Revitalisasi Sejarah, Dimulai dari Anak-Anak Muda

Sabtu, 26 Mei 2012 – 15:01 WIB

Sejarah memang membosankan. Sejarah itu masa lalu, kuno, dan konsumsi orang-orang beruban saja. Sejarah itu hanya ada di literatur, kitab-kitab jadul, dan tersimpan di gedung museum yang kotor dan horor penuh hantu. Sejarah itu jauh dari komunitas anak-anak muda yang trendi dan gaul. Setidaknya itulah asumsi awam. Tetapi, tidak buat Taiwan!

Mereka sukses merevitalisasi sejarah masa silam menjadi “sesuatu banget”  dan anak muda sekali. Bagaimana bisa? Itu yang perlu kita copy paste, agar anak-anak muda kita tidak semakin kehilangan akar sejarah. Saya sempat mengunjungi beberapa objek-objek wisata berbasis sejarah.

jpnn.com - Dari Benteng San Domingo yang dibangun era pendudukan Spanyol 1629, Benteng Hobe atau Huwei yang dibangun era Dinasti Qing 1880, bangunan Chiang Kai Shek Memmorial Park di pusat kota Taipei, hingga puncaknya di National Palace Museum, salah satu museum seni yang paling tersohor di Taiwan dan memiliki 677.687 koleksi barang peninggalan kekaisaran China.

:TERKAIT Semula saya juga agak sewot, mengapa masuk museum saja tidak boleh membawa kamera, tidak boleh berisik atau berbicara keras-keras, tidak boleh menjepret pakai HP, tidak boleh pegang ini itu, dan terlalu banyak larangan! Seperti mau nonton mummi di Pyramide, Mesir saja. Saya sempat ngambek, dan memutuskan untuk ogah mengikuti tur itu. Bahasanya mantan Presiden Soeharto, “Gak masuk gak patheken!” (Tidak masuk tidak jadi soal, red).

Tapi, niat saya itu tiba-tiba harus saya urungkan. Pertama, saya heran seribu heran, mengapa yang masuk kok banyak anak-anak muda? Yang modis-modis? Kedua, jumlah pengantrenya kok makin panjang? Apa sih, kok anak-anak muda begitu antusias? Ketiga, saya tertarik dengan si guide, perempuan Tionghoa, muda dan suaranya enak di dengar melalui earphone yang sudah dibagikan satu-satu. Apalagi dia memperkenalkan diri sebagai tenaga volunteer, menjadi pemandu informasi seputar artefak yang berhasil dikoleksi museum itu.

Perempuan berambut lurus itu sangat lincah menjelaskan aneka barang dan memperkaya dengan foto-foto di I-Pad warna putih yang dia tenteng. “Saya sebenarnya seorang banker, saya kerja di perbankan, karena itu kalau nanti ada pertanyaan yang saya tidak bisa menjawabnya, saya minta maaf, saya akan cari tahu dan berusaha menjelaskan dengan sebaik-baiknya,” akunya, jujur.

Pikiran saya langsung melayang ke Monumen Nasional Jakarta, Monumen Ronggowarsito di Solo, Keraton Jogjakarta, Keraton Surakarta, Museum Radyopustoko, Museum Sangiran di Sragen, Candi Borobudur Magelang, Candi Prambanan perbatasan Jogja-Klaten, dan masih banyak museum lain.

Mengapa tidak pernah terpikir, pengelola museum itu merekrut orang-orang professional, yang cantik, yang suaranya bagus, yang performance-nya keren, yang muda, yang  serba wow? Paling tidak, yang sudah dilakukan di museum yang didesain Huang Baoyu dan konstruksinya dibangun pada Maret 1964 sampai Agustus 1965 itu sudah “mengubah pikiran” saya.

Terus terang, saya tidak terlalu hirau dengan koleksi karya umat manusia yang sudah dibuat sejak zaman 2.500 tahun sebelum masehi, zaman perunggu, zaman batu, zaman keramik, zaman kertas, dan zaman kaligrafi itu. Saya lebih terkesan oleh cara mereka mengemas dan “menjual” museum itu sehingga menjadi lima besar museum yang paling banyak dikunjungi orang di seluruh dunia itu.

Lantainya dibuat dari kayu coklat tua yang menjaga suhu tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu panas. Lighting yang tidak terlalu terang, juga tidak terlalu gelap, dengan lampu putih yang menyorot ke barang-barang bernilai budaya tinggi itu. Jarak antara barang yang satu dengan lainnya dibuat sangat ideal, berurutan dan seperti sudah bercerita sendiri.

Kombinasi desain interior, desain dinding yang menyesuaikan koleksi yang ditampilkan. Di dinding itu sudah dijelaskan nama, proses pembuatan, dan histori pembuatan dengan multimedia yang canggih. Display melalui LED menambah kuat kesan barang-barang yang dipamerkan itu betul-betul tak ternilai harganya. Ada beberapa gemstones, karya seni ukir dari coral (karang laut) yang amat detail, kecil-kecil, bercerita dan harus diteropong dengan kaca pembesar.

Kesimpulan saya: “perfect!”  Kemasan bagus, desain bagus, presentasi bagus, tempat bagus, bersih, tidak horor, tidak bau, tidak jorok, dan seolah membawa imajinasi kita pada tempo dulu yang sangat sempurna. Pantes saja, museum menjadi objek wisata yang bisa diandalkan di Taipei.

Hal yang sama juga terjadi di museum Chiang Kai Shek. Anda tidak perlu pusing-pusing menuju ke kompleks yang didesain Yang Cho-cheng itu. Sangat mudah  ditempuh dengan MRT (kereta bawah tanah, red). Keluar stasiun CKS Memorial Park, langsung sudah berada di salah satu sudut taman peninggalan tokoh pendiri Taiwan yang berdiri 31 Oktober 1976 itu. Kesan saya sama, terawat, termanaj, tertata dengan sangat rapi dan bersih. Termasuk koleksi sedan Cadilac hitamnya yang masih gagah.

Sangat strategis, di dalam kota. Ada tiga bangunan besar, dan di kubah yang paling menjulang, dengan 89 anak tangga, dan 76 meter itulah patung perunggu Chiang Kai Shek duduk sambil mengumbar senyum. Mirip dengan patung yang dibangun Pemerintah China di sebuah bukit di Nanjing, Provinsi Jiangsu. Untuk menuju ke dome utama itu pengunjung harus menaiki lebih dari 300 anak tangga.

Bangunan kuno seperti yang dipamerkan di San Domingo itu misalnya.  Di Indonesia, jumlahnya tak terhitung dengan jari. Ratusan, dan setiap kota yang pernah diduduki tentara Belanda, pasti punya peninggalan bangunan dengan arsitektural Eropa itu. Pilarnya melengkung-melengkung, simetris kiri dan kanan, ukuran tiangnya besar-besar, dan dibangun di kawasan yang strategis atau mengambil view yang indah. Indonesia adalah negara heritage, yang seharusnya tidak kalah dengan Taiwan, jika terkelola dengan baik.

Begitupun benteng pertahanan Hobe, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari San Domingo itu. Kita kaya akan benteng peninggalan Belanda, di semua kota strategis di Indonesia. Tapi, hampir semua tidak terawat dengan menyenangkan. Hampir semuanya tidak memikat anak-anak muda, sehingga ada atau tidak adanya bangunan itu seperti tidak berdampak apapun terhadap kecintaan pada sejarah. Lalu apa yang sudah dilakukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif? Ah, pasti sudah dipikirkan! (*)


BACA ARTIKEL LAINNYA... Merangkul Oposisi! Ajak Kerja, Kerja Kerja!

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler