Seperti Ini Gaya Suhendra Hadikuntono Saat Mengajar

Senin, 25 November 2019 – 23:31 WIB
Suhendra Hadikuntono saat mengajar di Sekolah Dasar Yasporbi, Pancoran, Jakarta Selatan. Foto dok pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat intelijen senior Suhendra Hadikuntono, yang diusung oleh tokoh-tokoh Aceh dan Papua sebagai calon kuat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) hari ini menggantikan peran guru mengajar di kelas.

Hal itu dilakukan Suhendra sebagai wujud apresiasinya terhadap Hari Guru Nasional, yang jatuh pada hari ini, Senin (25/11).

BACA JUGA: Hari Kedua Pendaftaran CPNS 2019, Pelamar Terbanyak Bukan di Formasi Guru

Adapun, murid-murid yang dia ajar yakni Kelas VI B Sekolah Dasar Yasporbi, Pancoran, Jakarta Selatan.

"Ini sebagai apresiasi saya kepada para guru yang sedang merayakan hari jadinya, sehingga kami gantikan peran mereka mengajar di kelas meskipun hanya 2 jam pelajaran," ucap Suhendra usai mengajarkan materi sejarah kepada anak-anak.

BACA JUGA: Suhendra, Juru Kunci Masalah Bangsa dari Aceh Hingga Papua

Di hadapan anak-anak, Suhendra memantik ingatan mereka dengan gadget yang saat ini sedang mewabah dan menjangkiti anak-anak, yakni piranti telepon seluler atau hand phone. 

Dia bertanya siapa pencipta HP yang merupakan turunan dari pesawat telepon yang ditemukan Graham Bell.

BACA JUGA: Suhendra Dorong MPR Mengamendemen Pasal 7 UUD 1945

Setelah itu, Suhendra mengingatkan agar anak-anak mempelajari sejarah bangsanya, karena bangsa yang akan maju adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya sendiri.

Suhendra lalu bertanya, bila pada 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional, lalu 2 Mei diperingati sebagai hari apa? Anak-anak pun spontan menjawab Hari Pendidikan Nasional.

Pertanyaan selanjutnya yakni siapa Bapak Pendidikan Nasional, yang langsung dijawab siswa-siswi, Ki Hadjar Dewantoro.

"Bagus. Itulah sekelumit dari sejarah bangsa kita, khususnya dalam bisa pendidikan, yang harus kita ingat dan pelajari," pesan Suhendra.

"Bila Bapak Presiden Jokowi suka kasih hadiah sepeda, Pak Suhendra cukup bola saja," kata Suhendra sambil berkelakar.

Usai mengajar, Suhendra mengatakan bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang identik dengan permainan dan senda gurau. Sebab itu, untuk menciptakan suasana belajar-mengajar yang menarik dan menyenangkan, perlu selingan permainan dan cerita jenaka. 

"Dengan begitu, saya yakin guru akan berhasil dalam mengajar. Anak adalah masa depan, kita ini adalah masa lalu. Anak harus diajarkan bangga menjadi anak Indonesia. Itu bagian dari pendidikan karakter," tandasnya.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler