Rupiah Masih Perkasa!

Kamis, 29 September 2016 – 06:39 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com - JAKARTA – Sambutan positif terhadap program pengampunan pajak turut mendongkrak performa rupiah.

Dalam perdagangan Rabu (28/9) kemarin, rupiah berada di bawah level Rp 13.000 per USD.

BACA JUGA: Kabar Sangat Buruk Bagi Pelanggan Listrik 450 VA

Namun, nilai tukar rupiah ditutup melemah dua poin ke level Rp 12.957 setelah diperdagangkan di kisaran Rp 12.906–Rp 12.959 per USD.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menjelaskan, nilai tukar rupiah sangat stabil karena banyak aliran dana yang masuk dari kebijakan amnesti pajak.

BACA JUGA: Jokowi: Sebagian Uang di Luar Sudah Masuk Dalam Negeri

Menurut Mirza, banyaknya wajib pajak (WP) besar yang ikut berpartisipasi untuk memulangkan dananya ke dalam negeri menjadi sentimen positif.

’’Kan optimisme angka ekonominya bagus. Perkembangan tax amnesty juga bagus,’’ ujarnya ditemui di Gedung Dhanapala, Kemenkeu, Jakarta, Selasa malam (27/9).

BACA JUGA: Awasi Pengelolaan Dana Transfer Daerah

Di tempat terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede menerangkan bahwa penguatan rupiah juga dipicu pelonggaran kebijakan moneter BI yang mendorong aliran modal masuk ke pasar saham dan obligasi.

Namun, dia mengingatkan pada kuartal keempat ada potensi tekanan pada rupiah. Josua menyebutkan bahwa tekanan bersumber dari rencana normalisasi kebijakan bank sentral AS.

Pada rapat bulan ini, The Fed (bank sentral AS) menegaskan bahwa kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun ini diperlukan.

Tetapi, secara keseluruhan Josua beranggapan fundamental ekonomi akan terus membaik.

’’Nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 13.000–Rp 13.100 per dolar AS,’’ katanya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listianto mengungkapkan, penguatan rupiah bakal membawa dampak yang lebih menguntungkan bagi Indonesia.

Sebab, turunnya kinerja ekspor tidak hanya disebabkan kurs, tetapi juga dipicu permintaan yang memang sedang turun.

Selain itu, konfidensi pasar diprediksi makin bertambah seiring dengan penguatan rupiah.

’’Ini yang kita butuhkan. Stability, confidence, dan tentu menjaga ekspektasi. Kalau rupiah menguat, ekspektasi ekonomi akan membaik. Trust akan meningkat,’’ tuturnya.

Namun, Eko menggarisbawahi perlu adanya perbaikan dari dua sisi pendorong pertumbuhan ekonomi, yaitu sisi fiskal dan moneter.

’’Kita tahu problem 2016 ini bukan moneter, melainkan fiskal. Moneternya terbilang stabil. Inflasi terkendali dan tidak ada gejolak berlebihan dari sisi moneter seperti pelemahan mata uang tahun lalu,’’ ungkapnya. (dee/c14/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Wow, Jagoan Terbaru Piaggio Harganya Setengah Miliar


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler