Ratusan Perwira TNI dan Polri dapat Pembekalan dari Kepala BPIP hingga Deputi

Senin, 09 Oktober 2023 – 20:29 WIB
Ratusan Perwira Siswa (Pasis) Sesko TNI mendapatkan pembekalan dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D.di Markas Komando Sesko TNI, Bandung, Senin (9/10). Foto: dok BPIP

jpnn.com, JAKARTA - Ratusan Perwira Siswa (Pasis) Sesko TNI mendapatkan pembekalan dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D.di Markas Komando Sesko TNI, Bandung, Senin (9/10).

Di hadapan 159 Perwira Menengah TNI dan Polri, Yudan menyampaikan bahwa Pancasila menghadapi tantangan serius jika tidak dijaga.

BACA JUGA: Kepala BPIP Ikut Menyaksikan Megawati Dianugerahi Doktor Kehormatan dari UTAR Malaysia

Oleh karena itu, Yudan mengatakan Bangsa Indonesia harus memahami sejarah perjuangan dan perjalanan bangsanya agar dapat memaknai dan menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang hakiki.

“Tanpa sadar, kita menghadapi tantangan eksternal yg luar biasa. Tanpa sadar kita telah memasuki fase kaburnya sejarah. Ini perlu kita antisipasi”, ungkapnya.

BACA JUGA: Kunker ke PLBN, Kepala BPIP Komitmen Perkuat Ideologi Pancasila di Perbatasan Negara

Santri lulusan Harvard Law School itu menuturkan ada hal krusial pascareformasi 1998, di antaranya, hilangnya mata ajar Pancasila dan BP7 dibubarkan. 

Hal ini yang menjadi pemicu lost generation terhadap ideologi Pancasila selama hampir 20 tahun lebih.

BACA JUGA: BPIP Dorong Mahasiswa jadi Garda Terdepan Implementasikan Nilai Pancasila

“Sehingga Pancasila praksis menjadi tafsir bebas anak-anak kita. Sehingga Pancasila menjadi asing di negeri kita sendiri. Padahal Pancasila telah digaung-gaungkan Bung Karno jauh lebih lama”, tuturnya.

Yudian meminta kepada para Perwira, pemahaman suatu bangsa terhadap sejarah bangsanya mutlak dipahami. 

Di tengah situasi serba tidak mungkin itulah Bangsa Indonesia proklamasi. 

"Di tengah Perang Dunia II, kalah teknologi militernya, dan waktunya hanya 59 detik. Apa hasilnya? Hasilnya proklamasi kita di bawah Pancasila berhasil mempersatukan”, jelas Yudian. 

Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan BPIP Tonny Agung Arifianto, S.E., M.A.B. memaparkan BPIP terus berupaya mengembalikan Pancasila agar dibahas dan dipelajari kembali, di ruang-ruang formal, nonformal, maupun informal.

Dirinya mengaku saat ini Mata Ajar Pendidikan Pancasila akan diberikan kembali kepada para siswa PAUD hingga Perguruan Tinggi setelah 20 tahun lost generations.

Sebagai langkah konkret, BPIP melakukan suatu pengkajian dan penilaian bahwa moral berasal dari pendidikan. 

"Alhamdulilah bersama Kemenristekdikbud, lahir PP 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengembalikan Pancasila sebagai mata ajar wajib”, ungkap Tonny.

Dirinya menambahkan, mata ajar Pendidikan Pancasila akan mulai berlaku tahun ajaran 2023-2024 pada semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi.

"Pendidikannya seperti apa? Konsep yg dibangun, belajar dari mulai sejarah. Komposisi 30 persen kognitif, 70 persennya psikomotorik dan afektif, bentuk Pancasila dalam tindakan. Karena Pancasila bukan hapalan, melainkan implementasi atau tindakan”, tambahnya.

BPIP juga akan mengadakan sertifikasi pengajar Pancasila yang akan bertugas kepada kelompok-kelompok masyarakat di seluruh penjuru negeri. 

“Kalau dulu ada Manggala. Kita sekarang, dalam waktu yang tidak lama, akan ada sertifikasi pengajar Pancasila yg namanya adalah Maheswara artinya, orang yang berbudi pekerti luhur”, ungkapnya.

Tonny menjelaskan ada klasifikasi bagi para pengajar dan fasilitator Diklat PIP. 

Termasuk membuka peluang kepada para perwira TNI dan Polri untuk dapat menjadi pengajar Pendidikan Pancasila melalui program sertifikasi tersebut.

Klasifikasi pengajar diklat PIP ada clusternya. Dasar, menengah, dan utama. 

Bedanya penceramah dan pengajar adalah kapasitas berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan jabatannya.

"Penceramah untuk penguatan PIP yang terdiri dari orsospol, ormas, perguruan tinggi, komunitas, dan perorangan. Sementara pengajar merupakan para TNI, Polri, ASN”, jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Ir. Prakoso menuturkan TNI dan Kepolisian merupakan tulang punggung dalam menjaga teritorial Indonesia.

Dirinya mengajak para perwira untuk menyadari bahwa Negara Indonesia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus selalu dipertahankan dengan persatuan dan kesatuan.

“Kita bersama-sama di sini untuk menjaga hati. Di sini harus ada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika”, tuturnya.

Hal tersebut ditanggapi Komandan Sesko TNI, Marsekal Madya TNI Samsul Rizal, S.I.P., M.Tr. (Han.).

Prakoso meminta agar BPIP dapat memberi pembekalan kepada para perwira dan anggota TNI, khususnya anggota yang bertugas di teritori Indonesia.

BPIP dapat masuk ke TNI untuk memberikan tugas kepada perwira atau anggota di teritorial untuk menjadi ujung tombak dalam sosialisasi kepada masyarakat. 

"Di mana anggota di teritori bersentuhan langsung dengan masyarakat”, pintanya.

Prakoso juga meminta agar BPIP dapat selalu berkontribusi dalam program serupa kepada para TNI.

“Kami melihat antusiasme para Pasis begitu tinggi karena kita punya semangat yg sama. Tentu, akan kita teruskan karena ini sangat penting”, ungkapnya. 

Selain dari Indonesia, terdapat juga Perwira Angkatan Bersenjata negara sahabat, seperti Singapura, India, Pakistan, dan Australia. (jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler