Si Kecil Demam? Jangan Ukur pakai Tangan-Meter, Lakukan Langkah Seperti Ini

Selasa, 31 Maret 2015 – 05:37 WIB
Saat si Kecil demam, Ibu harus tetap tenang. Foto Ilustrasi: Dite Surendra/Jawa Pos

jpnn.com - SAAT menempelkan punggung tangan ke dahi si kecil, bunda langsung cemas ketika mendapati dahinya terasa hangat atau panas. Namun, bunda tidak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa si kecil demam, kemudian segera memberinya penurun demam atau periksa ke spesialis anak.

 

Dua spesialis anak, dr Laksmi Suci SpA dan dr Mira Irmawati SpAK, menjelaskan dengan gamblang mengenai demam.

BACA JUGA: Begini Cara Membuat Infused Lemon

Yang pertama-tama perlu bunda ketahui, demam merupakan reaksi normal saat tubuh menghadapi perubahan, entah itu sedang melawan penyakit ataupun menghadapi pertumbuhan tertentu. Demam justru hal bagus sebagai pertanda tubuh punya perlawanan sekaligus gejala terhadap suatu penyakit.

BACA JUGA: Bawang Putih Bantu Lawan Infeksi Paru-Paru

Demam bisa disebabkan infeksi virus maupun bakteri, reaksi terhadap imunisasi, kurang minum, ataupun terlalu banyak main sehingga overheating. ”Ketika bayi tumbuh gigi pun, reaksinya demam,” imbuh Mira, spesialis anak dari RSUD dr Soetomo, Surabaya.

Anak dikatakan demam apabila suhu badannya lebih dari 37,6 derajat Celsius dengan pengukuran yang tepat. ”Bukan menggunakan tangan-meter, tapi benar-benar melihat termometer. Kepastiannya dari situ untuk ditangani,” ungkap Laksmi, spesialis anak RS Husada Utama Surabaya.

BACA JUGA: Tips Menjaga Kesehatan Akibat Peradangan

Selain tanda fisik yang dipastikan lewat termometer, anak yang terserang demam biasanya lemas, tidak bergairah, nafsu makan turun, dan cenderung mood-nya negatif.

”Pada dasarnya sama seperti orang dewasa sakit. Akhirnya, yang biasanya banyak tingkah jadi pendiam. Yang kalem jadi rewel,” jelas Mira. Anak-anak merasa tidak nyaman dengan tubuhnya karena merasa aneh dengan napas yang hangat dan badan yang terasa pegal-pegal.

Para dokter menganjurkan untuk mengompres anak pada lipatan-lipatan tubuh, bagian ketiak, leher, lipatan siku dan kaki, atau selangkangan. Selain mengompres, mengajak anak berendam sebentar di dalam air suhu keran dapat membantu. Mengompres atau berendam tidak boleh menggunakan air dingin.

”Di otak kita punya sistem thermostat. Sistem ini menjaga suhu tubuh tetap stabil. Air hangat, selain memperlancar peredaran darah, akan membuat sistem ini memberi perintah menurunkan suhu,” ungkap Laksmi. Sebaliknya, bila dikompres dengan air dingin, thermostat bisa tertipu dan malah menaikkan suhu tubuh. Menggunakan air hangat juga berguna untuk menyamankan anak.

Selain mengompres, Mira mengingatkan orang tua memberi anak banyak minum atau makanan berkuah. ”Pada bayi yang masih harus diberi ASI eksklusif, berikan yang banyak pula,” ungkap Mira yang juga konsultan laktasi. Dia menjelaskan, penyebab demam adalah zat pirogen endogen dan eksogen. Pirogen eksogen, seperti yang disebutkan di atas, bisa merupakan bakteri atau virus.

Sementara itu, pirogen endogen muncul sebagai reaksi atas pirogen eksogen. ”Zat-zat ini berputar di tubuh. Digelontornya ya dengan air. Pastikan anak buang air kecil untuk membawa keluar zat-zat pirogen ini,” jelasnya. Lagi pula, saat demam, anak berisiko dehidrasi sehingga membutuhkan banyak cairan.

Mira mengingatkan orang tua selalu menyediakan obat penurun panas di rumah. Biasanya, cukup parasetamol. ”Cukup satu saja, jangan dicampur-campur nanti malah overdosis,” tegasnya.

Anak juga harus dikondisikan senyaman-nyamannya. Pijatan lembut diperbolehkan untuk merilekskan badan. Beri baju yang tipis-tipis saja supaya panas tubuh gampang keluar.

Suhu tinggi hingga menggigil atau kejang sudah bukan gejala berupa demam lagi. Dibutuhkan observasi lebih lanjut dan penanganan serius. (puz/c6/dos)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kedelai Sehat atau Berbahaya? Ini Dia Jawabannya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler