Satu Keluarga Mudik Menggunakan Bajaj, Ini Yang Terjadi 12 Jam Kemudian

Sabtu, 30 April 2022 – 19:31 WIB
Bajaj milik Dadang terjebak macet di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (30/4/2022). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

jpnn.com, NAGREG - Dadang (54) bersama keluarganya memilih mudik tahun ini menggunakan bajaj.

Setelah berkendara selama 12 jam dari Jakarta, Dadang dan keluarga tiba di Nagreg, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (30/4).

BACA JUGA: Takut Mahal, Elma Theana Beli Tiket Kereta Mudik Sebulan Sebelumnya

Menurut Dadang, mereka berangkat dari kediaman di Mangga Dua, Jakarta, sekitar pukul 05.00 WIB.

Dia membawa istri dan satu anaknya untuk mudik ke Tasikmalaya.

BACA JUGA: Irjen Priyo Minta Anggota Mengendalikan Emosi Saat Pengamanan Arus Mudik Lebaran 

"Berangkat dari Mangga Dua setelah salat subuh, jam lima lah, lewat jalur biasa," kata Dadang saat melintas di depan Pos Pengamanan Mudik Cikaledong Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dadang ditemui ketika bajajnya tak bergerak di depan pos pengamanan, terjebak arus yang macet.

BACA JUGA: Jelang Lebaran, Israel dan Palestina Masih Bunuh-bunuhan

Dia masih ada di kursi kemudi, sedangkan istri dan anaknya tengah tertidur di kursi belakang.

Dadang mengatakan sudah terbiasa mudik menggunakan kendaraan beroda tiga tersebut.

Kondisi macet di jalur mudik pun, kata dia, sudah terbiasa dihadapi.

"Ya, sudah biasa, tadi juga cukup macet dari sana, tetapi tadi di Bandung juga sempat ada banjir," kata Dadang.

Adapun pada pukul 17.00 WIB, kondisi arus mudik di kawasan Nagreg cukup dipadati pemudik.

Sesekali arus lancar dan beberapa kali arus mengalami kepadatan hingga tak bergerak.

Kepadatan di kawasan itu, tak lain karena adanya penyempitan jalur di kawasan Limbangan, Garut.

Selain itu, perlambatan arus juga dikarenakan adanya pemudik yang mencari tempat untuk berbuka puasa.

Sementara itu, Kapolsek Nagreg AKP Hima Rawalasi mengatakan pihaknya sudah beberapa kali melakukan pengalihan arus.

Kendaraan yang mengarah ke Limbangan dialihkan ke Kadungora, Garut.

"Kami mengalihkan ke Kadungora, Garut, apabila Limbangan terlalu berat untuk jalurnya. Begitu juga sebaliknya," kata Hima.(Antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Kennorton Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler