Simak nih Penjelasan dari Mbah Rono soal Gempa

Kamis, 08 Desember 2016 – 13:04 WIB
DATA KORBAN: Petugas RSUD Pidie Jaya, mendata korban meninggal dunia pasca gempa 6,5 SR di Pidie Jaya, Rabu (7/12). Foto: ZIAN MUSTAQIN/RAKYAT ACEH/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Bencana gempa bumi di Pidie Jaya harus menjadi pelajaran buat semuanya. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana.

Baik itu bencana gempa bumi, tanah longsor, atau gunung merapi.

BACA JUGA: Keren..Menhub Budi Buat Aksesibilitas Pariwisata

Demikian dikatakan mantan kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono.

Dia mengatakan dalam kurun 2010-2011 di seluruh dunia terjadi 12 kali gempa dengan korban lebih dari seribu orang.

BACA JUGA: Hamdalah, Bantuan buat Gempa Aceh Terus Mengalir ke PMI

Nah dari 12 gempat dahsyat itu, empat diantaranya terjadi di Indonesia.

Yakni di Aceh yang berujung tsunami (2004), di Nias (2005), Jogjakarta (2006), dan Padang (2009).

BACA JUGA: Wakil Ketua MPR Serap Aspirasi Unsrat

’’Kalau diperhatikan, tiga dari empat bencana hebat di Indonesia pada kurun waktu itu, semuanya ada di pulau Sumatera,’’ katanya kemarin.

Surono mengatakan alam tidak bisa direkayasa. Selain itu setiap kejadian gempa bumi atau bencana alam lain, itu bukan berarti alam murka dan ingin membunuh manusia.

Menurutnya alam sudah ada lebih dahulu ketimbang manusia. Sehingga manusia itu tamu sedangkan alam tuan rumahnya. ’’Tamu tidak bisa mengatur tuan rumah,’’ jelasnya.

Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mengenali hal positif dan negatif dari alam.

Dia mengatakan di daerah yang rawan bencana, itu umumnya ideal untuk ditempati. Diantaranya lokasi yang memiliki sesar aktif, tanahnya subur.

Kemudian daerah pegunungan juga dingin dan subur. Lalu di daerah yang lawan longsor, juga memiliki kandungan air tanah melimpah.

Pria yang akrab disapa Mbah Rono itu mengatakan, yang perlu ditekankan adalah bagaimana manusia mengenali bahwa di balik kesuburan alam itu ada potensi bencana yang tidak bisa dihindari.

Dia berharap materi-materi mitigasi bencana diajarkan mulai dari tingkat SD.

Menurut Surono kejadian gempa bumi di Jepang tidak sehebat di Indonesia.

Namun di Jepang masyarakatnya memiliki kesadaran tinggi untuk mengerti alamnya.

Sementara di Indonesia, dia pernah ditolak oleh kepala daerah saat menawarkan materi pelatihan mengantisipasi bencana.

’’Katanya kalau meninggal tertimpa bangunan itu sudah waktunya,’’ jelas Surono.

Padahal dengan mitigasi bencana yang bagus, masyarakat bisa menekan seminimal mungkin potensi korban jiwa.

Terkait materi-materi teknis seperti bangunan ramah gempa dan arsitektur lainnya, menurut dia sudah ada tinggal dibaca.

Yang jadi tantangan adalah bagaimana masyarakat Indonesia menaruh perhatian untuk membaca dan mempelajarinya.

’’Daerah yang rawan bencana, tidak mungkin dikosongkan dari manusia,’’ pungkas dia. (wan/sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Satu Lagi Aktivis Ditangkap terkait Dugaan Makar, Dia adalah...


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler