Status Gunung Anak Krakatau Siaga 

Kamis, 27 Desember 2018 – 10:21 WIB
Gunung Anak Krakatau dilihat dari udara, 23 Desember 2018. Foto: Nurul Hidayat/Bisnis Indonesia/AFP

jpnn.com, JAKARTA - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus meningkat. PVMBG Badan Gelologi Kementerian ESDM telah menaikkkan status Gunung Anak Krakatau dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III), dengan zona berbahaya diperluas dari dua kilometer menjadi lima kilometer. 

Naiknya status Siaga (Level III) ini berlaku terhitung mulai Kamis (27/12) pukul 06.00 WIB.

BACA JUGA: Pak Topo Yakini Pantai Ancol Aman dari Erupsi Anak Krakatau

"Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius lima kilometer dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (27/12). 

Berdasarkan data PVMBG, Gunung Anak Krakatau aktif kembali dan memasuki fase erupsi mulai Juli 2018. Erupsi selanjutnya  berupa letusan-letusan Strombolian.

BACA JUGA: BMKG Kepung Gunung Anak Krakatau

Yaitu letusan yang disertai lontaran lava pijar dan aliran lava pijar yang dominan mengarah ke tenggara. "Erupsi yang berlangsung fluktuatif," tegasnya.

Pada Sabtu (22/12) terjadi erupsi tapi tercatat skala kecil, jika dibandingkan dengan erupsi periode September-Oktober 2018.

BACA JUGA: Pesan Gunung Krakatau, Waspadalah Pantai Barat Sumatera!

Hasil analisis citra satelit diketahui lereng barat-barat daya longsor (flank collapse) dan longsoran masuk ke laut. "Inilah kemungkinan yang memicu terjadinya tsunami," ungkapnya. 

Sejak Sabtu (22/12), diamati adanya letusan tipe Surtseyan yaitu alira lava atau magma yang keluar kontak langsung dengan air laut.

Hal ini berarti debit volume magma yang dikeluarkan meningkat dan lubang kawah membesar.

Kemungkinan terdapat lubang kawah baru yang dekat dengan ketinggian air laut. Sejak itulah letusan  berlangsung tanpa jeda. Gelegar suara letusan terdengar beberapa kali per menit.

Saat ini aktivitas letusan masih berlangsung secara menerus, yaitu berupa letusan Strombolian disertai lontaran lava pijar dan awan panas. Pada Rabu (26/12) terpantau letusan berupa awan panas dan Surtseyan.

Awan panas ini yang mengakibatkan adanya hujan abu. Dominan angin mengarah ke baratdaya sehingga abu vulkanik menyebar ke baratdaya ke laut.

Adanya beberapa lapisan angin pada ketinggiaan tertentu mengarah ke timur menyebabkan hujan abu vulkanik tipis jatuh di Kota Cilegon dan sebagian Serang pada Rabu (26/12) sekitar pukul 17.15 WIB. 

"Ini tidak berbahaya. Abu vulkanik justru menyuburkan tanah. Masyarakat agar mengantisipasi menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar saat hujan abu," paparnya. 

Berdasar pengamatan Gunung Anak Krakatau selama Kamis (27/12) pukul 00.00 – 06.00 WIB, aktivitas erupsi masih berlangsung, tremor menerus dengan amplitude 8-32 milimeter (dominan 25 milimeter), dan terdengar dentuman suara letusan.

PVMBG merekomendasikan masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas di dalam radius lima km dari puncak kawah karena berbahaya terkena dampak erupsi berupa lontaran batu pijar, awan panas dan abu vulkanik pekat.

"Di dalam radius lima kilometer tersebut tidak ada permukiman," ujarnya.

Sementara itu, BMKG merekomendasikan, masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di pantai pada radius 500 meter hingga satu kilometer dari pantai untuk mengantisipasi adanya tsunami susulan. Tsunami yang dibangkitkan longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya. Gunakan selalu informasi dari PVMBG untuk peringatan dini gunungapi dan BMKG terkait peringatan dini tsunami selaku institusi yang resmi.

"Jangan percaya dari informasi yang  menyesatkan yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan," kata Sutopo. (boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gunung Anak Krakatau Belum Tenang, Potensi Tsunami Membayang


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler