Ramalan Banjaran soal Ekonomi Syariah di Masa Depan, Bikin Kaget

Jumat, 20 Agustus 2021 – 15:51 WIB
Chief of Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menyebut ekonomi syariah adalah tata kelola keuangan di masa depan. Foto: Ricardo/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Chief of Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menyebut ekonomi syariah adalah tata kelola keuangan di masa depan.

Banjaran menyebut ekonomi syariah akan sangat dibutuhkan masyarakat.

BACA JUGA: Gubernur BI Paparkan Tiga Langkah Mengembangkan Literasi Ekonomi Syariah

Menurut dia, ekonomi syariah telah menjabarkan banyak hal tentang filter untuk segala sesuatu yang bersifat memberikan negative externalities, dampak buruk kepada lingkungan dan masyarakat.

"Syariah sudah berbicara ini kebutuhan ekonomi yang ada itu difilter dengan filter syariah,” kata Banjaran saat Regional Media Workshop secara daring di Jakarta, Jumat (20/8).

BACA JUGA: LPKR dan LPCK Resmi Masuk Daftar Efek Syariah

Dia juga mengatakan berdasarkan hasil survei Deloitte, Accenture, perbankan syariah memiliki potensi yang sangat besar dan bertumbuh.

Potensi tersebut didorong atas tren permintaan pasar yang lebih mendukung sustainabilty, di mana aspek environment, social, dan governance dipertimbangkan.

BACA JUGA: Kapitalisasi Pasar Saham Syariah Indonesia Mencapai Rp 3.372,2 Triliun, Tetapi...

“Bank Syariah dinilai menjadi representasi dari sistem keuangan yang pro sustainability,” ujarnya.

Banjaran menuturkan sebanyak 71 responden mengatakan mereka memilih bank atau credit unio yang memiliki dampak lingkungan dan sosial yang positif.

Lalu sebanyak 74 persen responden menegaskan bahwa investasi bank mereka membuat uang mereka lebih etis.

Serta 60 persen responden lebih memilih perbankan yang ramah lingkungan, berkelanjutan atau etis sejak awal pandemi dimulai.

“Keberadaan portofolio produk dan layanan yang sharia-compliant di setiap lembaga keuangan saat ini menjadi penting untuk memberikan opsi investasi yang berbeda dan lebih baik,” jelas Banjaran.

Banjaran menilai terkait penetrasi industri syariah di Indonesia yang masih rendah di level 6,48 persen.

Menurutnya, justru menjadi sangat menarik karena berarti masih banyak potensi syariah yang bisa dikembangkan.

“Kalau kita lihat CAGR-nya (the Compound Annual Growth Rate) perbankan syariah itu tumbuh dua kali lipat dari konvensional,” ungkap dia.

Banjaran menyebut jika penetrasi perbankan syariah di Indonesia bisa menyamai penetrasi di Malaysia.

Bahkan, kata dia, market size perbankan syariah di Indonesia akan tumbuh enam kali lipat.

“Tantangan ke depan bagaimana perbankan syariah itu bisa relevan untuk mendukung perubahan dari society berbasis tabungan kepada kepada society yang berbasis investasi,” papar Banjaran. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler