Sukmawati

Dhimam Abror Djuraid

Rabu, 27 Oktober 2021 – 14:05 WIB
Sukmawati Soekarnoputri. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Aku tak tahu Syariat Islam,
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah, Lebih cantik dari cadar dirimu,
Gerai tekukan rambutnya suci,
Sesuci kain pembungkus ujudmu,
Rasa ciptanya sangatlah beraneka,
Menyatu dengan kodrat alam sekitar,
Jari jemarinya berbau getah hutan,
Peluh tersentuh angin laut,

Lihatlah ibu Indonesia,
Saat penglihatanmu semakin asing,
Supaya kau dapat mengingat,
Kecantikan asli dari bangsamu,
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif,
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia,

BACA JUGA: Ritual Pindah Agama, Sukmawati Soekarnoputri Didampingi Muhammad Putera

Aku tak tahu syariat Islam,
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok,
Lebih merdu dari alunan azan mu,
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah,
Semurni irama puja kepada Illahi,
Nafas doanya berpadu cipta,
Helai demi helai benang tertenun,
Lelehan demi lelehan damar mengalun,
Canting menggores ayat ayat alam surgawi,

Pandanglah Ibu Indonesia,
Saat pandanganmu semakin pudar,
Supaya kamu dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu,
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

*
Bagi Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri puisi ‘’Kidung Ibu Pertiwi’’ atau ‘’Kidung Ibu Indonesia’’ itu adalah puja-puji bagi keindahan khazanah budaya bangsa Indonesia.

BACA JUGA: Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, Inspirasi bagi Sukmawati Menganut Hindu Bali

Namun, bagi sebagian pemeluk Islam puisi dianggap sebagai penghinaan.

Membandingkan konde dengan cadar bagi Sukmawati dianggap sebagai ekspresi estetika. Namun, bagi sebagian kalangan umat Islam perbandingan itu dianggap mendegradasikan syariah Islam yang mewajibkan wanita menutup auratnya secara lengkap.

BACA JUGA: PHDI Bali Doakan Sukmawati, Semoga Mencapai Jagadhita

Sukmawati merasa tidak nyaman kupingnya karena mendengar suara azan. Baginya, suara orang mengidung lebih indah ketimbang alunan azan yang mengajak muslim menjalankan salat.

Sukmawati menganggap azan sebagai seni suara layaknya orang menyanyi di pagi hari, di tengah hari, di senja hari, di petang hari, dan di malam hari menjelang tidur. Karena itu, telinga Sukmawati terganggu oleh seni suara yang tidak ia pahami maknanya itu.

Bagi kalangan Islam cara pandang--atau cara dengar—Sukmawati terhadap azan, dan memperbandingkannya dengan kidung, adalah penghinaan, karena mempersamakan kidung yang hasil olah seni manusia yang profan, dengan azan yang merupakan panggilan religius yang bersifat transendental. 

Sukmawati tidak bisa membedakan karya seni, sebagai bagian dari budaya, dengan ritual agama yang menjadi bagian dari syariat yang didasarkan pada wahyu ilahiah.

Memperbandingkan budaya dengan agama selalu menimbulkan kontroversi, karena budaya adalah karya manusia yang bersifat nisbi sementara agama adalah wahyu yang bersifat mutlak.

Untunglah Sukmawati mengakui bahwa dia tidak paham syariat Islam. Pengakuan itu menjadi semacam disklaimer bahwa dia tidak memahami sepenuhnya konsep-konsep Islam, yang notabene adalah agama formal yang ia peluk.

Seharusnya, karena tidak memahami Islam secara utuh Sukmawati tidak melakukan perbandingan itu.

Sukmawati juga memperbandingkan bapaknya, Soekarno, dengan Nabi Muhammad saw. Sebuah perbandingan yang kembali memantik kritik, kecaman, dan laporan ke polisi.

Kali ini Sukmawati tidak memberikan disklaimer bahwa dia sebenarnya tidak paham mengenai historiografi dan biografi Muhammad saw.
Seharusnya dia melakukan disklaimer itu, sehingga perbandingan antara Soekarno dan Muhammad saw itu bisa dimaklumi sebagai perbandingan yang subjektif dan naif dari seorang anak terhadap bapak.

Dengan disklaimer itu publik bisa mafhum bahwa Sukmawati tidak pernah membaca ‘’Sirah Nabawiah’’, dan tidak memahami posisi sejarah Muhammad saw.

Syukurlah semuanya sudah lewat. Setidaknya, bagi sebagian umat Islam keputusan Sukmawati untuk keluar dari Islam—terminologi Islam menyebutnya murtad—dan masuk Hindu, adalah kelegaan tersendiri.

Daripada menjadi duri dalam daging, lebih baik sekalian Sukmawati keluar dari Islam. 

Itulah yang terjadi Selasa (26/10). Setelah perjalanan spiritual 66 tahun, Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri resmi memeluk agama Hindu. Pemuka agama Hindu memberinya nama baru yakni Ratu Niang Sukmawati. 

Ketua The Sukarno Center, Arya Wedakarna, mengatakan nama tersebut menjadi tanda penghormatan terhadap Sukmawati dalam rangkaian upacara Nilapati atau menyatu dengan pencipta dan sejarah keluarga bangsawan Sukmawati. 

Sukmawati juga dipersamakan dengan Tribuana Tunggadewi, ratu Majapahit yang dianggap sebagai salah satu di antara sedikit wanita pemimpin besar di Nusantara. Kisahnya terjadi pada 11 November 2011, Sukmawati mengikuti upacara Nilapati.

Upacara ini merupakan rangkaian berdirinya Sukarno Center sekaligus penghormatan terhadap Proklamator RI Soekarno.

Ketika itu, Sulinggih atau pemuka agama menyatakan, Sukmawati adalah reinkarnasi dari Tribuwana Tunggadewi, Ratu Majapahit penakluk Nusantara. ‘’Ada beberapa pandangan spiritual dari tokoh-tokoh di Bali oleh beliau ini terlihat seperti reinkarnasi Ibu Tribuwana Tunggadewi," kata Arya di Sukarno Center, Selasa (26/10). 

Sukmawati berasal dari keluarga bangsawan. Neneknya Nyoman Rai Srimben berkasta Brahma Pasek Bale Agung, ayahnya adalah Presiden Indonesia, suami dan anaknya merupakan bangsawan Keraton Solo.

"Maka dari itu tidak ada hal yang surprise dari tokoh di Bali menyematkan nama Ratu Niang Sukmawati. Niang itu adalah nenek sama dengan eyang putri karena beliau sudah punya cucu. Sukmawati adalah nama beliau. Kalau ratu ya dari memang keturunan bangsawan. Jadi tidak ada feodalism tapi suatu panggilan kehormatan," jelas Arya.

Publik juga tahu bahwa dari silsilah ibu kandung Sukmawati adalah keturunan tokoh mulsim Muhammadiyah di Sumatera Barat. Leluhur Sukmawati dari pihak ibu adalah bangsawan Sumatera Barat yang berkuasa menjadi sultan di Sumatera Barat sebelum era penjajahan Belanda.
Ibunda Sukmawati adalah Fatmawati binti Hasan Din, seorang wanita muslimah taat dengan garis nasab yang sangat terhormat.

Kakek Sukmawati dan neneknya, Chadijah, adalah tokoh gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang sangat dihormati di Sumatera Barat.
Silsilah kekuarga Fatmawati bersambung dengan penguasa-penguasa kesultanan besar di wilayah pesisir pantai Sumatera Barat.

Nasab silsilah Sukmawati dari garis ibu sangat mulia dan terhormat. Kalau Sukmawati mengatakan ingin kembali ke agama leluhurnya harus ditegaskan bahwa yang dimaksud adalah leluhur dari garis bapaknya.

Agama adalah masalah privat yang tidak seharusnya dijadikan komoditas politik dan pencitraan. Namun, di Indonesia agama menjadi konsumsi publik dan dijadikan sarana pencitraan diri dan sekaligus sarana mendegradasikan pihak lain. 

Clifford Geertz mengategorikan cara beragama orang Jawa ke dalam tiga kategori, santri, priyayi, dan abangan. Santri adalah mereka yang menjalankan syariat Islam, sementara abangan dan priyayi adalah muslim nominal yang beragama secara gado-gado, campuran Isalam, Hindu, dan mistisisme Jawa.

Kelompok abangan dan priyayi memeluk agama sebagai formalitas untuk mengisi KTP saja. Dalam praktik ritual sehari-hari mereka tidak melaksanakan salat, kecuali setahun sekali ketika Idulfitri.

Kelompok ini tidak mau melepas Islam karena alasan politis. Untuk bisa mendapatkan posisi politik yang tinggi seseorang harus mendapatkan legitimasi Islam secara formal. 

Sangat banyak aktivis politik yang tidak bisa memenangi kontestasi kepala daerah karena faktor agama. Inilah ironi politik Indonesia. Islam nominal atau Islam KTP jumlahnya mayoritas, tetapi secara umum mereka masih tetap tidak bisa menerima pemimpin non-Islam.

Pengamat politik dengan serampangan menyebut gejala ini sebagai politik aliran. Kasus kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pilgub DKI 2019, dianggap sebagai contoh mutakhir kebangkitan politik aliran.

Kasus ini dianggap sebagai bukti makin menguatnya politik Islam di Indonesia.

Rezim Jokowi berusaha membongkar kekuatan politik Islam dengan berbagai cara. Pembubaran Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah salah satu contohnya.

Berbagai insiden kontroversi yang dilakukan Menag Yaqut Cholil Qoumas beberapa waktu belakangan dianggap sebagai bagian dari upaya mendegradasikan Islam politik.

Upacara pindah agama yang dilakukan Sukmawati pun digoreng sebagai isu untuk mendegradasikan Islam politik. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler