Raih Perunggu OSN 2019, Siswa SMP Cahaya Rancamaya Juarai IJSO Qatar

Selasa, 17 Desember 2019 – 18:09 WIB
Muhammad Adyan Dafi diapit GM Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School (kiri) dan Kepsek SMP Cahaya Rancamaya (kanan). Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com, BOGOR - Siapa yang menyangka, Muhammad Adyan Dafi peraih perunggu di Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2019, malah bisa melejit di ajang internasional.

Siswa kelas IX SMP Cahaya Rancamaya Bogor itu bahkan bisa mengalahkan para peraih medali emas dan perak OSN 2019, sehingga dipilih mewakili tim pelajar Indonesia di International Junior Science Olympiad (IJSO).

BACA JUGA: Siswa Berprestasi di OSN Boleh Pilih SMP yang Disukai Tanpa Tes

Dalam ajang IJSO 2019 yang berlangsung pada 3-12 Desember di Doha, Qatar dan diikuti 70 negara, Muhammad Adyan Dafi, berhasil mengharumkan nama Indonesia. Bersama lima kawannya, tim pelajar Indonesia menyumbang 6 medali yaitu lima perak dan satu perunggu.

Dafi yang dalam OSN hanya meraih perunggu, di IJSO bisa menyumbang perak. Namun, capaian ini tidak membuat remaja kelahiran Palangkaraya, 16 Februari 2005 puas. Kegembiraannya tidak 100 persen karena tadinya dia dan timnya menargetkan emas.

BACA JUGA: Risma Sebut Jumlah Siswa Berprestasi di Surabaya Meningkat

"Senang sih senang, cuma enggak terlalu. Saya sedih juga karena dua tahun Indonesia belum meraih emas di IJSO," kata Dafi yang ditemui di sekolahnya, Senin (16/12).

Dia menceritakan, muasal bisa ikut olimpiade sains. Anak kedua dari dua bersaudara ini sejak SD sudah tertarik dengan sains. Apa lagi kakaknya juga juara olimpiade sains.

Dafi mengaku sejak kelas tiga SD, sudah diikutkan orangtuanya ke bimbingan belajar. Namun, kelas lima SD, Dafi ikut bimbel khusus olimpiade. Sebagai bahan belajarnya, remaja yang kurang suka dengan pelajaran bahasa ini menggunakan soal-soal olimpiade kakaknya.

Hasilnya tidak sia-sia, siswa SDN 4 Menteng Palangkaraya ini meraih emas di OSN 2016 Palembang. Prestasi gemilang Dafi ini dilirik Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School yang menawarkan beasiswa full. Tawaran itu langsung disambut Dafi dan orang tuanya.

"Saya mau karena kalau di Palangkaraya, susah untuk mencari sekolah yang lebih bagus," ujarnya polos.

Dafi kecil pun hanya awalnya sedih karena berpisah dengan orang tuanya. Dia hanya bisa komunikasi dengan orang tuanya mulai Ashar sampai menjelang Maghrib menggunakan handphone jadul (bukan android). Setelah itu handphone disimpan pihak sekolah. Namun, setelah itu dia enjoy dan ingin eksis di bidang sains khususnya biologi.

Awal 2019, Dafi mengikuti seleksi Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) mewakili sekolah. Dua terpilih dan lolos ke tingkat provinsi. Namun, dalam OSN 2019 di Jogjakarta dia hanya meraih perunggu.

Kemudian, para peraih emas, perak, dan perunggu dalam OSN Jogja sebanyak 30 orang ini dilatih dua minggu di Bandung. Kemudian disaring menjadi 15 orang dan dilatih satu bulan. Disaring lagi menjadi enam orang dan dilatih 1,5 bulan di Kalibata.

Dia tidak menyangka, bisa masuk dalam enam orang pilihan itu. Apalagi saingannya banyak peraih emas dan perak. Dari enam pelajar yang terpilih hanya Dafi peraih perunggu. Lima lainnya adalah peraih emas OSN.

Saat menjalani training di Kalibata, Dafi sempat down karena nilainya jelek. Dia khawatir tidak akan terpilih mewakili tim pelajar Indonesia. Namun, kekhawatirannya tidak terbukti, dia tetap diutus ke Qatar.

"Alhamdulillah bisa sumbang perak. Tahun depan targetnya emas untuk Indonesia. Kami harus lebih tekun untuk bersaing dengan tim dari India dan China," ucap Dafi yang hafal empat juz Alquran ini.

Sejatinya Dafi bisa berkembang pesat karena gemblengan para pendidik di SMP Cahaya Rancamaya. Sekolah ini khusus mendampingi anak-anak yang bermental olimpiade.

Itu sebabnya sekolah ini selalu membidik siswa SD dan SMP pemenang olimpiade untuk diberikan beasiswa full. Menurut General Manager Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School Ari Rosandi SE MPd, anak-anak cerdas ini harus diberikan treatment yang tepat agar talent yang mereka miliki bisa berkembang.

Mestinya, kata Ari, pemerintah harus mendata anak-anak yang juara olimpiade setelah lomba melanjutkan sekolah ke mana. Dikhawatirkan, anak-anak cerdas itu malah sekolah ke luar negeri dan akhirnya menetap.

"Kami sudah mengambil sebagian kecil peran itu dengan mengajak mereka sekolah di sini. Kami biayai sekolahnya full dan dikembangkan bakatnya. Contohnya Dafi, yang rencananya akan lanjut ke SMA Cahaya Rancamaya karena pengin dapat emas di IJSO 2020. Persiapan mulai kami lakukan dengan memberikan training sepekan di Semarang," tuturnya.

SMP dan SMA Cahaya Rancamaya yang baru berusia lima tahun ini juga memberikan perhatian kepada anak keluarga tidak mampu. Dengan memberikan kuota 10-20 persen untuk anak-anak tidak mampu itu.

Namun, ada syarat yang harus dipenuhi. Di antaranya harus bisa hafal 17 juz Alquran, ada rekomendasi dari tokoh masyarakat, benar-benar dari keluarga miskin. Setelah lolos itu, mereka akan dites. Yang lulus tes akan diterima dan berhak mendapatkan beasiswa full sampai lulus. (esy/jpnn)

 

 


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler