Presiden Resmikan Pelabuhan Patimban, Bea Cukai Siap Bantu Akses Kepabeanan

Rabu, 30 Desember 2020 – 23:59 WIB
Bea Cukai siap membantu akses kepabeanan di Pelabuhan Internasional Patimban di Subang, Jawa Barat. Foto: Humas Bea Cukai.

jpnn.com, BANDUNG - Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jawa Barat Saipullah Nasution menyatakan kesiapan jajarannya dalam membantu akses kepabeanan di Pelabuhan Internasional Patimban di Subang, Jabar.

Hal itu setelah dilakukan peresmian perdana Pelabuhan Patimban oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari Istana Kepresidenan Bogor, Jabar, 20 Desember  2020.

BACA JUGA: Jokowi Lakukan Peluncuran Awal Pelabuhan Internasional Patimban

Bea Cukai telah membuat gate system port of Patimban sebagai source data display dashboard verification NPE+VIN (Vehicle Identification Number) car dalam proses customs clearance ekspor guna menjalankan tugasnya di Pelabuhan Patimban.

“Selaras dengan Presiden, kami pun berharap pelabuhan ini akan memperkuat keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok dan bisa mendorong peningkatan ekonomi Jawa Barat," kata Saipullah, Rabu (30/12).

BACA JUGA: Bea Cukai Siap Membantu Pengembangan Pelabuhan Patimban

Ia berharap semoga keberadaan Pelabuhan Patimban makin terkonsolidasi dengan pengembangan industri dan perekonomian lokal. Selain itu bisa mempercepat pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru dan memberikan kecepatan pelayanan di bidang logistik. "Sehingga membuat produk dalam negeri memiliki daya saing di pasar global,” ujar Saipullah.

Pelabuhan Patimban akan menjadi cikal bakal kawasan metropolitan Rebana yang terdiri dari 13 kota industri baru.

Segitiga Rebana merupakan lahan yang ditujukan untuk merangsang investasi di sebelah utara dan timur Jawa Barat.

Kawasan ini meliputi meliputi Subang, Cirebon, dan Majalengka.

Dalam operasi perdana Pelabuhan Patimban, ada 140 mobil yang diangkut untuk diekspor dari tiga perusahaan, yaitu Toyota (TMMIN): 57 Unit (44 Fortuner, 6 Innova, 7 Vios), Daihatsu (ADM): 65 Unit (30 Rush, 35 Wigo), dan Suzuki (SIM): 18 Unit (Ertiga) dengan tujuan ekspor menuju Brunei Darussalam.

Saipullah pun menjelaskan bahwa biaya logistik industri manufaktur Indonesia mencapai angka 28 persen dari total gross domestic product (GDP), di antaranya 65 persen dari biaya logistik berasal dari sektor transportasi.

“Oleh karena itu, Pelabuhan Patimban ditujukan untuk mereduksi biaya logistik industri manufaktur Indonesia, khususnya di Jawa Barat yang berasal dari sektor  transportasi,” tambahnya.

Saipullah turut mengusulkan pengembangan Pelabuhan Patimban memanfaatkan digitalisasi, sehingga memiliki daya saing yang tinggi, untuk keperluan  pengembangan ekonomi nasional. Selain itu, juga mengusulkan untuk dibentuknya suatu Kawasan Industri Terpadu agar menarik investasi dan membuka lapangan kerja serta menurunkan biaya logistik. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler