Sandiaga Uno Menunggu Jurus Jitu Pemerintah Hindari Resesi

Jumat, 07 Agustus 2020 – 19:04 WIB
Sandiaga Uno. Ilustrasi Foto: Aristo Setiawan/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengusaha nasional Sandiaga Salahuddin Uno menilai, penurunan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia di tengah pandemi Covid-19, dapat saja terjadi dalam waktu panjang.

Menurut Sandiaga, 67 persen masyarakat merasa perekonomian dalam keluarga semakin hari makin memburuk.

BACA JUGA: Kehadiran Sandiaga Uno di Rest Area ini Bikin Kaget

Sandi sapaan akrabnya, juga menyebutkan pandemi telah mengakibatkan setidaknya sudah ada 1,2 juta pekerja di Indonesia yang dirumahkan dan terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Data hasil survei yang ada menyebutkan, sebanyak 25 persen dari masyarakat Indonesia menyatakan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan pokok tanpa pinjaman.

BACA JUGA: Sandiaga Uno Desak Pemerintah Segera Selamatkan UMKM

“Berarti ekonomi keuangan mikro butuh satu suntikan bagaimana paket-paket yang diluncurkan pemerintah, dan juga kerja sama dengan dunia usaha bisa menolong masyarakat yang tadinya masuk kelas menengah, kini masuk ke klasifikasi masyarakat rentan miskin,” ujar Sandi dalam keterangan tertulis.

Pandemi Covid-19 ini, kata Sandi, membuktikan bahwa prinsip ekonomi yang baik adalah ekonomi yang memberikan keleluasaan atau kelonggaran kepada para usahawan yang sedang membutuhkan.

BACA JUGA: Saran Politikus Gerindra Agar Indonesia Terhindar dari Resesi

Dia menilai, pentingnya kolaborasi dalam bisnis dan berbagai manfaat yang bisa didapat dari kolaborasi seperti menumbuhkan inovasi, membangun network, memangkas biaya bisnis, menyelesaikan masalah.

Melalui kolaborasi, dua usaha berbeda dapat melengkapi kelemahan satu sama lain, sehingga kinerjanya dapat lebih efektif dan efisien dan keduanya mendapatkan win-win solution.

"Dari kolaborasi juga bisa belajar banyak hal baru dari mitra, yang bisa meningkatkan kemampuan usaha kita menyampaikan value,” tegasnya.

Dikatakan Sandi, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membentuk kolaborasi yang tepat dalam situasi new normal.

Salah satunya ialah memperhatikan cakupan dan durasi kolaborasi, karena kolaborasi bukan open-ended. Pastikan kolaborasi sesuai target.

Selain itu, penting pula untuk memperhatikan tren konsumen yang sangat dinamis dan berubah-ubah secara cepat, dan maksimalkan digital marketing untuk menggaungkan kolaborasinya.

Perlu juga ditinjau melalui monitoring dan evaluasi dari kolaborasi itu. 

“Kuncinya kita harus bisa beradaptasi dengan hasil outcome dan performa dari kolaborasi, untuk menentukan whether to stop or lanjut,” tegasnya.

Tokoh enterpreneur itu mendorong para audiens webinar dan pelaku bisnis UMKM, untuk melakukan kolaborasi sebagai salah satu strategi marketing.

Di kesempatan yang sama, Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menegaskan, pandemi Covid-19 memberikan efek domino pada aspek sosial, ekonomi dan keuangan.

"Pandemi Covid-19 memberikan efek domino pada aspek sosial, ekonomi dan keuangan. Menciptakan krisis kesehatan dengan belum ditemukannya obat, vaksin dan minimnya alat dan tenaga medis,” katanya.

Dari segi sosial, berhentinya aktivitas ekonomi yang menyerap tenaga kerja di berbagai sektor termasuk sektor informal.

Bidang ekonomi, konsumsi terganggu, investasi terhambat, ekspor/impor terkontraksi serta pertumbuhan ekonomi menurun tajam.

Sedangkan pada bidang keuangan, terjadi penurunan kinerja sektor riil dan Non Performing Loan (NPL), profitabilitas dan solvabilitas perusahaan mengalami tekanan.

Founder KAHMIPreneur itu juga menyebutkan ancaman pada perekonomian Indonesia, baik dari sisi konsumsi maupun sisi dunia usaha.

Menurutnya, Covid-19 juga memberi ancaman pada perekonomian Indonesia dari sisi konsumsi dan dunia usaha, yang mana sisi konsumsi dan Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) menurun dari 5,3 persen menjadi 2,7 persen dan investasi mengalami penurunan sebesar 3,3 persen.

"Untuk dunia usaha semuanya mengalami penurunan. Usaha manufaktur, perdagangan, transportasi, akomodasi serta pertanian mengalami penurunan tajam," ungkap Kamrussamad.

"Koreksi pertumbuhan ekonomi pun akan menimbulkan peningkatan pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja, yang berdampak pada meningkatnya masyarakat miskin di Indonesia."

Menurutnya, terjadi pelambatan aktivitas ekonomi, penurunan harga minyak dan komoditas serta penurunan pada insentif perpajakan untuk dunia usaha dan masyarakat.

Di sisi lain, terjadi penambahan pada belanja penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi serta penghematan belanja non prioritas recofusing, dan realokasi untuk mendukung penanganan Covid-19.

Disebutkan bahwa program PEN bertujuan untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya.

Program itu dilaksanakan dengan prinsip asas keadilan sosial, sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, mendukung pelaku usaha, dan menerapkan kaidah-kaidah kebijakan yang penuh kehati-hatian.

Selain itu, harus dengan tata kelola yang baik, transparan, akseleratif, adil, dan akuntabel sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, tidak menimbulkan moral hazard, serta adanya pembagian biaya dan risiko antar pemangku kepentingan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Menurutnya, telaah kritis konsep PEN harus menunjang sektor riil dan keuangan.

Kata dia, telaah kritis konsep PEN adalah pada sektor riil, meliputi pangan, UMKM, industri padat karya serta industri pariwisata.

Untuk sektor keuangan, meliputi perbankan, PP serta koperasi dan Lembaga Keuangan Mikro.

Sedangkan kebijakan fiskal prioritas menurut Perpres 54/2020 sejatinya pada kesehatan, bansos dan UMKM.

"Kesehatan meliputi infrastruktur kesehatan, vaksin dan tenaga medis, bansos menyangkut 65 persen penduduk Indonesia harus tercover, sedangkan UMKM meliputi sektor riil dan pariwisata,” ujarnya. (rdo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler