Satu Dokter Layani Seribu Lebih Korban Kelud

PB IDI Tanggap Darurat Hingga Maret

Selasa, 25 Februari 2014 – 06:12 WIB

JAKARTA - Urusan medis menjadi sektor penting pasca letusan gunung Kelud. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendata saat ini rata-rata satu orang dokter menangani seribu lebih korban gunung Kelud. Meskipun belum ada tanda-tanda kekurangan dokter, mereka tetap menjalankan misi tanggap darurat di Kediri dan Malang.
 
Anggota Komite Penanggulangan Bencana (KPB) Pengurus Besar IDI dr Iqbal El Mubaraq menuturkan, personel dokter yang masuk dalam misi penanggulangan bencana IDI berada di ring atau zona merah.

"Diman zona merah ini belum terjangkau oleh petugas medis dari puskesmas-puskesmas setempat," katanya.
 
Iqbal menuturkan saat ini PB IDI menerjunkan sepuluh orang dokter dari Jakarta. Dia mengatakan tim dari Jakarta yang hanya sepuluh orang itu, hanya sebagai supporting dokter-dokter anggota IDI dari Malang dan Kediri. Dia menjelaskan bahwa anggota IDI di Malang itu terbesar kedua di Indonesia setelah di Jakarta.
 
Untuk kondisi saat ini, Iqbal mengatakan rasio dokter untuk tanggap becana Kelud adalah 1:1.200. Maksudnya satu orang dokter menangani pasien korban letusan gunung Kelud sekitar seribu hingga 1.200. "Secara umum sampai saat ini masih berjalan normal. Kita berkoodinasi dengan BNPB dan pihak-pihak terkait, termasuk puskesmas," katanya.
 
Ia menjelaskan perbandingan itu bukan berarti satu orang dokter melayani seribu lebih korban Kelud dalam sehari. Tetapi umumnya masyarakat korban bencana datang bertahap sesuai dengan kondisi kesehatan mereka.
 
Iqbal mengatakan bahwa tanggap darurat yang ditentukan oleh IDI untuk penanganan korban letusan Kelud dijadwalkan hingga akhir Maret nanti. Tetapi dia menjelaskan, tidak menutup kemungkinan batas akhir itu bakal diperpanjang merujuk kondisi setempat.
 
Untuk logistik obat-obatan, Iqbal mengatakan kebutuhan paling banyak untuk menangani korban Kelud dengan keluhan penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). Kebutuhan obat yang mendesak lainnya adalah obat iritasi mata, obat alergi, dan obat untuk diare.
 
Khusus untuk urusan obat-obatan ini, IDI meminta masyarakat tidak nakal. Iqbal mengatakan tim medis akan menanyakan dulu kapan terakhir pasien berobat. Upaya ini dilakukan untuk mencegah praktek nakal masyarakat untuk menimbun obat-obatan. Kemudian bisa dijual beberapa waktu nanti.
 
Selain itu Iqbal juga menjelaskan bahwa IDI telah melakukan investigasi kondisi air di daerah-daerah yang terdampak letusan gunung Kelud. Di sejumlah daerah yang dekat dengan pusat letusan, Iqbal mengatakan kondisi air sungainya tidak layak untuk dikonsumsi.

BACA JUGA: 60 Honorer K2 yang Lulus Diduga Bermasalah

Padahal di tempat itu, masyarakat sangat bergantung dengan air sungai. "Sementara itu untuk air sumur, umumnya tidak terdampak letusan kelud. Saya temukan sejumlah sumur, airnya tetap jernis," papar dia. (wan)

BACA JUGA: Tak Lulus, Honorer K2 Terancam Diberhentikan

BACA JUGA: RSUD Tak Bisa Bayar Dokter

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ingin Mengadu, Honorer K2 Ditolak Dewan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler