Sekelumit Kisah Pendamping Lansia, Pengabdian Tanpa Henti di Tengah Pandemi Corona

Jumat, 25 Desember 2020 – 10:50 WIB
Pengabdian. Nawula, seorang pekerja sosial menceritakan suka duka pengabdiannya selama 28 tahun di BRSLU Budhi Dharma Bekasi, Rabu (23/12). Foto: Humas Kemensos.

jpnn.com, BEKASI - Pandemi Covid-19 masih belum usai. Bukan berarti pengabdian pekerja sosial di Balai Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (BRSLU) Budhi Dharma, Bekasi, Jawa Barat, harus selesai. 

Lewat program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) Kementerian Sosial (Kemensos), para pekerja sosial di BRSLU Budhi Dharma membuktikan pengabdian tanpa henti itu.

BACA JUGA: Kemensos Salurkan Bantuan Kepada Lansia-Disabilitas Terdampak Corona

Program ATENSI dibuat dengan latar belakang penghormatan, perlindungan, pemenuhan hak-hak kaum lansia.

ATENSI merupakan perubahan pendekatan, tidak hanya berbasis residensial, tetapi juga keluarga sekaligus komunitas.

BACA JUGA: Lewat Aplikasi, Kemensos Hubungkan Usaha Mikro Penerima Manfaat dengan Pelaku Pasar Vitual

Nawula, seorang Pekerja Sosial Ahli Pertama yang sudah bertugas selama 28 tahun tetap bersemangat dalam menjalankan pekerjaannya.

Banyak suka duka yang dialaminya selama menjalani pekerjaan mulia itu.

Ia menceritakan harus siap 24 jam. Terutama bila ada lansia yang sakit.

“Kalau ada nenek yang sakit walaupun itu tengah malam saya harus turun untuk mengantarkannya ke rumah sakit,” kata Nawula.

Pengabdian ini bukanlah beban bagi Nawula. Menurutnya, mengurus para lansia merupakan sebuah penghargaan baginya. Nawula menegaskan sangat senang melakukan pekerjaan ini.

“Ini sebuah penghargaan, saya puas mengurus nenek-nenek dengan baik. Saya juga bertugas di sini sangat senang,” katanya.

Selain mengantar ke RS bila ada lansia yang sakit, banyak tugas lain yang dilakukannya. Misalnya, memandikan hingga menyuapi makanan untuk para lansia.

Nawula tidak pernah menolak apa pun tugas yang ada. Semua dilakukan karena Nawula bekerja dengan hati.

“Apa pun tugas yang ada di sini saya tidak pernah menolaknya. Seperti memandikan nenek-nenek dan menyuapi makanan, saya lakukan itu semua karena saya bekerja dengan hati,” jelasnya.

Lain Nawula, lain pula Umi Mahmudah Nuryani. Umi adalah seorang psikolog yang sudah 15 tahun bertugas, khususnya untuk konseling lansia.

Umi mengaku ia adalah orang yang pertama kali dihubungi bila terjadi konflik antarlansia.  Namun, dalam menjalankan tugasnya Umi tetap bekerja sama dengan pekerja sosial.

"Kalau ada masalah dengan lansia, kami langsung terjun ke lapangan dan selesaikan secara individu dulu baru kelompok,” ungkap Umi.

Penyuluh sosial juga dilibatkan. Terutama untuk memberikan penyuluhan, dalam rangka pengubahan perilaku seperti pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Dengan memberikan motivasi, penyuluh juga mendorong kesadaran lansia untuk ikut aktif dan kooperatif dalam kegiatan yang disediakan oleh Balai Lansia Budhi Dharma Bekasi.

Supaya lansia dapat merasakan dirinya tetap sehat, aktif, dan bermanfaat untuk diri dan orang lain di sekitarnya sehingga menumbuhkan kebersamaan para lansia dalam balai.

Mengingat jangkauan layanan yang sangat luas, yakni 16 provinsi seluruh Sumatera dan Jawa, BRSLU Budhi Dharma tidak hanya bekerja sama dengan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, melainkan juga dengan LKS Lansia (PUSAKA), pegiat lansia, pendamping lansia, TKSK, Tagana serta seluruh elemen masyarakat.

Selama ini, lansia di BRSLU Budhi Dharma Bekasi diajak untuk produktif dengan melakukan berbagai kegiatan.  Salah satunya adalah sharing secara rutin. Sebelum pandemi Covid-19, kegiatan-kegiatan rutin dilakukan BRSLU. Namun, saat ini lebih fleksibel.

“Biasanya terjadwal, seperti senam pagi sampai pemeriksaan psikologis. Namun, karena menghindari kerumunan, paling kami dampingi saat menonton televisi atau mendengarkan musik tanpa melupakan protokol kesehatan,” ujarnya.

Umi menambahkan kegiatan pengajian pun kadang dilakukan. Biasanya, selain di taman, juga dilakukan di musalah. Jaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan tetap diutamakan.

“Protokol kesehatan harus aktif dilakukan. Selama pandemi, mereka tidak boleh keluar karena lansia rentan (terpapar)," katanya.

Umi mengaku lansia pun mematuhi anjuran tersebut. Namun, kadang-kadang masih ada yang suka lupa menggunakan masker. Menurut Umi, meskipun kegiatan berkumpul berkurang,  segala aktivitas selalu terekam lewat CCTV fasilitas BRSLU. Karena itu, kata Umi, bila ada kejadian-kejadian tertentu, ia bisa langsung datang menghampiri.

Pemerlu Pelayanan Kesejahteraaan Sosial (PPKS) Yunita (71) mengakui fasilitas di BRSLU sudah baik. “Saya bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah karena seluruh fasilitas cukup baik. Protokol kesehatan seperti mencuci tangan juga selalu dilakukan,” katanya.

Selain penerapan protokol kesehatan, pemeriksaan rutin melalui tim kesehatan juga kerap dilakukan BRSLU kepada para lansia.

Aktivitas di masa pandemi Covid-19 tetap dilakukan agar tidak jenuh.

Salah satu PPKS Rodi (62) mengakui bisa melakukan banyak hal di BRSLU.

"Kami mencari-cari aktivitas agar tidak jenuh. Namanya kakek-kakek semua, kadang aku bantuin nyuci, ngambilin nasi. Ke musalah, pengajian, dan aku juga ngurusin jeruk di taman,” jelasnya.

Sepanjang 2020, terutama pada awal pandemi Covid-19 sampai saat ini, sudah ada 15.072 orang yang merasakan layanan ATENSI baik itu melalui keluarga, komunitas, dan residensial. 

“Inilah yang sedang kami lakukan yaitu ATENSI. Mudah-mudahan dengan adanya ATENSI ini, kami bisa memberikan layanan yang terbaik terhadap penerima manfaat lanjut usia," kata Kepala Balai BRSLU Budhi Dharma Bekasi, Drs Pujiyanto. (*/jpnn)  

 

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler