Satgas Covid-19 Singgung Kerja Sama dengan Sejumlah Ormas Keagamaan

Rabu, 25 November 2020 – 06:37 WIB
Wiku Adisasmito. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah mengapresiasi kerja sama komunitas agama maupun organisasi masyarakat dalam penanganan pandemi Covid-19.

Pemerintah menilai peran sertanya dibutuhkan bagi Satgas Penanganan Covid-19 dalam melakukan komunikasi publik. 

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Mayjen Dudung tak Gentar pada FPI, UAS Bela Habib Rizieq, Wapres Diminta Bergabung ke Petamburan

"Sejak awal Satgas berusaha melakukan komunikasi publik yang spesifik terhadap karakteristik masyarakat. Akan tetapi hal ini tidak akan mudah jika prosesnya tidak melibatkan gate keeper komunitas tersebut," ungkap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (24/11).

Wiku menyebutkan sejumlah ormas Islam yang diapresiasi itu. Di antaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

BACA JUGA: Satgas Covid-19 Ingatkan Protokol 3M Jelang Libur Akhir Tahun

Satgas Covid-19 berharap semakin banyak komunitas di masyarakat yang bisa tergerak untuk bekerja sama dengan pemerintah. Membangun kedisiplinan masyarakat dapat dimulai dari lingkungannya masing-masing. 

"Kami tekankan, Satgas Covid-19 terbuka dengan semua kerja sama, khususnya terkait untuk menyosialisasikan pentingnya protokol kesehatan," ujarnya. 

BACA JUGA: Sudah 3 Minggu DKI Jakarta Masuk 5 Besar Kasus Positif Covid-19, Pekan Ini Malah Nomor 1

Selain itu, secara rutin Satgas Covid-19 pusat berkomunikasi dengan petugas di daerah dan selalu menekankan prinsip nondiskriminatif, sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dalam melakukan penanganan pandemi Covid-19 

Satgas daerah harus berprinsip teguh untuk melakukan upaya pengendalian tanpa pandang bulu, termasuk saat melakukan penjaringan kasus dengan melakukan testing (pemeriksaan) dan tracing (pelacakan) terhadap siapa pun yang mengikuti kegiatan kerumunan. 

"Saat ini beberapa daerah sedang melakukan penjaringan, dan kami masih memantau perkembangannya. Bukti konkrit kami membantu memenuhi ketersediaan rapid test swab antigen," ujarnya. 

Selain itu, diketahui pula peserta kerumunan-kerumunan diikuti masyarakat yang berusia muda.

Bahwa kebanyakan penderita Covid-19 tidak bergejala, adalah usia muda dan memiliki potensi menularkan kepada orang disekitarnya termasuk di rumahnya. 

Untuk itu, Wiku mengajak para orang tua, pihak RT/RW setempat untuk dapat menyampaikan pesan terhadap kaum muda yang berpartisipasi dalam kegiatan kerumunan agar mau mengikuti tes pemeriksaan. 

"Ingat, bahwa apabila seseorang terlihat sehat, bukan berarti mereka terbebas dari Covid-19. Karena adanya kasus positif yang tidak menampakkan gejala apa pun," pesan Wiku. (tan/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler