Satanic Verses

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 13 Agustus 2022 – 19:00 WIB
Arsip foto - Novelis kelahiran India Salman Rushdie. ANTARA/AFP/Joel Saget/am.

jpnn.com - Salman Rushdie, penulis novel kontroversial Satanic Verses ditusuk di bagian lehernya oleh seseorang ketika sedang berada di atas panggung di New York, Jumat (12/8). 

Percobaan pembunuhan ini terjadi 34 tahun setelah novel kontroversial  terbit, yang membuat Rushdie dijatuhi hukuan mati in absentia oleh pemimpin spiritual Iran Ayatullah Khomeini.

BACA JUGA: Penghina Islam dan Alquran Diciduk di Rumahnya

Setahun setelah novel itu terbit, Ayatullah Khomeini, memutuskan hukuman mati untuk Rushdie dan menyerukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk memburu dan membunuhnya. 

Sejak itu, Rushdie berada dalam persembunyian selama 10 tahun. Pada 1998 ada pernyataan damai dari Iran dan pada 2001 fatwa itu dikabarkan tidak lagi berlaku.

BACA JUGA: Soal Sosok Joseph Suryadi Tersangka Penghina Nabi, Kombes Zulpan Bilang Begini

Ayatullah Khomeini meninggal dunia pada 1989, tetapi fatwanya tetap menjadi hantu bagi Rushdie. Ketika Rushdie kemudian berani tampil di publik, dia tetap mendapat perlindungan polisi Inggris, tempatnya menetap, dan tetap berada dalam pengawalan sampai berpuluh tahun kemudian.

Beberapa waktu lalu, Salman Rushdie pernah mengatakan bahwa dia sudah aman dan bebas, tetapi polisi rahasia masih tetap mengawalnya. 

BACA JUGA: Geger, Natrom Mengaku Dewa Matahari dan Lecehkan Nabi Muhammad, Ini Alasannya

Insiden di New York ini menunjukkan bahwa nyawa Rushdie masih tetap terancam. Belum diketahui apa motif rencana pembunuhan terhadap Rushdie, tetapi mudah diduga bahwa hal itu berhubungan dengan kebencian terhadap Rushdie.

The Satanic Verses, Ayat-Ayat Setan, menyulut kontroversi dan polemik berkepanjangan bahkan sampai sekarang. Sejumlah orang yang dikaitkan dengan novel ini di sejumlah negara ditemukan tewas, terutama para penerjemah The Satanic Verses ke bahasa-bahasa lain.  

Dalam novelnya, Rushdie menyebut Rasulullah sebagai ‘’Mahound’’. Sebutan ini dimunculkan oleh tentara Perang Salib untuk menghina Muhammad SAW. 

Kata ini sekarang sudah jarang digunakan. Namun, ketika Rushdie menamai tokoh utama Ayat-Ayat Setan dengan nama itu sudah jelas bahwa dia merujuk kepada Muhammad. 

Rujukan Rushdie itu menunjukkan kebenciannya terhadap Islam meskipun dia tidak terang-terangan menyebut nama.

Rushdie juga memunculkan tokoh Ayesha sebagai perempuan jahat. 

Juga digambarkan mengenai 12 perempuan yang disebutnya sebagai perempuan lacur yang mengelilingi kehidupan Mahound.

Rujukan-rujukan ini jelas ditujukan kepada Aisyah, istri Rasulullah, dan istri-istri Rasulullah lainnya.

Di Indonesia, pada abad ke-19 sudah ada karya sastra yang dianggap melecehkan Islam. Karya sastra yang disebut Serat Gatholoco itu mengkritik masuknya Islam ke Jawa dengan menghancurkan kerajaan Majapahit yang Hindu.

Gatholoco adalah suluk karya sastra Jawa klasik, berbahasa Jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat berisi ajaran tasawuf atau mistik yang menggambarkan pengembaraan spritual Gatholoco dan Darmogandul yang menjadi batur kesayangannya.

Dalam pengembaraan spritual itu, Gatholoco berdebat dengan sejumlah ulama Islam mengenai ilmu sejati dan sangkan paraning dumadi, asal muasal penciptaan manusia dan tujuan hidupnya. 

Dalam debat itu Gatholoco bisa mengalahkan para kiai dan menunjukkan keunggulan ilmu Jawa atas Islam.

Dalam pengembaraan spritual itu, Gatholoco berdebat dengan sejumlah ulama Islam mengenai ilmu sejati dan sangkan paraning dumadi, asal muasal penciptaan manusia dan tujuan hidupnya. 

Dalam debat itu, Gatholoco bisa mengalahkan para kiai dan menunjukkan keunggulan ilmu Jawa atas Islam. Banyak dialog dalam serat itu yang dianggap pejoratif, merendahkan Islam.

Serat ini dianggap melecehkan Islam dan menjadi contoh karya sastra yang membuat kebencian terhadap Islam, sama dengan karya-karya sastra Eropa pada abad Rennaissance. 

Darmogandul dan Gatholoco mencantumkan idiom-idiom seks yang kasar untuk menggambarkan ajaran-ajaran Islam. Kalimat Syahadat diinterpretasikan dengan lambang-lambang seksual yang cenderung jorok.

Di Eropa, pada abad ke-17 sudah muncul karya-karya yang mendiskreditkan Islam dan Nabi Muhammad. 

Voltaire, pujangga Prancis, menciptakan naskah drama yang menampilkan sisi-sisi negatif Nabi Muhammad. 

Votlaire menggambarkan Nabi Muhammad sebagai haus darah, haus seks, suka kekerasan, menderita epilepsi, dan berbagai atribut negatif lain. 

Karya Voltaire ini dipentaskan di seluruh Eropa sampai ke Amerika. Karya ini banyak dicontek oleh Salman Rushdie dan The Satanic Verses.

Sampai sekarang kekerasan terhadap pelaku yang dianggap menghina Islam masih sering terjadi di Eropa. 

Majalah ‘’Charlie Hebdo’’ di Paris, Prancis, terkenal dengan kartun-kartunnya yang melecehkan dan menghina Nabi Muhammad.

Beberapa awak redaksi majalah itu tewas karena serangan pembunuhan dengan senapan laras panjang.

Pada 1970, sastrawan Indonesia H.B Jassin diadili karena menolak mengungkap identitas penulis Ki Pandji Kusmin yang menulis cerita pendek yang dianggap menghina Islam. 

Majalah Sastra yang sangat prestisius dan diasuh Jassin memublikasikan cerpen ‘Langit Makin Mendung’ pada edisi 1968. Ki Pandji Kusmin yang menulis cerpen itu adalah nama samaran. 

Saat itu kontroversi pun meledak hebat. Umat Islam saat itu merasa tersinggung dengan cerpen tersebut yang dianggap menghina Islam. 

Cerpen ini bersifat pejoratif, mengolok-olok kesucian Allah, ajaran Islam, Nabi Muhammad beserta sahabatnya. H.B Jassin sebagai penanggung jawab Majalah Sastra dipaksa untuk mengungkap jati diri Ki Pandji Kusmin. Jassin menolak dan akhirnya divonis satu tahun penjara. 

Arswendo Atmowiloto memimpin majalah Monitor yang laris karena menampilkan foto-foto artis yang “lher”. 

Pada 1990, Arswendo membuat survei mengenai tokoh-tokoh yang paling populer. 

Survei slengekan ini membawa petaka karena Nabi Muhammad hanya berada di urutan ke-11 di bawah Arswendo yang berada di nomor sepuluh. 

Presiden Soeharto menjadi sosok yang paling dikagumi oleh orang Indonesia sehingga duduk di posisi puncak. Arswendo yang celelekan akhirnya divonis lima tahun penjara.

Kasus yang dianggap sebagai penistaan agama bermunculan sangat signifikan dalam 10 tahun terakhir terutama di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo. 

Beberapa kasus masuk ke pengadilan dan pelakunya ditangkap dan dihukum, tetapi banyak kasus yang dilaporkan ke polisi tidak ditangani dan pelakunya masih bebas.

Hal ini menimbulkan sikap main hakim sendiri di kalangan publik. Beberapa pelaku penghinaan agama mendapat perlakuan kekerasan. 

Muhammad Kace, pelaku penistaan agama yang sudah ditahan di kepolisian menjadi korban kekerasan oleh Napoleon Bonaparte, jenderal polisi yang sedang menjadi tahanan. Kace dianiaya dan tubuhnya dilumuri kotoran manusia.

Aktivis media sosial Ade Armando menjadi korban penganiayaan oleh beberapa orang ketika muncul dalam demosntrasi mahasiswa di Jakarta beberapa waktu yang lalu. 

Beberapa orang yang mengenali Armando menghampirinya dan mengonfrontasinya. Armando kemudian diserang sampai babak belur hingga dirawat di rumah sakit.

Beberapa aktivis media sosial yang kritis terhadap Islam juga dilaporkan ke polisi, seperti Denny Siregar dan Abu Janda. Akan tetapi, sebagaimana Armando, keduanya belum pernah diperiksa oleh polisi, dan hal ini menimbulkan kemarahan di sekalangan masyarakat muslim. 

Para aktivis media sosial itu tidak merasa aman ketika muncul di depan publik karena munculnya kekerasan terhadap Armando yang nyaris mengorbankan nyawa. 

Pada 2002, aktivis Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla diserang keras karena menyerukan penyegaran pemahaman terhadap Islam melalui gerakan Islam Liberal.

Organisasi yang menyebut dirinya Forum Ulama Umat Islam Indonesia mengeluarkan fatwa mati untuk Ulil Abshar. 

Tidak ada tindak kekerasan yang dialami Ulil sampai sekarang. 

Fatwa mati itu pun menghilang dengan sendirinya, dan Ulil sendiri sekarang sudah menarik diri dari aktivitas Islam Liberal dan lebih banyak menjadi ‘’sufi’’.

Percobaan pembunuhan terhadap Salman Rushdie menjadi peringatan bahwa nyawa mereka yang dianggap menghina Islam bisa terancam setiap saat. Alarm ini bergema di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. (*)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler