Rupiah Diprediksi Melorot ke Rp 13.700

Kamis, 05 Oktober 2017 – 07:41 WIB
Ilustrasi rupiah dan dolar. Foto: JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi kurs rupiah bisa menyentuh angka psikologis Rp 13.700 per dolar Amerika (USD).

”Karena faktor pelemahan rupiah ini bersifat struktural dan jangka panjang, rupiah sampai akhir 2017 diprediksi fluktuatif dengan kecenderungan melemah,” kata Bhima, Rabu (4/10).

BACA JUGA: Rupiah Terus Melemah, BI: Tak Perlu Dirisaukan

Faktor eksternal yang berpengaruh besar terhadap pelemahan rupiah adalah peningkatan pembelian USD karena AS sedang melakukan reformasi pajak.

Yakni, memotong pajak korporasi dari 35 persen menjadi 20 persen.

BACA JUGA: 3 Penyebab Rupiah Terus Melemah

Insentif fiskal tersebut menarik investor menanamkan investasi di AS.

Selain itu, The Federal Reserve System sedang melakukan normalisasi neraca pada Oktober ini.

BACA JUGA: Pelemahan Rupiah Harus Segera Disikapi Pemerintah

Situasi politik global juga berpengaruh. Terutama referendum Catalonia yang ingin merdeka dari Spanyol.

”Ketidakpastian politik di Spanyol menambah risiko global akan masa depan Uni Eropa,” jelas Bhima.

Dari sisi domestik, inflasi pada September sebesar 0,13 persen dengan deflasi harga bahan makanan 0,53 persen menunjukkan bahwa permintaan rumah tangga belum pulih sepenuhnya.

Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memastikan pelemahan nilai tukar rupiah hanya bersifat sementara.

Karena itu, pemerintah dan otoritas moneter akan berfokus pada perbaikan ekonomi nasional pada semester kedua.

Dia yakin perekonomian pada semester kedua ini lebih baik daripada semester pertama lalu.

”Dengan kondisi seperti itu, kita akan kembali ke situasi yang lebih baik,” papar mantan menteri keuangan itu.

Agus meyakinkan bahwa volatilitas rupiah masih berada dalam batas wajar.

Sebab, beberapa indikator makro ekonomi seperti inflasi dan neraca pembayaran cukup terkendali.

Realisasi inflasi pada September dan inflasi year-on-year meniupkan optimisme target inflasi empat persen akan tercapai.

”Diperkirakan, neraca pembayaran mempunyai overall balance yang surplus. Walau ada defisit di neraca pembayaran, itu tidak melebihi dua persen gross domestik product,” pungkasnya. (ken/c16/noe)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Terus Melemah, Rupiah Dekati Lampu Kuning


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler