Sampah

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Minggu, 11 Juli 2021 – 14:26 WIB
Ali Mochtar Ngabalin. Foto: M Fathra Nazrul Islam/dok.JPNN

jpnn.com - Jepang dikenal sebagai bangsa paling bersih di dunia. Bersih dalam artian harfiah, negara yang bebas dari sampah.

Hidup bersih tanpa sampah sudah menjadi budaya bangsa Jepang di mana pun.

BACA JUGA: Ngabalin: Saya Mau Bilang Itu Tuduhan yang Sungguh Menyesatkan Publik

Setiap kali melihat sampai di jalan, tangan orang Jepang pasti gatal untuk memungutnya.

Di Jepang nyaris tidak terlihat sampah di jalanan atau di fasilitas umum. Puntung rokok, bungkus makanan, apalagi sisa permen karet. Semuanya barang langka yang sulit ditemui keleleran di tempat terbuka. Bangsa Jepang menjadikan budaya bersih sebagai budaya nasional.

BACA JUGA: Jamiluddin Ritonga Sebut Ngabalin Langgar Etika Komunikasi

Salah satu pemandangan yang unik di kota-kota Jepang adalah tidak ada tempat sampah di tempat-tempat umum.

Kebiasan hidup bersih adalah habitus yang sudah terinternalisasi dalam budaya keseharian.

BACA JUGA: Dinilai Hina Petinggi Muhammadiyah, Refly Harun: Ngabalin Itu Ngawur

Tanpa satu tong sampah pun di tempat umum orang Jepang tidak bakal membuang sampah sembarangan.

Hidup bersih secara fisik memberi efek psikologis yang besar terhadap kebersihan lain yang bersifat non-fisik.

Orang Jepang kemudian punya budaya hidup sosial, politik, ekonomi, dan spiritual yang bersih. Mereka memulai dari kebersihan fisik, lalu merambat ke hidup bersih di faset lain dalam keseharian.

Karena itu tidak heran kalau Jepang menjadi salah satu negara paling bersih dari korupsi. Tentu saja tidak ada negara di dunia yang bebas dari kasus dan skandal korupsi.

Demikian pula Jepang. Namun, ketika kasus-kasus skandal muncul, mekanisme pemecahannnya muncul tanpa harus mengakibatkan disrupsi terhadap tata sosial yang sudah mapan.

Di banyak negara lain di sudut-sudut jalan akan terlihat banyak sekali tong sampah. Itu saja masih belum cukup. Masih ditambahi poster yang menempel di pojok tikungan jalan, "Buanglah Sampah pada Tempatnya", atau "Dilarang Kencing di Sini".

Kalau peringatan baik-baik seperti itu tidak mengefek dan tidak mengaruh akan ditempelken ancaman bagi pembuang sampah sembarangan.

Ancaman bisa berupa denda atau kurungan, lengkap dengan pasal-pasal aturan-aturannya.

Kalau ancaman denda dan kurungan tetap juga tidak mempan, maka masyarakat yang jengkel pun akhirnya keluar watak aslinya.

Papan pengumunan yang menempel pun bunyinya menjadi "Dilarang Kencing di Sini, Kecuali Anjing". Atau, di mulut gang di kampung terpampang ancaman dengan huruf-huruf besar "Ngebut Benjut".

Itulah beda habitus dengan koersi. Habitus menjadi habit kebiasaan, budaya sehari-hari. Orang menjalani aturan sosial dengan kesadaran tanggung jawab sebagai bagian dari makhluk sosial. Saling percaya dan saling bertanggug jawab terhadap kewajiban masing-masing, tanpa paksaan, tekanan, atau pengawasan.

Di beberapa negara, habitus ditumbuhkan dengan koersi melalui ancaman dan hukuman. Kekuatan koersif negara dipakai sebagai alat pemaksa untuk menjaga ketertiban umum.

Denda dan hukuman menjadi norma sehari-hari. Masyarakat menjalani aturan karena takut akan akibat hukum.

Singapura dan China menempuh jalan ini. Bapak bangsa Singapura, almarhum Lee Kuan Yew memakai tangan besi untuk menerapkan aturan dan hukum. Pelanggaran aturan sosial apa pun akan diancam dengan denda (fine). Karena itu Singapura diledeki sebagai "The Fine City" atau Kota Denda.

Dengan cara koersif semacam itu Lee menegakkan aturan dan disiplin nasional. Dengan strategi itu terbukti Singapura menjadi salah satu negara paling makmur di dunia. Singapura juga menjadi salah satu negara paling bersih dari sampah. Singapura juga menjadi negara yang bersih dari sampah korupsi.

Tentu tidak semua orang suka kepada Lee. Salah satu musuh bebuyutan Lee adalah kolomnis The New York Times, William Saphire yang rajin menjadi pengritik Lee. Saphire melihat kebijakan koersif Lee telah menciptakan manusia-manusia robot yang taat aturan karena takut denda. Ketika berada diluar negeri manusia robot itu seperti bebas dari kekangan dan kendali, lalu bertindak liar.

Itulah yang oleh Saphire digambarkan dalam kolom-kolomnya. Banyak warga Singapura yang liar, membuang sampah sembarangan, dan membuat onar sosial ketika berada di luar negeri, seolah mereka melampiaskan rasa keterkekangan di dalam negeri.

Tentu tidak semua warga Singapura bertindak seperti itu. Kalau ada satu dua orang Singapura yang bertindak seperti itu tidak bisa dijadikan ukuran generalisasi. Sama saja dengan turis Amerika yang membuat onar dengan mabuk di klub malam, tidak bisa serta-merta disebut bahwa bangsa Amerika suka membuat onar di luar negeri.

Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat punya norma sosial masing-masing. Norma-norma itu kemudian dikelola menjadi budaya yang memperkuat karakter bangsa. Francis Fukuyama dalam ‘’Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity’’ (1996) menyebutnya sebagai kebajikan sosial, social virtues, yang menjadi bagian penting dalam membangun modal sosial social capital dalam masyarakat.

Modal sosial ini pada akhirnya menjadi bahan baku yang sangat penting dalam menciptakan kemakmuran bangsa. High trus society, masyarakat yang punya tingkat saling keterpercayaan tinggi akan punya modal sangat penting dalam membangun kemakmuran dan kesejahteraan.

Semua peradaban besar dunia mempunyai modal sosial yang mencukupi untuk menjadi dasar pembangunan kesejahteraan dan kemakmuran, tetapi tidak semua bangsa bisa mengelola dan memaksimalkan potensi itu.

Keputusan-keputusan politik yang tidak tepat sering merusak dan menipiskan modal sosial sehingga yang muncul kemudian adalah low trust society, masyarakat dengan tingkat saling keterpercayaan sosial yang rendah.

Saling curiga dan saling mengintai menjadi norma hidup sehari-hari. Apa saja yang menjadi kebijakan penguasa akan dilihat dengan mata curiga. Sebaliknya, reaksi dan respons apa pun dari masyarakat akan dilihat sebagai potensi ancaman.

Beberapa hari terakhir ini di Indonesia muncul trending topic mengenai sampah demokrasi yang dilontarkan oleh Ali Mochtar Ngabalin, yang jengkel karena munculnya tuntutan agar Presiden Joko Widodo mundur. Tagar "Pak Presiden Kapan Menyerah" banyak bermunculan di media sosial.

Jokowi dianggap gagal dalam mengelola ancaman pandemi sehingga sistem kesehatan nasional kolaps.

Dalam sebulan terakhir Indonesia menjadi negara dengan tingkat penularan dan kematian paling tinggi di dunia. Jokowi dianggap inkompeten, dan karenanya dituntut untuk mundur.

Ngabalin bereaksi dengan keras dan menganggap para pengritik sebagai sampah demokrasi. Para pengkritik membalas dengan mengatakan bahwa pemerintah adalah tong sampah yang seharusnya bisa menjadi wadah sampah-sampah demokrasi itu.

Demokrasi sebagai sistem yang bebas tidak akan bisa bersih dari sampah. Sampah adalah bagian tidak terpisahkan dari ekosistem lingkungan. Di Jepang ada sampah politik. di Amerika ada sampah politik. Di Singapura pasti banyak sampah politik.

Namun, sampah-sampah itu tidak dibuang atau dihancurkan. Dengan pendekatan dan pengelolaan yang tepat, sampah-sampah itu akan menghasilkan pupuk politik yang menyehatkan kehidupan demokrasi. (*)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Ngabalin   Cak Abror   Jokowi   sampah  

Terpopuler