Sejumlah peternak di Australia berburu sapi jantan karena harganya bisa menyamai harga mobil mewah.

Dalam sebulan terakhir, dua ekor sapi jantan bisa terjual dengan harga per ekornya mencapai seperempat juta dolar, atau lebih dari Rp2,4 miliar.

BACA JUGA: Dunia Hari Ini: Badai Ian Hantam Florida, Jutaan Orang Diminta Mengungsi

Pemilik peternakan Yarrawonga Cattle Company, Andrew Bassingthwaighte, memecahkan rekor harga sapi jantan jenis Santa Gertrudis, yang laku terjual seharga A$250.000 dalam pelelangan sapi jantan tahunan.

"Saya pikir itu harga yang luar biasa, benar-benar bahagia, saya tidak percaya harganya bisa seperti itu," kata Andrew.

BACA JUGA: Kisah Sukses Seniman Visual Effects Indonesia Berkarya di Australia Sampai Menembus Hollywood

Andrew mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan harga sapi jantan miliknya memecahkan rekor.

"Penggembala mendapatkan banyak uang untuk ternak mereka dan punya banyak pakan dan rumput, jadi pasar tampaknya bagus untuk masa depan," katanya.

BACA JUGA: Dunia Hari Ini: Protes di Iran Berlanjut, Polisi Bentrok dengan Warga

"Mereka sangat percaya diri saat ini dan jadi waktu yang tepat untuk menjadi peternak sapi jantan."'Seperti investasi properti'

Tapi pertanyaannya mengapa sapi jantan bisa begitu mahal?

"Dia sangat tampan dan kulitnya berkilau dan punya karisma," kata Andrew.

"Yang membuat orang suka dan bisa bernilai mahal pastinya karena memiliki daya tarik seksual," ujarnya.

"Intinya, sapi jantan itu sangat tampan."

Andrew mengatakan sapi jantan menjadi seperti investasi, karena jika dibeli seharga A$250.000, maka 10 anaknya akan dihargai masing-masing A$25.000. 

Tentunya sapi jantan lebih punya harga tinggi ketimbang keturunannya.

"Air maninya bisa dijual, bisa dijual di pasar luar negeri atau kepada orang-orang di Australia," jelas Andrew.Industri ternak perlahan pulih

Menurut platform perdagangan digital independen, AuctionsPlus, 18 dari 21 kategori penjualan mencatat rekor baru dalam beberapa bulan terakhir.

Di industri sapi, harga tinggi seringkali merupakan cerminan dari semakin banyaknya orang yang yakin pada masa depan industri daging sapi.

Matt Dalgleish dari Thomas Elder Markets mengatakan rekor harga yang tinggi menunjukkan pasaran ternak nasional sedang menunjukkan pemulihan.

Indikatornya adalah ketika pemotongan sapi kurang dari 47 persen maka dianggap dalam masa pemulihan.

"Prospeknya masih baik untuk tahun depan, jadi saya pikir kita akan memiliki tiga tahun berturut-turut kesempatan untuk membangun kembali [pasar ternak]," katanya.

Matt mengatakan dalam setahun ini ada banyak hal yang telah dikerjakan dalam memperkirakan harga hewan ternak, yang juga berkontribusi pada tingginya harga.

"Orang-orang benar-benar mulai melihat karakteristik yang jauh lebih ilmiah untuk meningkatkan dan menargetkan sifat-sifat tertentu," katanya.Beli sekarang, bayar belakangan

Pada tahun anggaran 2020-2021, layanan beli sekarang bayar nanti sudah bernilai A$12 miliar, atau lebih dari Rp118 triliun.

Pilihan beli sekarang bayar nanti juga semakin banyak diambil pada sektor pertanian karena harga sapi terus meningkat.

Hannah Kerr dari perusahaan Delay Pay, salah satu layanan beli sekarang bayar nanti untuk kalangan petani, mengatakan lebih banyak orang di sektor peternakan yang memilih sistem pembayaran fleksibel.

"Bisnis kami meningkat dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir," katanya.

Layanan beli sekarang bayar nanti sudah beroperasi di berbagai industri, seperti peternakan, ternak pejantan, mesin, sarana cocok tanam, dan infrastruktur.

Layanan ini nantinya ingin menjadi bagian utama dalam penjualan sapi jantan.

"Kami tidak berharap vendor untuk menjual produk kami, tetapi untuk mendukung mereka dalam menjual lebih banyak [sapi jantan] dan pelanggan bisa membeli lebih banyak," kata Hannah.

Artikel ini diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporan bahasa Inggris.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Imbas Kebijakan COVID yang Ketat di Tiongkok, Apple Akan Memindahkan Produksi iPhone ke India

Berita Terkait