Seribu Langkah untuk Pulihkan Ekonomi Global

Minggu, 16 November 2014 – 07:35 WIB

BRISBANE - Lambannya pemulihan perekonomian global tak menyurutkan optimisme negara-negara anggota G20.
--------------
Laporan Ahmad Baidhowi dari Brisbane
------------
Dalam G20 Leader's Summit kemarin (15/11), negara-negara dengan kue ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia tersebut mematok target ambisius dalam empat tahun ke depan.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan, G20 memiliki peran strategis yang bakal menentukan arah perekonomian global. Karena itu, G20 siap bekerja keras untuk memberikan tambahan pertumbuhan ekonomi global 2 persen pada 2018 mendatang.

BACA JUGA: Puspayoga Yakin Indonesia bisa Rajai Ekspor Pakaian Muslim di Dunia

"Inilah yang diharapkan oleh dunia," ujarnya saat membuka G20 Leaders Summit di Brisbane Convention and Exhibition Center (BCEC) kemarin (15/11).

Sebagai gambaran, pada 2013 lalu, perekonomian global hanya mampu tumbuh 3,2 persen. Tahun ini, Dana Moneter International (IMF) memproyeksi ekonomi dunia hanya akan tumbuh di kisaran 3,4 persen dan tahun depan sebesar 3,8 persen.

BACA JUGA: Harga Emas Turun Efek Dollar Menguat

Dengan begitu, target tambahan 2 persen lebih akan mengarahkan pertumbuhan ekonomi global ke kisaran 5-6 persen.

Saat ini, anggota G20 yang terdiri dari 19 negara dan Uni Eropa menguasai sekitar 85 persen output ekonomi dunia dan sekitar 80 persen pangsa perdagangan dunia. Dengan demikian pergerakan G20 akan berpengaruh signifikan pada ekonomi global.

BACA JUGA: Senator Dukung Kenaikan BBM

Abbott mengakui, perekonomian global menghadapi tantangan berat saat ini, mulai dari gejolak politik di Timur Tengah, lambatnya pemulihan perekonomian Eropa, hingga ekonomi global yang masih rentan berbagai guncangan.

Namun demikian, dirinya optimistis G20 bisa melahirkan kesepakatan penting untuk mencapai target tambahan pertumbuhan ekonomi 2 persen. "Tambahan itu akan mendorong akitivitas perekonomian global hingga USD 2 triliun dan membuka jutaan lapangan kerja baru," katanya.

Menurut Abbott, hal itu akan bisa dicapai dengan pembangunan infrastruktur, perluasan kerjasama perdagangan bebas, reformasi struktural ekonomi, dan konsolidasi fiskal. Hal itulah yang akan dirumuskan dalam pertemuan puncak para kepala Negara selama dua hari (15 - 16 November).

"Ini sekaligus menjadi pesan kepada dunia bahwa pemerintah G20 akan konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan menjadikan dunia lebih baik," ucapnya.

Sebelum pertemuan puncak para kepala negara, para menteri keuangan G20 sudah bertemu di BCEC untuk merumuskan kebijakan yang akan disampaikan kepada kepala Negara masing-masing.

Menteri Keuangan Australia Joe Hockey yang menjadi pimpinan rapat mengatakan, para menteri keuangan sudah mencakapi kesepakatan Deklarasi Sydney (Sydney Declaration) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global lebih dari 2 persen pada 2018 mendatang. "Ini terobosan besar yang belum pernah terjadi di G20," ujarnya.

Hockey mengakui, perekonomian global memang masih menghadapi tantangan besar. "Namun, dia bersama para menteri keuangan lainnya sudah berkomitmen untuk menggunakan berbagai kebijakan guna mengejar target tambahan pertumbuhan ekonomi 2 persen. "Jadi, kami tetap optimistis," ujarnya.

Menurut Hockey, para menteri keuangan juga membahas perkembangan ekonomi terbaru. Dia menyebut, aktivitas ekonomi menunjukkan peningkatan di Asia dan sudah mulai muncul sinyal pemulihan dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Spanyol, dan Kanada.

"Kami juga sudah menyiapkan 1.000 langkah yang akan mendorong investasi infrastruktur, peningkatan perdagangan, memangkas hambatan tarif dagang, dan mengangkat partisipasi pekerja," katanya.

Khusus untuk pengembangan infrastruktur, lanjut dia, G20 menyadari adanya gap atau jurang investasi infrastruktur antara negara maju dan negara berkembang. Karena itu, para menteri keuangan kini tengah menyiapkan Global Infrastructure Hub yang akan berpartner dengan pihak swasta. "Akan ada miliaran dolar investasi baru di bidang infrastruktur," jelasnya.

Salah satu kesepakatan penting yang juga dicapai dalam pertemuan para menteri keuangan adalah reformasi sektor perpajakan. Hockey mengatakan, G20 akan mengambil upaya-upaya yang diperlukan untuk memperbaiki system pajak, terutama untuk menekan praktek penghindaran pajak yang merugikan banyak negara.

Transparansi melalui tukar menukar data juga akan didorong untuk mendeteksi praktek-praktek kecurangan pajak. "Langkah-langkah ini akan aktif 2015 mendatang," ucapnya.

Salah satu agenda yang juga mendapat perhatian besar dalam forum G20 kali ini adalah wabah ebola. Dalam kesepakatan yang dirilis kemarin, para pemimpin G20 sepakat untuk mendukung penuh berbagai upaya penanggulangan wabah ebola di Afrika, terutama di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam konferensi pers kemarin menyambut baik kesepakatan G20 dalam penanggulangan ebola. Menurut dia, penyakit tersebut sudah mengakibatkan banyak merenggut nyawa dan berimbas buruk pada perekonomian Afrika.

"Bank Dunia akan memobilisasi pengumpulan dana hingga USD 1 miliar untuk penanggulangan krisis Ebola," katanya. (owi/sof)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Perbankan Bangun Infrastruktur Bursa


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler