Sengketa Laut China Selatan, Admiral Amerika Singgung Negara Antagonis Pencuri Ikan

Jumat, 30 Juli 2021 – 06:00 WIB
Penampakan Hohhot (Hull 161), kapal perusak kawal rudal milik Komando Armada Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), saat berpatroli di perairan Laut China Selatan pada Kamis (20/8/2020) pagi. Foto: ANTARA/HO-ChinaMilitary/mii/TM

jpnn.com, JAKARTA - Komandan Keamanan Laut (Coast Guard) Amerika Serikat, Admiral Karl L Schultz, mengatakan bahwa AS mendorong kawasan perairan Indo-Pasifik yang terbuka dan bebas dan mendukung alur perdagangan bebas.

Dalam konferensi pers melalui sambungan telepon dari Jakarta, Kamis, Schultz mengatakan bahwa semua pihak yang terlibat di perairan Indo-Pasifik secara kolektif perlu berfokus pada upaya untuk menjaga kebebasan dan keterbukaan perairan di kawasan.

BACA JUGA: Kalah dari Wakil China, Praveen/Melati Akui Banyak Melakukan Kesalahan Sendiri

“Saya pikir jika terdapat area yang disengketakan, kita perlu merujuk pada mekanisme yang telah ada untuk mencari solusinya,” katanya.

Terkait Laut China Selatan dan Laut China Timur, Schultz mengatakan bahwa semua pihak yang bersengketa perlu mematuhi tatanan berdasarkan aturan atau rule-based order terkait kemaritiman.

BACA JUGA: Beri Dukungan ke Taliban, China Minta Gerakan Islam Turkestan Timur Dibereskan

Dia juga menekankan pentingnya menjaga perdagangan tetap terbuka dan menyelesaikan persengketaan kawasan dengan damai.

“Saya rasa para pelaku kawasan yang menekan dan antagonis, yang mengoperasikan kapal pemancing ikan di area-area yang disengketakan, saya tak yakin itu adalah wujud pemerintahan kemaritiman modern berdasarkan aturan yang ingin kami bela di kawasan,” ujar Schultz.

BACA JUGA: China Kembali Dilanda Bencana, Pusat Bisnis Lumpuh

Dalam kesempatan tersebut, Schultz juga menjawab pertanyaan terkait kehadiran milisi China di kapal-kapal yang diakui sebagai kapal ikan di Laut China Selatan dan Laut China Timur.

Dia menggambarkan kapal ikan tersebut tampak seperti milik pemerintah karena dilengkapi persenjataan seperti tembakan air atau water cannon.

Mengutip pemberitaan Reuters sebelumnya, beberapa bulan lalu Filipina mengajukan protes atas kehadiran dan aktivitas ilegal yang dilakukan oleh China di Laut China Selatan.

Ketegangan antara China dan Filipina meningkat terkait kehadiran ratusan kapal China di zona ekonomi eksklusif Filipina, di mana negara itu meyakini bahwa kapal-kapal tersebut dikendalikan oleh milisi China, sementara Beijing mengklaim kapal itu merupakan kapal ikan yang tengah berteduh dari cuaca buruk, demikian menurut Reuters. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler