Sikap Antikritik Erdogan Bunuh Satire Politik Turki

Kamis, 11 Juni 2020 – 22:16 WIB
Poster kampanye Recep Tayyip Erdogan. Foto: Reuters

jpnn.com, ISTANBUL - Komedian, penulis, dan pembawa acara bincang-bincang Stephan Colbert, yang juga dikenal sebagai salah satu kritikus paling keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mulai memproduksi serial animasi satire berjudul "Our Cartoon President” pada tahun 2017. Kartun itu mengejek Trump dan kabinetnya, penasihat dan anggota keluarga.

“Our Cartoon President” adalah komedi politik yang sangat kritis terhadap pemerintahan Trump tetapi juga tidak menyatakan dukungan ke pihak lain. Secara umum, meskipun seri ini kebanyakan menyindir Trump dan anggota keluarganya, dari waktu ke waktu, satire itu juga mengolok-olok tokoh-tokoh seperti CEO Amazon, Jeff Bezos, dan para pemimpin Partai Demokrat.

BACA JUGA: Erdogan dan Trump Bersepakat soal Pertumpahan Darah di Libya

Satire seperti itu sekarang ini tidak sempat terpikirkan di Turki. Presiden Recep Tayyip Erdogan tidak akan mentolerir kritik sekecil apa pun. Itu karena jaksa dan hakim siap mengambil tindakan cepat terhadap kritik seperti “Our Cartoon President”, sehingga mendorong masyarakat untuk berpikir jauh-jauh sebelum melakukannya.

Melansir laman Ahvalnews, Selasa(9/6), Turki dulu memiliki program televisi serupa. Program “Plastip Show” tidak ragu-ragu mengkritik tokoh-tokoh politik negara dengan menggunakan media boneka plastik.

BACA JUGA: Dokumen Lawas Ungkap Cara Kotor Erdogan Mengejar Kekuasaan

Bahkan Kenan Evren, yang dikenal sebagai arsitek kudeta tahun 1980 dan presiden pascakudeta, turut dalam pertunjukan semacam itu, dan dia juga tidak lepas dari kritik seperti para pemimpin Turki lainnya.

Demikian pula, sebuah program yang disebut “Class of Leaders” pada 1990-an dengan tokoh anak-anak yang berpura-pura menjadi figur politisi terkemuka saat itu, ditampilkan dengan cara yang konyol. Dalam satu episode, pemimpin Islamist Welfare Party, Necmettin Erbakan bahkan digambarkan sedang mabuk.

BACA JUGA: Belum Puas, Rezim Erdogan Kembali Tangkap Ratusan Tentara Terkait Kudeta 2016

Namun, untuk saat ini sangat tidak mungkin membuat program apa pun yang berani mencoba melakukan kritik semacam itu terhadap Erdogan. Dewan Tertinggi Radio dan Televisi (RTÜK) Turki pasti akan langsung menutup media yang bersangkutan, atau jika itu ada pada platform media online maka situs tersebut akan dilarang.

Di tahun 1990-an, baik Amerika Serikat maupun Turki, mungkin terganggu oleh program semacam ini. Tetapi, kritik seperti itu, dan bahkan yang lebih keras, tidak dianggap sebagai ancaman. Umumnya mereka menganggap yang berbahaya adalah pemimpin atau diktator otokratis.

Anak-anak Trump telah dikritik dalam “Our Cartoon President”. Sebagai contoh, Eric Trump digambarkan sebagai yang paling bodoh dalam keluarga. Ivanka, di sisi lain, lebih mementingkan mereknya daripada merawat anak-anaknya. Ibu Negara Melania Trump sebagian besar digambarkan tengah memperjuangkan hubungannya yang pahit dengan suaminya.

Namun di Turki, baik Bilal Erdo?an tidak dapat dikritik seperti Eric Trump termasuk Sümeyye Erdo?an sebagaimana Ivanka Trump. Juga jarang terlihat kritik atas Ibu Negara Emine Erdo?an kecuali dalam beberapa kartun.

Kurangnya sindiran politik tidak hanya berlaku untuk Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa, tetapi juga menguntungkan partai-partai politik lain karena perspektif mereka seringkali tidak jauh berbeda dengan AKP dalam beberapa hal.

Jadi, sementara sangat sulit untuk mengkritik Erdogan dan lingkaran dalamnya dan upaya apa pun dapat menyebabkan seseorang berakhir di pengadilan atau penjara, kebisuan partai-partai oposisi atas upaya serupa untuk meredam kebebasan berekspresi di antara basis partai mereka juga mengecewakan.

Akibatnya, bahkan jika kekuasaan berpindahtangan di Turki, tampaknya mereka yang mungkin menggantikan elite politik saat ini bisa saja berperilaku serupa.

Mungkin kebangkitan satire politik di Turki dapat dilakukan melalui karikatur dan satire tokoh-tokoh oposisi, sehingga pada titik tertentu di masa depan dapat diperluas untuk menyindir orang-orang di sekitar Erdogan, bahkan jika mungkin masih sulit untuk menyertakan presiden sendiri dalam upaya semacam itu.

Erdogan tidak akan pernah mengizinkan siapa pun untuk menggambarkannya dalam program satire semacam itu, karena ia bertujuan untuk mengkultuskan dirinya sebagai pemimpin nasional setelah kematiannya. Namun, sejarah tidak pernah memberikan kesucian itu kepada para pemimpin yang menindas seperti itu. (dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler