Satgas Minta Masyarakat Belajar dari Kasus Covid-19 Usai Idulfitri

Jumat, 18 Juni 2021 – 14:12 WIB
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. Foto: Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Satgas Penanganan Covid-19 meminta masyarakat belajar dari kenaikan kasus Corona setelah Idulfitri.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyampaikan beberapa hal yang dapat dipetik sebagai pembelajaran untuk memilah hal yang perlu dihindari dan ditingkatkan.

BACA JUGA: Prof Wiku Pastikan Pemerintah Cekatan Bantu Daerah Atasi Lonjakan Kasus Baru

Wiku juga menjelaskan pentingnya inovasi dan intervensi kebijakan yang akan diterapkan, termasuk peningkatan kualitas SDM sebagai modal untuk memperbaiki penanganan pandemi. 

Pelajaran pertama bisa dipetik dari kenaikan kasus pada perbandingan dua tahun dalam periode yang sama.

BACA JUGA: Penjelasan Kemenkes soal Perbedaan Vaksin Vaksinasi Pemerintah dan Gotong Royong

Kenaikan kasus minggu keempat sangat signifikan mencapai 112,22 persen.

Angkanya sangat signifikan periode yang sama 2020, sebesar 93,11 persen.

BACA JUGA: Satgas Covid-19: Proses WGS Dipercepat

Adapun perbandingan minggu ketiga, kenaikan tahun ini berkisar di angka 50 persen, sementara tahun lalu angkanya mencapai 80 persen.

"Kenaikan signifikan tahun ini, terjadi karena kenaikan minggu keempat sangat signifikan. Dalam seminggu saja, terjadi kenaikan hampir dua kali lipat. Hal ini menyebabkan perbedaan signifikan dari minggu sebelumnya," kata Wiku.

Pelajaran kedua, perbandingan signifikansi kenaikan kasus pada minggu keempat 2020, masih lebih tinggi dari 2021.

Contohnya, lonjakan kasus di Jawa Tengah dengan angka kenaikan tertinggi pascaidulfitri, baik di 2020 mencapai 758 persen dan 2021 mencapai 281,59 persen.

"Hal ini terjadi karena pada tahun lalu, Indonesia masih berada pada tahap awal penanganan pandemi. Masih menyesuaikan diri terhadap situasi, dalam melakukan penanganan Covid-19 yang tentunya masih serbaterbatas dan memicu kenaikan," katanya.

Namun, jika melihat lebih dalam, meski 2021 tidak mengalami persentase kenaikan sebesar tahun lalu, beberapa kabupaten atau kota tertentu mengalami lonjakan dalam rentang waktu singkat.

Seperti di Bangkalan, Kudus, Pati, Jepara, Bandung, dan Kota Cimahi.

Hal itu menandakan bahwa dalam melihat situasi tidak hanya cukup menilai di tingkat provinsi saja.

Menurut Wiku, perlu melakukan penilaian di tingkat kabupaten/kota.

Jika terdapat kabupaten/kota menunjukkan kenaikan signifikan, maka harus segera ditangani agar tetap terkendali, sehingga tidak meningkatkan kasus di tingkat provinsi maupun tingkat nasional.

Pembelajaran ketiga, Provinsi Bali dan Sulawesi Selatan pada 2020 masuk lima besar kenaikan tertinggi.

Namun, pada 2021 posisinya digantikan DI Yogyakarta dan Jawa Barat.

Tahun ini, lima besar provinsi seluruhnya dari Pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Mengingat lima provinsi ini adalah daerah asal dan tujuan mudik, maka kenaikan tertinggi ini dapat dikaitkan dengan mobilisasi masyarakat selama periode libur Idulfitri.

Faktanya, meskipun sudah diberlakukan periode peniadaan mudik sebelum dan setelah Idulfitri, mobilitas arus mudik dan arus balik Jabodetabek tetap meningkat signifikan.

Mobilitas juga terjadi dalam kota di mana terjadi peningkatan arus masyarakat ke pusat perbelanjaan selama periode Idulfitri.

Adanya periode penambahan arus balik ke Jabodetabek selama seminggu pascaidulfitri, menyebabkan periode dampak yang ditimbulkan menjadi satu sampai dua minggu.

Dampak dari suatu periode libur panjang biasanya terjadi 4-6 minggu lamanya.

Namun, dengan adanya periode tambahan ini, bisa saja dampak dari periode Idulllitri ini bertahan selama 7-8 minggu.

Kondisi di 2021 ini berbeda dengan tahun lalu. Tahun ini masyarakat sudah lelah setelah berjibaku dengan pandemi selama lebih dari setahun, sementara keinginan untuk menjalani kehidupan normal dan menjalankan roda ekonomi harus dilakukan.

"Untuk itu seluruh lapisan masyarakat perlu gotong royong dan bahu-membahu menghadapinya. Pemerintah perlu untuk terus menguatkan penanganan hingga level terkecil dengan melakukan tindakan-tindakan konkret dalam waktu genting, dan masyarakat perlu menerapkan protokol kesehatan," ujar Wiku. (tan/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler