Si Ibu Cerita tentang Kondisi Anaknya yang Divaksin Palsu, Ngeri!

Jumat, 01 Juli 2016 – 05:55 WIB
Menkes Nila Farid Moeloek turut mendatangi lokasi Klinik Bidan Elly Novita yang berada di Jalan Raya Cantex, Kelurahan Ciracas, Jakarta Timur, kemarin sekira pukul 14.30 WIB. Foto: MIFTAHULHAYAT/JAWA POS


JAKARTA -  Kendati kasus dugaan vaksin palsu telah terungkap sejak dua minggu lalu, ternyata orang tua sulit untuk mengelak dari jebakan vaksin palsu. 

Siti Nurkholifah, 27, ibu dari bayi berumur enam bulan, Gaisan Ahmad Altanis, menangis tersedu setelah mengetahui anaknya mendapatkan vaksin palsu di Klinik Bidan Elly Novianti. 

BACA JUGA: Tito Karnavian Mohon Restu Senior Hadapi Cobaan

Anaknya tersebut baru saja vaksinasi pada Rabu pagi (29/6) di klinik yang digerebek Bareskrim malam harinya.

Pukul 13.00 polisi masih berkumpul di Klinik yang beralamat di Jalan Centek Raya, Kelurahan Ciracas, Jakarta Timur. Ternyata, polisi itu sudah mengundang sejumlah orang tua dan bayinya yang masuk daftar korban vaksin palsu, diantaranya Dewi,28, dan anaknya Farisa Rifanda Handoko, 6 bulan. 

BACA JUGA: Lippo Merasa Bersih dari Kasus Suap ke Panitera PN Jakpus

Lalu ada juga pasangan suami istri Hendra, 36 dan Lela,37, serta anak bungsunya Khazindra,2. Serta Eka Rachmawati, 23 dan bayinya Andika Putra Mahes, 6 Bulan. Ketiga orang tua ini tampak kaget mengetahui vaksin yang digunakan anaknya kemungkinan palsu.

Beberapa menit kemudian, ada seorang ibu yang datang bersama anaknya. Dia bermaksud untuk mengambil kuitansi vaksinasi yang dilakukan Rabu pagi. Siapa sangka, dia mendapatkan kabar yang mengejutkan dari salah seorang anggota kepolisian, bahwa vaksin yang digunakan Bidan Elly ternyata palsu. Mendengar itu dia tersentak.

BACA JUGA: Ya Ampun, di Bulan Suci pun Masih Tetap Korupsi

Dia langsung terduduk di ruang tunggu klinik. Air matanya tak terasa mulai mengalir. Mukanya merah. Anaknya yang tertidur digendongannya hanya dipandangi. Pada Jawa Pos, dia mengungkapkan keresahan hatinya. Menurutnya, kondisi yang terjadi padanya seperti sedang terjebak. 

”Saya sudah mengetahui dari pemberitaan kalau ada vaksin palsu, tapi saya tidak menyangka kalau saya dan anak harus mengalaminya,” tuturnya sesenggukan. 

Terkadang dia harus menarik napas panjang untuk kembali memulai pembicaraan. Siti menuturkan, awalnya dia menginginkan untuk vaksinasi di puskesmas. Tapi, orang tuanya memintanya untuk vaksinasi di tempat yang lebih terjamin, karena ini untuk anak pertama. 

Maka, pilihan jatuh pada Klinik Bidan Elly Novianti. ”Di tempat ini pula, saya melahirkan anak pertama saya ini,” tuturnya dengan mata yang sembab. 

Saat ditanya soal apa yang diharapkan dari pemerintah, tubuhnya bergetar. Dia menjawab,”sebentar mas, saya masih shock,” tuturnya sembari memandangi anaknya yang mulai terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba, dia berceletuk. 

”Saya khawatir ada dampak kesehatan yang buruk pada anak saya. Itulah mengapa penting untuk mengetahui kandungan vaksin palsu ini,” ujarnya.

Kalau kandungan vaksin palsu itu diketahui, maka langkah selanjutnya bisa ditempuh. Apakah anaknya memerlukan tindakan medis lain atau hanya perlu untuk vaksin ulang. ”Saya harus menunggu dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes),” tuturnya ibu yang tinggal di Jalan Mabes TNI tersebut. 

Sayang, dari delapan orang tua dan anak yang terdaftar menjadi korban vaksin palsu di Klinik Bidan tersebut, tidak semuanya hadir.

Tidak berapa lama, ternyata Kabareskrim Komjen Ari Dono dan Menteri Kesehatan Nila moeloek tiba di Klinik tersebut. Keduanya ingin mengetahui secara langsung kondisi orang tua dan anak yang menjadi korban vaksin palsu. 

Nila sempat bertanya pada Dewi, ibu dari Farisa yang sekitar empat bulan lalu vaksinasi di Klinik tersebut. ”Apa yang terjadi setelah vaksinasi,” ujarnya.

Dewi mengaku bila anaknya itu sempat mutah selama seharian. Muntahan itu berwarna hijau. Dia khawatir kalau vaksin palsu itu menyebabkan anaknya muntah-muntah. ”Saat itu saya hanya berpikir kalau lagi masuk angin saja,” tuturnya.

Kejadian yang serupa ternyata juga terjadi pada Andika Putra, Bayi dari Eka Rachmawati. Saat ditanya Kabareskrim terkait kondisinya setelah divaksinasi, Eka menjawab bahwa anaknya muntah sejak siang hari hingga malam hari. ”Anak saya vaksinasinya memang siang hari,” tuturnya.

Soal penyebab muntah itu, dia tidak mengetahui. Tapi, setelah muntah seharian, berangsung-angsur anaknya itu pulih. ”Sudah tidak muntah setelah seharian. Tapi, kasihan mukanya pucat sekali,” jelasnya.

Saat itu, Kabareskrim tampak mencatat semua jawaban dari orang tua anak yang mengkonsumsi vaksin palsu tersebut. Sesekali, Ari Dono juga berdiskusi dengan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Brigjen Agung Setya terkait masalah tersebut. 

Tak lama, Kabareskrim dan Nila masuk ke ruang pemeriksaan di klinik tersebut. Di sana sudah menunggu bidan Elly Novianti yang sekarang statusnya menjadi terperiksa dan saksi kasus vaksin palsu tersebut. Sayang, pertemuan itu dilakukan tertutup. 

Setelah kurang lebih lima menit, Kabareskrim dan Menkes keluar dari ruang pemeriksaan. Jawa Pos sempat bertanya soal vaksin palsu pada bidan tersebut, Elly hanya menyebut kalau dirinya tertipu dengan produsen vaksin tersebut. ”Saya mengiranya asli,” tuturnya singkat.

Tampak Elly berjalan menuju ke lantai dua kliniknya. Namun, dia melihat salah seorang orang tua dan bayi yang menjadi kliennya. Elly lalu berjongkok dan mengobrol dengan orang tua tersebut. 

Berulang kali, dia tersenyum saat ngobrol dengan orang tua tersebut. Dia juga sempat menyentuh pipi bayi yang setengah tertidur. Sepertinya, dia tetap berusaha menghibur para orang tua yang menjadi kliennya. (idr/mia/ian)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Wabendum PD Terjaring OTT, Ini Sindiran Loyalis Anas untuk SBY


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler