Rizal Ramli Beri Rapor Merah untuk Capaian Ekonomi Indonesia, Sentil Sri Mulyani

Sabtu, 26 Desember 2020 – 20:32 WIB
Rizal Ramli membela Anies Baswedan. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ekonom senior Rizal Ramli memberikan rapor merah terhadap capaian ekonomi Indonesia tahun 2020.

Selain faktor eksternal berupa pandemi Covid-19, rapor merah itu tidak terlepas dari faktor internal di jajaran kabinet Indonesia Maju.

BACA JUGA: Kritik Tajam Rizal Ramli Terkait Siasat Jokowi dalam Membayar Utang Luar Negeri

Terkait faktor internal, Rizal menyinggung kesemrawutan kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Satu di antaranya terkait dengan utang.

Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu mengungkapkan, Sri Mulyani memberikan keuntungan kepada kreditor dengan membuat bunga utang yang cukup tinggi.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Agus Dikirim ke Akhirat, Gus Yaqut Langsung Bicara, Ya Ampun, Syiah

"Misalnya, di bank ada yang mau pinjam kredit (bunga) pinjamannya 15 persen. Para pengusaha datang ajukan kredit, mereka negosiasi jangan 15 persen tetapi 12-13 persen. Tetapi ada satu negara yang datang mau bayar bunga 17-18 persen, dua persen lebih mahal dari pasar selama sepuluh tahun," beber Rizal Ramli dalam keterangan resminya kepada awak media, Sabtu (26/12).

Kebijakan utang dengan bunga yang tinggi seperti itu, kata Rizal Ramli, tidak dilakukan oleh negara tetangga seperti Singapura hingga Jepang dan China.

BACA JUGA: Habib Rizieq Tetap Berdakwah di Rutan Polda Metro Jaya

"Jangan main-main. Perbedaan, selisih bunga dua persen saja selama sepuluh tahun. Misalnya pinjam sepuluh dolar, dua persennya itu tambahan bunganya itu sepertiganya. Siapa yang bayar? Rakyat," ujar Rizal Ramli yang juga mantan anggota tim panel bidang ekonomi PBB itu.

Selain itu, Rizal juga melihat kebijakan tax holiday bagi para pengusaha besar. Hal itu menurut dia justru membuat cekak penerimaan negara.

Sebagai buktinya, imbuh Rizal Ramli, tax ratio atau penerimaan pajak di awal tahun 2020 ini realisasinya tidak mencapai lebih dari 10 persen.

Angka itu jauh tertinggal saat Rizal Ramli menjabat sebagai Menko Ekuin 20 tahun lalu. Ketika itu, pemerintah berhasil merealisasikan tax ratio hingga 11,5 persen dari GDP.

"Hari ini sebelum krisis (Covid-19) sepuluh persen. Dengan krisis ini penerimaan pajak bakal lebih anjlok lagi. Bahkan, bisa 60-65 persen dari target. Itu yang menjelaskan kita akan kesulitan cash flow. Penerimaan pajak anjlok, besar sekali," terang Rizal Ramli.

"Dia (Sri Mulyani) hanya berani dengan yang kecil-kecil, dan kedua dia pinjam-pinjam semakin susah. Makanya mulai pinjam melalui bilateral," lanjutnya.

Dari situ, mantan Menko Kemaritiman ini memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2021 masih akan sulit, bahkan lebih buruk dari krisis moneter tahun 1998.

"Semakin lama, ekonomi semakin terjerumus. Jokowi go down bersama dengan kinerja Sri Mulyani dalam kinerja keuangan," pungkas Rizal Ramli.(ast/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler