Serbadigital di Workshop Standardisasi Informas Pariwisata

Rabu, 01 November 2017 – 11:38 WIB
Ilustrasi: Techrasa

jpnn.com, BOGOR - Workshop Standardisasi Penyediaan Informasi Pariwisata di Hotel Royal Tulip, Bogor dibuka dengan gaya yang paten. Unsur Pentahelix yang terdiri dari akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas dan media diajak langsung on.

Semua diajak berdiskusi, saling bertukar pikiran tentang berbagai permasalahan. Ending-nya adalah mencari solusi dalam menyikapi keterbukaan informasi publik bidang kepariwisataan di era digital.

BACA JUGA: Top! STP Bandung Pertahankan TedQual Certification UNWTO

“Saya punya keyakinan, hanya dengan cara yang tidak biasa, kita bisa mendapatkan hasil yang luar biasa! Dan cara yang luar biasa itu, adalah digital,” terang Sekretaris Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ukus Kuswara di sela pembukaan Workshop Standardisasi Penyediaan Informasi Pariwisata di Hotel Royal Tulip, Bogor, Senin (30/10) malam.

Itu sebabnya standardisasi penyediaan informasi pariwisata ikut disentuh. Maksudnya bukan untuk gaya-gayaan. Bukan juga biar disebut selera masa kini. Sebab, yang dicari adalah happy ending dari persoalan masa kini.

BACA JUGA: Debut Manis Festival Pulo Dua Disambangi Ribuan Wisatawan

Ukus terlihat tidak main-main dengan tema Standardisasi Penyediaan Informasi Pariwisata itu. Menurutnya, even yang digelar Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar itu bukanlah sekedar omongan, tapi harus diwujudkan secara kongkret.

Pola pikir dan cara kerja Kemenpar yang bergaya kuno mulai digeser ke framework digital. “Saya punya keyakinan, hanya dengan cara yang tidak biasa bisa mendapatkan hasil yang luar biasa! Dan cara yang luar biasa itu, adalah digital,” ucapnya.

BACA JUGA: Borobudur Marathon 2017 Bakal Dongkrak Perekonomian Jateng

Staf Khusus Menpar Bidang Media Don Kardono yang juga hadir di  acara itu ikut mengamini pernyataan Ukus. Bahkan, katanya, speed-nya harus dilakukan dengan cepat. 

“Peta persaingan ke depan adalah yang cepat menyalip yang lambat. Bukan yang besar menginjak yang kecil,” ucap Don.

Kecepatan menjadi kata kunci yang tak bisa ditawar lagi. Dan untuk menjadi yang tercepat, framework-nya harus digital.

“Harus digital. Sebanyak 100 event premiere nggak akan jadi apa-apa kalau manajemen media digitalnya tidak dikelola dengan baik. Jangan lupa, media digital dampaknya empat kali lebih kuat dari media konvensional,” ucapnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya juga melontarkan pernyataan bernada sama. Baginya, ranah digital sudah harus disentuh guna mewujudkan visi 20 juta wisman di 2019.

Future customers atau pelanggan masa depan, sudah hampir pasti digital minded semua. Saat ini Dunia sudah berada dalam genggaman. Kalau tidak segera mengubah pola pikir ke digital, kita pasti ketinggalan. Sulit mengejar rival-rival utama kita,” ujar Menpar Arief Yahya.

Semakin digital maka kemenpar bisa menggunakan beragam aplikasi dan digital tools untuk menyentuh satu per satu konsumen secara personal. ''Kita bisa tahu demografi, psikografi, dan perilaku konsumen kita satu-satu. Semakin digital maka cara kerja kita dalam menggaet wisatawan akan semakin profesional, misalnya dengan memanfaatkan convergence media yang mengintegrasikan paid, owned, dan social media,'' katanya.

Dan semakin digital maka Kemenpar akan bisa menjangkau konsumen global dari manapun dia berada di muka bumi ini. ''Begitu kita menggunakan platform digital, maka kita bisa diakses oleh wisatawan dari manapun di seluruh dunia,"ujarnya. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gala Dinner Malaysia Airlines Menggoda Investor untuk Jatim


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler