JAKARTA – Setiap tahun rata-rata jumlah penderita baru Tuberkolosis (TB) di Indonesia mencapai 450 ribu jiwa. Tetapi penderita yang ter-cover program pemerintah hanya 320 ribuan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berjanji akan memperluas jangkauan pelayanan TB.
Jika dipersentase, jumlah penderita TB yang masuk dalam program pemerintah setiap tahunnya hanya 35 persen. Itu berarti ada satu diantara tiga penderita TB belum terlacak keberadaannya oleh pemerintah.
Menkes Nafsiah Mboi setelah pertemuan Join External TB Monitoring Mission (JEMM) 2013 di kantornya, Kamis (21/2) mengatakan, program pemerintah khusus untuk penderita TB akan diperluas. Dia mengatakan bahwa banyak sekali manfaat jika penderita TB telah ter-cover pemerintah. Diantaranya adalah urusan pembiayaan.
’’Kita sepakat jika para penderita TB itu jangan terbebani urusan lain-lain. Terutama biaya pengobatan,’’ ujar Nafsiah. Dia menjelaskan jika melalui diagnosis dan pengobatan yang benar, resiko keparahan TB bisa ditekan bahkan segera dapat disembuhkan.
Nafsiah juga menegaskan jika penderita TB yang belum ter-cover program pemerintah bukan berarti tidak mendapatkan akses medis. ’’Bisa saja mereka langsung ke dokter melalui inisiatif pribadi,’’ tandasnya.
Untuk memperluas jangkauan pemerintah menyaras masyarakat penyandang TB, Nafsiah sudah memetakan sejumlah program. Diantaranya berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Cara ini ditempuh karena banyak penderita TB yang tidak ter-cover program pemerintah tetapi telah mengakses dokter pribadi. Melalui kerjasama dengan IDI, Nafsiah berharap seluruh dokter yang menangai pasien TB melapor ke pemerintah.
Cara lainnya adalah, menjaga kesinambungan dan penguatan layanan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) untuk pendirita TB di tingkat puskesmas-puskesmas. Layanan DOTS ini adalah pendampingan khusus kepada penderita TB. Mulai dari diagnosis, perawatan, hingga pengobatan untuk penderita TB hingga sembuh.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditya mengatakan, saat ini tingkat penderita TH yang tidak mengikuti DOTS hingga tuntas masih terus terjadi. Tetapi dia mengatakan jika tingkat penderita TB yang dropout (DO) dalam program DOTS terus berkurang. ’’Jumlah yang putus dalam program DOTS ini kita tekan dari 8 persen (tahun lalu) menjadi sekitar 6 persen saja,’’ ujarnya. (wan)
Jika dipersentase, jumlah penderita TB yang masuk dalam program pemerintah setiap tahunnya hanya 35 persen. Itu berarti ada satu diantara tiga penderita TB belum terlacak keberadaannya oleh pemerintah.
Menkes Nafsiah Mboi setelah pertemuan Join External TB Monitoring Mission (JEMM) 2013 di kantornya, Kamis (21/2) mengatakan, program pemerintah khusus untuk penderita TB akan diperluas. Dia mengatakan bahwa banyak sekali manfaat jika penderita TB telah ter-cover pemerintah. Diantaranya adalah urusan pembiayaan.
’’Kita sepakat jika para penderita TB itu jangan terbebani urusan lain-lain. Terutama biaya pengobatan,’’ ujar Nafsiah. Dia menjelaskan jika melalui diagnosis dan pengobatan yang benar, resiko keparahan TB bisa ditekan bahkan segera dapat disembuhkan.
Nafsiah juga menegaskan jika penderita TB yang belum ter-cover program pemerintah bukan berarti tidak mendapatkan akses medis. ’’Bisa saja mereka langsung ke dokter melalui inisiatif pribadi,’’ tandasnya.
Untuk memperluas jangkauan pemerintah menyaras masyarakat penyandang TB, Nafsiah sudah memetakan sejumlah program. Diantaranya berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Cara ini ditempuh karena banyak penderita TB yang tidak ter-cover program pemerintah tetapi telah mengakses dokter pribadi. Melalui kerjasama dengan IDI, Nafsiah berharap seluruh dokter yang menangai pasien TB melapor ke pemerintah.
Cara lainnya adalah, menjaga kesinambungan dan penguatan layanan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) untuk pendirita TB di tingkat puskesmas-puskesmas. Layanan DOTS ini adalah pendampingan khusus kepada penderita TB. Mulai dari diagnosis, perawatan, hingga pengobatan untuk penderita TB hingga sembuh.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditya mengatakan, saat ini tingkat penderita TH yang tidak mengikuti DOTS hingga tuntas masih terus terjadi. Tetapi dia mengatakan jika tingkat penderita TB yang dropout (DO) dalam program DOTS terus berkurang. ’’Jumlah yang putus dalam program DOTS ini kita tekan dari 8 persen (tahun lalu) menjadi sekitar 6 persen saja,’’ ujarnya. (wan)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Cegah Berhubungan Sex demi Roh Karya
Redaktur : Tim Redaksi