Sembilan Dampak Kebohongan Ratna Sarumpaet

Kamis, 04 Oktober 2018 – 12:50 WIB
Ratna Sarumpaet dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (3/10) guna menyampaikan kebohongannya tentang lebam di wajah. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Publik dikejutkan dengan pengakuan Ratna Sarumpaet (RS) atas kebohongan yang dilakukannya sendiri. Pengamat politik Emrus Sihombing mengatakan, ada sembilan catatan yang kurang produktif terkait pengakuan kebohongan RS dari aspek komunikasi politik di tengah tahun politik saat ini.

"Pertama, setiap pesan yang dilontarkan ke ruang publik, termasuk hoaks yang disampaikan RS tidak bisa ditarik apalagi hilang, sekalipun minta maaf," kata Emrus, Kamis (4/10).

BACA JUGA: Habib Novel Minta Maaf soal Menteri L dan Ratna Sarumpaet

Kedua, setiap pesan komunikasi termasuk yang disampaikan RS utamanya dalam bentuk hoaks, ujaran kebencian dan eksploitasi SARA akan tersimpan di peta kognisi publik lebih lama.

"Ketiga, kebohongan awal yang dilakukan seseorang, siapa pun dia termasuk RS akan cenderung dilanjutkan dengan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya," paparnya.

BACA JUGA: Kecewa Banget, Uni Fahira Susah Lupakan Ulah Ratna Sarumpaet

Keempat, kepercayaan khalayak terhadap Ratna Sarumpaet, secara hipotesis akan tergerus tajam.

"Kredibilitasnya terjun bebas di mata publik," kata direktur eksekutif EmrusCorner, itu.

BACA JUGA: Ingat, Novel Sebut Menteri L Dalangi Penganiayaan Ratna

Kelima, merujuk pada teori gunung es, kebohongan RS tersebut sebagai puncak dari perilaku yang diperankan sebelumnya.

"Artinya, publik sulit percaya kepada pernyataan RS sebelumnya sepanjang sebagai aktivis," kata Emrus.

Keenam, langsung atau tidak, kredibilitas para tokoh yang "termakan" dari pengakuan awal dar RS secara hipotetis akan dipertanyakan oleh publik.

"Karena tidak melakukan klarifikasi dari berbagai sumber, antara lain dari dokter yang menangani RS sebelum memberikan tanggapan di ruang publik," jelasnya.

Ketujuh, pengakuan kebohongan RS bisa berimbas kurang baik terhadap pemimpin yang sempat mendapat dukungan dari yang bersangkutan.

Kedelapan, pengakuan kebohongan dari RS bisa memengaruhi sikap publik dan perilaku memilih masyarakat kepada salah satu paslon pilpres pada Pemilu 2019

"Kesembilan, perlu diketahui bahwa lebih sulit memperbaiki citra yang sudah kurang baik daripada membangun atau menciptakan citra baru," katanya.

Karena itu, lanjut dia, sangat sulit me-recover citra tokoh yang didukung oleh RS karena elite utama dari koalisi tersebut sudah sempat memberikan pernyataan dukungan penuh terhadap pengakuan yang sebelumnya dilakukan oleh RS dan kemudian diakuinya sebagai kebohongan.

Untuk itu kata Emrus, tim dari poros politik yang didukung oleh RS harus segera menyusun dan mengimplementasikan strategi dan program komunikasi politik yang jitu untuk mewujudkan perjuangan politik.

"Antara lain, menjelaskan bahwa itu merupakan tindakan personal dari RS itu sendiri, sehingga menjadi urusan pribadi yang bersangkutan apa pun konsekuensi dari perilaku komunikasi kebohongan tersebut," katanya.(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ratna Sarumpaet = Cut Nyak Dien dan Kartini Masa Kini, Duuh


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler