Sentra Sepatu Cibaduyut Bak Mati Suri

Minggu, 19 Desember 2021 – 14:56 WIB
Kawasan sentra sepatu Cibaduyut kini mulai sepi kunjungan wisatawan, baik dalam atau luar negeri. Foto: Nur Fidhiah Shabrina/JPNN.com

jpnn.com, KABUPATEN BANDUNG - Sentra perajin sepatu Cibaduyut pernah jadi primadona wisatawan dalam dan luar negeri ketika melancong ke Bandung, Jawa Barat.

Lokasinya yang ada di selatan Kota Kembang, membuat kawasan ini pasti dihampiri pelancong yang akan berwisata ke daerah Ciwidey atau Pangalengan, Kabupaten Bandung.

BACA JUGA: Kang Hasan Janjikan Sepatu Cibaduyut Berjaya Lagi

Tugu Sepatu Cibaduyut bahkan jadi ciri khas kawasan tersebut.

Posisi tugunya tepat berada di tengah perempatan lampu merah Cibaduyut.

BACA JUGA: Yang Punya Anak Perempuan Kejadian Ini Harus jadi Pelajaran, Jangan Lengah

Sepasang sepatu berwarna hitam jenis pantofel, siap menyambut wisatawan yang akan membeli buah tangan.

Namun kini, kawasan tersebut bak mati suri. Rombongan bus-bus pariwisata yang biasanya memadati kawasan tersebut perlahan mulai tak terlihat.

BACA JUGA: Timnas Indonesia vs Malaysia, Cara Shin Tae Yong Agar Pemain Relaks

Biasanya, di akhir pekan kawasan Cibaduyut padat dengan kendaraan wisatawan yang lalu-lalang.

"Sudah banyak yang tutup, soalnya sepi pengunjung. Wisatawan juga sudah jarang yang mampir. Sudah banyak ruko-ruko bekas toko sepatu sekarang bisa untuk disewa," kata Indah di salah satu toko sepatu di Cibaduyut, Minggu (19/12).

Berdasarkan pantauan JPNN.com, panjang kawasan Cibaduyut yang jadi sentra sepatu sekitar 1,6 kilometer.

Di kanan dan kiri bahu jalan, berjejer toko sepatu, baik yang masih buka atau sudah tutup. Kebanyakan, toko sepatu di Cibaduyut tutup. Padahal ini akhir pekan yang mana biasanya menjadi waktu untuk meraup untung.

Toko sepatu yang masih buka dan bertahan sampai sekarang kebanyakan toko-toko dengan nama yang sudah besar, seperti Grutty, Garsel Footwear, dan Diana.

Semula kawasan sentra sepatu Cibaduyut didominasi pedagang industri rumahan. Tetapi, seiring banyaknya toko modern yang menawarkan produk berkualitas dengan harga terjangkau, mau tak mau kehadiran mereka perlahan tergerus zaman.

Ditambah pandemi Covid-19 yang terjadi, membuat usaha sepatu mereka turut terdampak.

Salah seorang perajin sepatu Irwan Sumirat (57) menuturkan, sudah mulai terdampak sejak dua bulan awal pandemi terjadi. Permintaan sepatu melorot hingga 80 persen.

"Sebenarnya sebelum pandemi, pesanan sudah turun, karena adanya kiriman sepatu dari China. Nah, semakin turun ketika corona ini datang," ujarnya.

Kini, kawasan tersebut mencoba bertahan dengan tetap membuka lapak sepatu mereka.

Sebagai siasatnya, mereka tak cuma menjual sepatu saja, tetapi juga aneka pakaian kekinian dan jaket kulit.

Tak jauh dari sentra sepatu, ada Singgasana, sebuah perumahan di Cibaduyut yang sekarang jadi pusat jajanan dan kuliner di sana. (mcr27/jpnn)


Redaktur : Rah Mahatma Sakti
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler