Saat Pilpres 2014, Jokowi juga Janji Hapus Unas

Jumat, 29 Maret 2019 – 05:37 WIB
Foto Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf - Jokowi terlihat senang ketika menyapa masyarakat Dumai di bundaran Bukit Gelanggang, Kota Dumai, Selasa sore (26/3). Foto: TKN Jokowi - Ma'ruf

jpnn.com, JAKARTA - Isu penghapusan ujian nasional (unas) selalu muncul di masa kampanye pemilihan presiden alias pilpres.

Pada Pilpres 2014 lalu Joko Widodo (Jokowi) menyebut bakal menghapus unas jika terpilih jadi presiden. Tahun ini giliran Sandiaga Uno menjanjikan bakal menghapus ujian tahunan itu.

BACA JUGA: KMA Bakal Bangun SDM agar Indonesia Semakin Maju

Sejumlah kalangan khawatir rencana penghapusan unas, oleh Sandiaga Uno itu hanya ganti kulitnya saja. Diantaranya disuarakan oleh penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal.

Menurut dia kalau memang menghapus unas atau UNBK (ujian nasional berbasis komputer) harus sungguh-sungguh.

BACA JUGA: KMA Ajak Warga Tidak Golput

BACA JUGA: Hapus UN, Jokowi Mendulang Suara Anak Muda dan Guru

’’Jangan hanya ganti baju saja. Tetapi ujungnya tetap ada ujian tahunan itu,’’ katanya di sela pelatihan para kepala sekolah dan guru terkait implementasi GSM di Tangerang Selatan, Rabu (27/3).

BACA JUGA: Selawatan Bersama Mafia, Maruf Amin Tegaskan Menolak Islam yang Galak

Dia menuturkan selama ini unas mengalami perubahan nama. Mulai dari ebtanas, ujian akhir nasional (UAN), serta nama-nama lainnya.

Menurut Rizal selama ini dengan adanya unas, kegiatan belajar mengajar hanya tertuju untuk ujian tahunan tersebut. Sementara dalam dunia pendidikan, peran sekolah tidak sebatas menyiapkan murid untuk sukses menghadapi unas.

Lebih dari itu, sekolah harus mampu menumbuhkan keterampilan, jiwa sosial, spritualitas, dan intelektualitas.

’’Sementara selama ini terkonsentrasi ke ujian nasional. Dimana ujian nasional hanya mengukur akademik tingkat bawah,’’ jelasnya.

Menurut Rizal selama ini unas hanya mengukur kemampuan akademik level bawah, yakni menghafal dan memahami saja.

Untuk itu dia benar-benar berharap jika memang ujian nasional akan dihapus, harus benar-benar dihapus. Selain itu banyaknya ujian atau ulangan harian juga dikurangi. Rizal melihat di jenjang SD meskipun pembelajarannya tematik, namun ulangannya belum terintegrasi.

Dia menjelaskan ketika dalam satu semester siswa hanya mempelajari empat sampai lima tema, maka ulangan hariannya juga cukup empat sampai lima kali saja. Tidak perlu lagi ada ulangan sesuai dengan mata pelajaran. Sebab pembelajaran sudah diterapkan secara tematik.

BACA JUGA: Ujian Nasional Dihapus, Diganti Evaluasi Nasional

Ketika unas dan ulangan harian dikurangi, siswa di sekolah lebih memiliki waktu untuk pengembangan bakat. Menurutnya selama ini porsi pengembangan minat dan bakat melalui ekstra kurikuler belum maksimal.

Sebab selain porsinya yang kecil, siswa juga tetap masih dihadapkan dengan ujian pamungkas yakni unas.

’’Saya khawatir (janji menghapus unas, Red) hanya untuk populis saja. Nantinya muncul ujian baru yang hanya mengukur akademik,’’ terangnya. Rizal berharap para calon pemimpin negara yang bersaing dalam Pilpres 2019 tidak bermain pada isu-isu populer.

Seperti penghapusan unas maupun revisi kurikulum. Tetapi benar-benar menyentuh akar persoalan pendidikan yang mendasar. Yakni pendidikan yang membangun sumber daya manusia Indonesia seutuhnya. Meliputi intelektual, spiritualitas, sosial, dan fisik. (wan)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bowo Nangisnya Lebih Kuat, Sandi Wajahnya Bulat


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler