Ribuan Selebaran Serang Jokowi Beredar di Tambora

Kamis, 07 Juni 2012 – 20:40 WIB
Ribuan selebaran gelap yang menyudutkan calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ditemukan tim Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) di kawasan Tambora, Jakarta Barat. Selanjutnya selebaran itu diserahkan kepada Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI. Foto: Fery Pradolo/INDOPOS/JPNN

JAKARTA - Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) menemukan kurang lebih 2000 lembar selebaran kampanye negatif yang menyerang calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Menurut KIPP, selebaran ini tersebar di wilayah Tambora, Jakarta Barat.
 
Menurut Ketua KIPP, Wahyudinata, selebaran tesebut dibagikan oleh seorang anak kecil kepada pedagang dengan dalih untuk digunakan sebagai pembungkus makanan kecil. KIPP menilai selebaran ini meresahkan karena disebarkan di wilayah yang rawan konflik.
 
"Dibagikan kepada  pedagang kecil dengan alasan untuk membungkus makanan kecil oleh anak kecil. Tambora itu daerah padat rawan konflik," ujar Wahyudinata kepada wartawan di kantor Panwaslu DKI Jakarta, Kamis (7/6).
 
Oleh KIPP, dugaan kampanye hitam terhadap Jokowi tersebut dilaporkan kepada Panwaslu Provinsi DKI Jakarta. Mereka meminta Panwaslu menindaklanjuti temuan tersebut dan menginvestigasi dalang di balik penyebaran selebaran tersebut.
 
"Kami minta Panwaslu DKI untuk menginvestigasi dalang dibalik penyebaran selebaran yang dimaksud agar tidak jadi keresahan dimasyarakat," kata Wahyudinata.
 
Selebaran temuan KPPI berjudul "Cerita Baik Tentang Solo Ternyata Kenyataannya Buruk" tersebut berisi kutipan dari sejumlah artikel yang diambil dari internet lengkap dengan tautannya. Artikel yang dimuat dalam selebaran menyebutkan soal kabar negatif mengenai Jokowi. Di antaranya, mengenai kota Solo yang tiap tahun mengalami banjir pada bulan Januari lalu. Ada juga artikel mengenai kota Solo yang hanya memiliki  559.318 penduduk  tetapi bermasalah dengan kemacetan.
 
Pada kesempatan tersebut, Wahyudinata juga menyoroti sejumlah aktivitas tim sukses para pasangan calon yang bersosialisasi dengan cara-cara yang dinilai tidak baik. Wahyu menyebut masing-masing tim sukses pasangan calon memiliki spesialisasi tersendiri dalam melakukan kampanye negatif.
 
"Kami prihatin dengan munculnya pasangan calon yang muncul dengan spesialisasinya sendiri-sendiri. Ada yang spesialis merusak pohon, spesialis mengotori tembok, spesialis mobil hias, spesialis 'bayar' relawan, dan belakangan ini muncul spesialis menyerang calon lainya," pungkas Wahyudianata. (dil/jpnn)


BACA ARTIKEL LAINNYA... Nara Berdoa Penuding DPT Bermasalah Diampuni Dosanya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler