Ramai-ramai Makan Butiran Hujan Es

Selasa, 12 Juni 2012 – 08:01 WIB

BOGOR- Selain puting beliung, hujan es juga melanda Bogor, kemarin. Sekitar pukul 15:00 WIB, hujan deras disertai petir dan angin kencang membuat warga Kecamatan Bogor Timur dan Bogor Selatan heboh. Pasalnya, hujan yang turun ternyata bercampur butiran es.

“Saya kaget, enggak biasanya bunyi hujan sekeras ini, pas dilihat keluar ternyata ada butiran-butiran es,” tutur Teh Nyai, panggilan akrab warga Gang Agus Tailor, Kelurahan Harjasari, Kecamatan Bogor Selatan, kepada Radar Bogor (Grup JPNN), kemarin.

Karena penasaran, warga pun rela berbasah ria untuk memungut satu per satu butiran es tersebut. Menurut Mius, warga lainnya, butiran es yang jatuh bersama air hujan bisa menyembuhkan penyakit batuk. “Kalau orang tua dulu sih bilangnya hujan es, kalau dimakan bisa nyembuhin batuk,” ujar ibu empat anak itu.

Setelah puluhan tahun, lanjut dia, hujan bercampur butiran es itu, baru kembali terjadi di Kota Bogor. Fenomena yang menghebohkan warga Tajur itu sontak membuat kagum warga setempat. “Dulu waktu saya masih kecil, pernah merasakan hujan es, setelah puluhan tahun baru hari ini (kemarin, red) terjadi lagi. Subhanallah,” pujinya.

Sementara itu, Rizky (5) putra Teh Nyai mencoba memakan butiran es itu, dengan harapan batuknya bisa sembuh.  Dengan polos, bocah yang baru masuk pendidikan usia dini (PAUD) itu mengikuti apa kata sang ibu. Dengan rasa malu dan takut Rizki pun mengikuti kemauan ibunya. “Dingin, ngga ada rasanya," ucapnya, polos.

Hal senada dikatakan Januar (24), warga Kampung Katulampa RT 05/9, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur. Ia mengatakan, awalnya tidak menyangka akan terjadi hujan es, karena cuaca tidak terlalu ekstrem. Apalagi, hujan terjadi hanya beberapa menit. “Sebelumnya cuman mendung seperti mau hujan biasa. Tiba-tiba saya mendengar suara berisik di atas genting. Pas saya lihat keluar, ternyata banyak gumpalan seperti es batu di jalanan,” terangnya.

Ukuran es yang jatuh tersebut sebesar batu kerikil namun dalam jumlah yang cukup banyak. “Walaupun kecil, tapi kalau kena esnya lumayan sakit,” candanya.

Dirinya menyebutkan, sebagian besar warga yang mengetahui adanya hujan es memilih berdiam di dalam rumah dan menyaksikan fenomena tersebut dari dalam. Namun, tidak sedikit juga warga yang sengaja keluar rumah untuk mengambil butiran-butiran es tersebut.

Terpisah,  petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dramaga,  Djabariah mengatakan, fenomena hujan es terjadi melalui proses hail dan riming, yaitu terjadinya kenaikan molekul air dari tanah ke udara dalam waktu cepat. “Kenaikan uap air secara cepat itu yang menimbulkan awan konduktif,” ujar petugas prakiraan cuaca Stasiun Klimatologi Dramaga, Djabariah.

Menurut Djabariah, titik pembekuan (freezing) tersebut bisa mencapai temperatur -40 hingga -55 derajat Celcius. Kenaikan uap air juga terjadi dengan kecepatan mencapai 40 km per jam. “Sementara pada proses riming, uap air lewat dingin tertarik ke permukaan benih-benih es. Pada proses ini, bentukan es bervariasi. Bisa kecil-kecil hingga mencapai sebesar kuku tangan. Namun tetap berpotensi mengganggu,” jelasnya.

Kendati demikian, Djabariah sendiri menambahkan bahwa cuaca ekstrem seperti ini dapat dikenali secara kasatmata atau dirasakan. “Biasanya bila akan terjadi cuaca ekstrem seperti ini, dimulai dengan panas terik di siang hari dan berubah secara drastis. Cuaca gelap dan pembentukan awan hujan cepat terbentuk,” tambahnya. (cr7/yan/sdk)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Birokrasi Jangan Persulit Orang Sakit


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler