SBY Beri Solusi Atasi ISIS di Kamp Militer AS

Selasa, 23 September 2014 – 10:37 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkesempatan memberikan pidato, di depan ribuan kadet Akademi Militer West Point, Orange Country, Amerika Serikat, Senin (22/9) waktu setempat. Di kamp militer negara adidaya tersebut, SBY memberikan pandangan bagaimana mengatasi gerakan Islamic State Iraq and Syria (ISIS).

Menurut SBY, langkah militer tidak selalu bisa menjadi solusi dalam penyelesaian konflik di berbagai belahan dunia. SBY lebih percaya pada pendekatan soft power, penyelesaian yang komprehensif yang membutuhkan seperangkat solusi politik dan lainnya.

BACA JUGA: Refly Tantang Anggota DPD Ikut Demo Tolak Pilkada oleh DPRD

"Dalam menghadapi tantangan gerakan Islamic State on Iraq and Syria (ISIS) dan tindakan terorisme di berbagai belahan dunia, saya percaya yang dibutuhkan adalah menerapkan soft power atau smart power," kata SBY, seperti dilansir dari situs presidenri.go.id, Selasa (23/9).

Dalam persoalan ISIS, misalnya, setelah mereka dapat dikalahkan secara militer, diperlukan langkah-langkah berikutnya guna memastikan bahwa generasi mendatang tidak melakukan tindakan serupa. "Ini bukan tugas militer tetapi tugas politisi, diplomat, tokoh agama, dan masyarakat sipil," jelas SBY.

BACA JUGA: Soal Kebijakan Menkominfo, KPK Tunggu Audit BPK

SBY menilai, mengakhiri perang jauh lebih sulit daripada saat memulainya. Di sinilah politik dan diplomasi yang efektif sangat diperlukan, berdasarkan komitmen yang kuat oleh para pemimpin politik dunia untuk membuat pilihan politik dan diplomatik dalam mengejar kepentingan nasional mereka.

Presiden memberi contoh penyelesaian konflik bersenjata di Aceh dalam masa pemerintahannya. Dengan kemauan politik yang kuat, Indonesia hanya perlu dua-tiga tahun untuk mencapai rekonsiliasi damai dengan Timor-Leste setelah 25 tahun konflik.

BACA JUGA: Pemerintah Sudah Akomodir Syarat Demokrat

Pendekatan lunak melalui diplomasi dan negosiasi juga ditempuh Indonesia dalam menyepakati masalah perbatasan dengan beberapa negara tetangga. "Kita tahu betul bahwa masalah perbatasan bisa dengan mudah berubah menjadi konflik militer terbuka," ujar SBY. 

Namun, dalam beberapa situasi kita tidak dapat selalu menggunakan cara-cara damai untuk mengakhiri konflik. Untuk itu militer juga harus selalu siap melakukan tugas mereka dalam membela kepentingan nasional. "Setelah semua yang telah kita lewati, kita belajar bahwa perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara lain," ujar SBY.

Pengalaman 10 tahun memimpin Indonesia, SBY menegaskan bahwa politisi boleh datang dan pergi. "Tetapi jika hubungan antara militer dan hubungan antara pelaku usaha dan ekonomi kuat, maka para politisi akan berpikir dua kali sebelum menyatakan perang. Karena perang apapun pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan seluruh masyarakat," pungkas SBY. (adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ingatkan Isu Kesejahteraan Berpotensi Jadi Ancaman Negara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler