Sepertinya NasDem Tak Akan Bertahan Lama dalam Koalisi Pendukung Jokowi

Sabtu, 09 November 2019 – 10:28 WIB
Pangi Syarwi Chaniago. Foto: dokumen JPNN.Com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menyebut keberadaan Partai Nasdem dalam koalisi gemuk pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak akan bertahan lama. Analisis itu didasari pengamatan Pangi pada pidato Surya Paloh saat membuka Kongres II NasDem di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (8/11).

"Saya melihat Nasdem di koalisi pemerintah hanya menunggu waktu, sebab sulit memang kalau soal harga diri atau merasa sudah enggak satu chemestry lagi," kata Pangi kepada jpnn.com, Sabtu (9/11).

BACA JUGA: Buka Kongres NasDem, Surya Paloh Sindir Partai Sok Pancasilais Ogah Bersalaman

Direktur eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu menjelaskan, manuver Ketua Umum NasDem Surya Paloh menemui Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman telah menjadi perhatian Jokowi. Namun, Ipang panggilan akrab Pangi- menganggap Presiden Ketujuh RI itu terbawa perasaan alias baper dan lebai dalam mengomentari pertemuan Surya dan elite PKS.

Ipang menegaskan, seharusnya Jokowi pada periode kedua pemerintahannya cukup memastikan partai-partai pendukungnya tertib dalam berkoalisi dan disiplin mendukung kebijakan pemerintah. "Mengapa sampai soal merangkul oposisi, berpelukannya Pak Surya dengan pimpinan partai oposisi menjadi problem dan menjadi perhatian presiden? Ini sama saja menghabiskan energi politik," sebutnya.

BACA JUGA: Sebenarnya Pak Jokowi Itu Sedang Menegur Keras Surya Paloh

Lebih lanjut Ipang mengatakan, memang tidak mudah bagi parpol yang berada dalam gerbong koalisi pendukung pemerintah untuk mengelola emosi publik maupun berakrobat dengan sentimen masyarakat. Oleh karena itu tak mengherankan bila akhirnya ada partai koalisi pendukung pemeirntah yang bertindak layaknya oposisi.

"Maka tidak mengherankan dan kita enggak kaget bahwa di periode kedua pemerintahan Jokowi akan cepat terjadi korsleting yang berasap di partai koalisi sendiri. Bermanuver, salah posisi yang mestinya mendukung penuh kebijakan pemerintah malah salah peran sebagai oposisi," ulas Pangi.

Pengamat asal Sumatera Barat itu itu menegaskan, semestinya pihak yang kalah dalam pemilihan presiden (pilpres) tahu diri untuk tak ikut menikmati kekuasaan. Adapun yang menang pemilu, katanya, bisa menjalankan kekuasaan.

"Ini yang tidak lagi dijaga. Kue kekuasaan juga diambil oleh yang kalah dalam pemilu, sementara yang jelas-jelas berjuang dalam kontestasi elektoral pilpres seperti dicueki dan dianggap enggak penting. Jadi betapa pentingnya tahu diri dan tahu peran yang harus dimainkan," tandas Ipang.(fat/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler