Rodrigo Duterte: Seperti Memicu Cacing Keluar dari Kaleng

Selasa, 20 September 2016 – 06:07 WIB
Rodrigo Duterte. Foto: AFP

jpnn.com - DAVAO - Kepala negara yang satu ini kian unjuk gigi memerangi narkoba. Dia menebalkan telinga, tak ambil pusing dengan protes dan kecaman dunia internasional atas program antikriminal dan kampanye antinarkoba yang dia galakkan.

Ya, Rodrigo Duterte, Presiden Filipina berusia 71 tahun itu pada Minggu (19/8) malam mengumumkan rencana untuk memperpanjang misi kontroversialnya tersebut. 

BACA JUGA: Ya Ampun, Tante Melissa Bakal Diadili karena Indehoi dengan Anak Sendiri

Dari satu semester alias enam bulan menjadi dua semester atau satu tahun. ”Saya tidak pernah menyadari betapa serius dan betapa parahnya kejahatan narkoba di republik ini sampai saya menjadi presiden,” kata Duterte dalam jumpa pers di sisi selatan Kota Davao. 

Dia menambahkan bahwa perang melawan narkoba yang dicanangkan sejak pelantikan dirinya sebagai presiden pada 30 Juni tidak akan bisa membasmi semua penjahat. Baik bandar maupun pengedar. Maka, dia berniat memperpanjangnya. 

BACA JUGA: 20 Ribu Tentara Filipina Bikin Abu Sayyaf cs Gentar

”Ini (perang antinarkoba) seperti memicu cacing keluar dari kaleng. Jadi, sepertinya perlu ada tambahan sedikit waktu. Mungkin sekitar enam bulan lagi,”  papar Duterte. 

Selain mereka yang terjun langsung dalam bisnis narkoba, presiden berjuluk The Punisher itu menyatakan bahwa banyak oknum yang terlibat tanpa berurusan langsung dengan barang haram tersebut. Di antaranya, pejabat pemerintah dan aparat penegak hukum. 

BACA JUGA: Ingat Ya, Pemerintah Bebaskan Tiga WNI Tanpa Uang Tebusan

”Ada terlalu banyak pihak yang terlibat di sana. Saya jelas tidak bisa membunuh mereka semua,” lanjut mantan wali kota Davao itu. Sejauh ini, perang antinarkoba yang berlaku nasional dan melibatkan death squad tersebut mengakibatkan sekitar 3.000 nyawa melayang. 

Sebagian besar tersangka maupun penjahat narkoba itu tidak tewas di tangan polisi, melainkan death squad. Itulah yang membuat Duterte panen kritik. 

Amerika Serikat (AS), PBB, dan parlemen Uni Eropa (UE) menyebut perang antinarkoba Duterte itu sebagai aksi main hakim sendiri. Apalagi, death squad yang ikut beraksi bak polisi lahir atas prakarsa Duterte saat masih menjadi wali kota Davao. Atas kritik dan kecaman yang mengarah kepadanya, pengganti Benigno Noynoy Aquino itu 'masa bodoh'. Dia maju terus dengan program andalannya. (afp/cnn/hep/c6/any/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... RESMI! Tiga WNI Dibebaskan Abu Sayyaf


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler