Ritual Potong Rambut Gimbal Tutup Festival Dieng 2017

Selasa, 08 Agustus 2017 – 11:55 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memotong rambunt gimbal seorang bocah dalam acara puncak Dieng Culture Festival 2017. Foto; Radar Banyumas

jpnn.com, DIENG - Puncak Dieng Culture Festival (DCF) 2017 sukses menarik minat wisatawan mancanegara dan nusantara. Gelaran iru berakhir dengan ritual potong rambut sembilan anak berambut gimbal (gembel) di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu, (6/8).

Sebelum memulai ritual pemotongan rambut gimbal, sembilan bocah gembel melakukan kirab dari rumah pemangku adat sampai di Candi Arjuna. Selanjutnya, para bocah terlebih dahulu dijamas atau dimandikan dengan air dari tujuh sumur di Dieng.

BACA JUGA: Nasi Goreng dan Sate Ayam Laris Manis di Rusia

Terdapat bermacam-macam permintaan para bocah gembel itu. Permintaan ini wajib dipenuhi sebagai syarat ritual sakral masyarakat Dieng. Kalau permintaan anak berambut gembel tidak dipenuhi, diyakini rambut gembel itu bakal tumbuh kembali. 

Anak-anak tersebut meminta kambing, buah-buahan, es krim, sepeda, sampai komputer tablet . Permintaan paling sederhana datang dari Nur Aminatun (6) asal Brebes. 

BACA JUGA: Menpar Arief Yahya Launching Lampung Krakatau Festival 2017

Dia meminta jajanan Chiki dari warung tetangga di rumah. Salah satu anak bernama Zavira (6) mempunyai permintaan paling mahal. Gadis kecil asal Indramayu itu, minta sapi dua ekor, masing-masing dengan bobot satu ton. 

Selain ruwatan massal, DCF 2017 juga menggelar konser musisi kondang Katon Bagaskara dan acara seromial melepas  lebih dari 4.000 lampion. Perpaduan konser musik dan acar lepas lampion sukses menghipnotis ribuan pengunjung di kawasan Candi Arjuna, Banjarnegara, Jawa Tengah.

BACA JUGA: FGD Mandalika di Mataram Hasilkan 12 Rekomendasi Penting

DCF 2017 berlangsung 3 hari mulai dari 3-6 Agustus 2017 mengambil tema perpaduan antara musik modern, anak-muda, dan lawas , semua melebur menjadi satu.  

Selain pertunjukan musik, panitia menggelar pertunjukan tradisi seperti tari tradisional dan Festival Caping. Wisatawan mancanegara serta nusantara dari berbagai daerah terus memadati area acara. Sejumlah tempat penginapan sudah penuh terisi selama DCF 2017.

Pada sore hari jelang acara, masyarakat beserta wisatawan mulai memadati pusat tempat acara. Mereka menyusuri sepanjang Jalan Raya Dieng kemudian berkumpul masuk ke pintu masuk dan kawasan sekitar panggung utama dekat Candi Arjuna. 

DCF 2017 dimulai dengan festival lomba melukis caping atau topi tradisional petani. Ratusan peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan ini. 

Sementara di panggung utama diisi penampilan kesenian serta tari dari berbagai komunitas.  Pada malam hari ribuan wisatawan menyemut dan berkumpul ke panggung utama. Dari area tamu VIP, panitia menyediakan penghangat bara dan jagung bakal untuk melengkapi suasana saat menonton Jazz di atas awan. 

“Selamat dan sukses buat Dieng Culture Festival (DCF) 2017. Semoga ke depan selalu memberikan hiburan yang lebih baik,” ucap Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta.

Sejumlah pejabat penting turut hadir mengikuti rangkaian ritual DCF tahun ini. Ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranoto, Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono, 20 pasang raja dan ratu dari sejumlah kerajaan di nusantara, serta Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Rekho Astuti yang didampingi Kepala Bidang (Kabid) Promosi Wisata Budaya Wawan Gunawan.

Menurut Esthy, Kemenpar melalui Asdep Pengembangan Pasar Personal, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara mendukung DCF 2017 karena terbukti mampu menjaring wisatawan terutama wisnus dalam jumlah besar dan juga wisman.

“Kemenpar sudah beberapa kali mendukung DCF. Even ini sudah termanage dengan baik, dengan membuat paket-paket. Seperti pak Menteri Arief Yahya bilang, harus dipromosikan dengan baik, nyatanya selama tiga hari hampir 200 ribu pengunjung, dengan  semula hanya menargetkan 120 ribu,” papar Esthy.

“Terkait festival yang diinsiasi oleh komunitas Pokdarwis, warga lokal dan mengangkat budaya lokal dengan kemasan menarik dan layak jual,” terang Esthy. 

Kesuksesan DCF 2017 tidak luput dari pelestarian budaya dari masyarakat  dalam rangkaian festival budaya yang sangat ekspresif. Esthy mengatakan gelaran budaya diprakarsai oleh Pokdarwis ini bisa menjadi triger bagi daerah-daerah lain

"Para komunitas, warga dan pemerintah daerah sangat komitmen untuk melestarikan budaya dan memanfaatkan keindahan alam, ditambah dengan menampilkan atraksi budaya menarik. Semoga DCF ini bisa jadi contoh bagi daerah lain," kata Esthy yang diamini Wawan. 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pariwisata atas dukungan kegiatan pariwisata di Dieng, terutama DCF 2017  "Saya ucapkan terima kasih kepada Kemenpar yang telah banyak membantu selama ini. Saya juga ucapkan terima kasih atas kehadiran kawan-kawan semua di sini.” 

“Sangat menyenangkan buat kami, kalau panitia bisa register siapa saja yang datang kali ini, tahun depan akan kita undang. Agar lebih bisa menghormati sesama friend," ucap Ganjar yang sempat berkolaborasi dengan Katon Bagaskara.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 5 Atraksi Pesona Aspal Hitam di Festival Budaya Kota Tua Buton


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Kemenpar   Arief Yahya   Dieng  

Terpopuler