedur yang benar (melalui calo/sponsor).

Sementara itu, kepala Bagian Humas BNP2TKI Haryanto mengatakan, meskipun sulit untuk melakukan pencegahanya karena tidak adanya kesadaran calon TKI, namun BNP2TKI tetap melakukan upaya untuk tidak melakukan pencegahan. Misalnya melalui sosialisasi yang dibarengi dengan penegakan hukum.

"Selama ini BNP2TKI telah melakukan banyak hal, salah satunya tindakan penangkapan terhadap pihak yang memperdaya calon TKI dan diteruskan dalam penyelesaian hukum, lalu sudah banyak juga yang dijatuhi hukuman, meskipun demikian kondisi seperti yang dikawatirkan oleh Aliah itu akan berakhir kalau Calon TKI ini memiliki kesadaran yang tinggi bahwa bekerja di luar negeri itu harus melalui prosedur yang benar," ungkap Haryanto. (mas/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jangan Sampai Kejaksaan Agung Lakukan Kegaduhan Politik


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler