Sudah Diet Ketat tapi Selalu Gagal? Mungkin ini Penyebabnya

Selasa, 19 Desember 2017 – 04:44 WIB
Diet. Ilustrasi. Foto IST

jpnn.com - Anda selalu gagal dalam menurunkan berat badan, padahal sudah diet ketat? Jika ya, kegagalan tersebut mungkin saja terjadi lantaran gen di dalam tubuh.

Bahkan sebuah penelitian telah membuktikan hal tersebut.

BACA JUGA: 6 Makanan Tinggi Kalori ini Bisa Bantu Bakar Lemak

Penelitian yang dilakukan oleh Texas A&M University itu mengungkapkan, keberhasilan diet bisa saja bergantung pada gen masing-masing orang. Studi ini melihat bagaimana perbedaan genetik memengaruhi respons kesehatan tikus terhadap beberapa makanan populer. Lalu, tikus dipisahkan menjadi empat kelompok genetik.

“Tikus memiliki komposisi genetik yang serupa dengan manusia,” ujar David Threadgill, profesor di Texas A&M College of Medicine dan College of Veterinary Medicine & Biomedical Sciences.

BACA JUGA: Ketahui Dampak Kafein pada Penderita Diabetes

Studi ini menggunakan empat pola diet yang berbeda untuk melihat respons tubuh. Pola diet tersebut antara lain diet Amerika, diet Jepang, diet Mediterania, dan diet Atkins atau ketogenik.

Dari semua itu, diet Jepang dianggap yang paling sehat. Meski demikian, salah satu kelompok tikus tidak sesuai dengan diet Jepang. Tikus-tikus dalam kelompok yang satu ini mengalami peningkatan lemak di hati, dan tanda kerusakan hati.

BACA JUGA: 4 Manfaat Sarapan Pagi

Sedangkan diet ketogenik memberikan hasil yang baik pada dua kelompok tikus. Sisanya menunjukkan kondisi yang buruk.

“Satu kelompok tikus menjadi sangat gemuk, dengan hati berlemak dan kolesterol tinggi. Sedangkan tikus pada kelompok lain tetap kurus, tapi lemak tubuh mereka meningkat,” kata William Barrington, pemimpin penulis studi.

Lantas bagaimana dengan diet Amerika dan diet Mediterania? Diet Amerika memperlihatkan reaksi yang buruk pada kebanyakan tikus. Sedangkan diet Mediterania memberikan hasil campuran. Maksudnya, beberapa tikus menjadi sehat, sementara berat badan beberapa tikus lain malah bertambah.

Menurut William, tujuan dari penelitian ini untuk menemukan pola makan yang optimal.

“Tapi yang sebenarnya kami temukan adalah hal itu sangat bergantung pada genetik individu, dan tidak ada satu pola diet yang terbaik untuk semua orang," katanya.

William mengungkapkan bahwa dia berencana mengembangkan penelitian ini untuk menentukan makanan terbaik berdasarkan genetik.

“Suatu hari, kami ingin mengembangkan tes genetik yang bisa memberi tahu setiap orang tentang makanan terbaik berdasarkan susunan genetiknya,” ujar William.

Meskipun gen ternyata berperan dalam menentukan kondisi ini, namun, menurunkan berat badan yang paling baik adalah dengan mengombinasikan diet sehat dan olahraga secara teratur. Karena, diet yang tidak diimbangi dengan olahraga tidak akan memperoleh hasil yang optimal.(BA/RVS/klikdokter)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dilanda Stres, Gracia Indri Diet Ketat sampai Kurus Begini


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Diet   diet ketat  

Terpopuler