Realisasi Investasi Tembus Rp 395 Triliun, PMA Masih Lambat

Kamis, 01 Agustus 2019 – 01:30 WIB
Ilustrasi rupiah dan dolar. Foto: JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi pada semester kedua 2019 naik 9,4 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Berdasar data BPKM, total realisasi investasi periode Januari hingga Juni 2019 mencapai Rp 395,6 triliun.

BACA JUGA: Kepercayaan Investor Pulih, Realisasi Investasi Tembus Rp 395 Triliun

Angka itu terdiri atas realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 182,8 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebanyak Rp 212,8 triliun.

BACA JUGA: Kepercayaan Investor Pulih, Realisasi Investasi Tembus Rp 395 Triliun

BACA JUGA: Jokowi Nilai Perlu Ada Menteri Investasi dan Ekspor

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, realisasi investasi tersebut melebihi ekspektasi lantaran pilpres berjalan kondusif sehingga menjadi salah satu faktor investor tidak ragu untuk menanamkan dana di Indonesia.

”PMA masih berjalan cukup lambat.  Berbeda dengan PMDN, ada proyek-proyek yang dikerjakan oleh BUMN, bisa menjadi penopang. PMA seharusnya lebih tinggi lagi dengan adanya insentif fiskal,” ujarnya, Selasa (30/7).

BACA JUGA: Kadin Nilai Realisasi Investasi Rp 792 Triliun Sulit Tercapai

Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi pendorong stabilnya iklim investasi di Indonesia.

Sementara itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani Indrawati menguraikan, kondisi sistem keuangan Indonesia masih terjaga.

Hal tersebut ditopang industri perbankan yang tetap sehat dan pasar keuangan yang kondusif.

”Selain itu, juga kenaikan imbal hasil investasi portofolio dan aset keuangan domestik serta membaiknya persepsi terhadap prospek ekonomi seiring peningkatan rating Indonesia,” papar Sri.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu melanjutkan, berbagai perkembangan positif tersebut mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia.

Hal itu berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah dan meningkatkan kinerja pasar obligasi serta pasar saham.

Meski demikian, KSSK tetap mewaspadai beberapa perkembangan eksternal dan domestik.

Dari eksternal, salah satunya adalah berlanjutnya ketegangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. (vir/ken/c11/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jokowi: Sekarang Perizinan Bisa Diurus dengan Cepat


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler