Rupiah Menguat hingga Akhir Tahun

Sabtu, 09 September 2017 – 07:37 WIB
Uang Rupiah. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Rupiah menguat 0,5 persen ke level Rp 13.284 per USD sepanjang pekan ini.

Penguatan itu diperkirakan akan bertahan hingga akhir 2017 mendatang.

BACA JUGA: BI-Kemenhub Sepakat Integrasikan Sistem Pembayaran Angkutan

Perekonomian AS masih menjadi faktor menguatnya mata uang negara-negara berkembang ketika USD menunjukkan depresiasi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, sejak awal tahun pasar memperkirakan ekonomi AS tumbuh pesat.

BACA JUGA: Cegah Pencurian Data, BI Larang Gesek Kartu 2 Kali

Itu membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) cukup tinggi.

Pasar bahkan sempat memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali pada tahun ini.

BACA JUGA: Tingkatkan Transaksi Nontunai, Jajan di Kantin Sekolah Pakai Kartu

Namun, hingga paruh pertama tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat hanya mencapai 2,1 persen. 

”Sampai saat ini The Fed baru menaikkan suku bunga acuan dua kali kan, inflasinya juga landai di bawah dua persen. September ini sepertinya The Fed tidak menaikkan suku bunga acuan,” ujar Mirza kemarin (8/9).

Di sisi lain, faktor geopolitik di Korea Utara ikut memengaruhi.

Namun, jika negara-negara lain seperti Tiongkok dan Rusia mampu meredam konflik tersebut, tekanan terhadap mata uang USD akan lebih terkendali.

”Bagi BI, yang penting rupiah stabil. Saya rasa bagi pelaku usaha juga begitu,” katanya.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2017 tercatat USD 128,8 miliar.

Angka itu lebih tinggi bila dibandingkan dengan cadangan devisa pada akhir Juli 2017 yang sebesar USD 127,8 miliar.

Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas pemerintah serta hasil lelang surat berharga Bank Indonesia (SBBI) valas.

Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh yang tempo.

Ekonom Tony Prasetiantono menuturkan, meningkatnya jumlah cadangan devisa per Agustus ini bisa mem-back up rupiah dan suku bunga. 

”Ya,  meski menurut saya belum waktunya turun lagi suku bunga. Tapi minimal itu bisa menambah amunisi, membuat confidence pasar yang sekarang sedang lemah,” ujarnya.

Dia memperkirakan rupiah bisa menguat hingga akhir tahun. 

Sebab, momentumnya tepat karena kondisi dolar Amerika Serikat tengah melemah.

Untuk itu, dia menilai seharusnya pemerintah bisa lebih optimistis dengan target nilai tukar rupiah yang lebih tinggi. (rin/ken/c10/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Butuh 6 Bulan untuk Turunkan Suku Bunga


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler