Suropati Syndicate: Banyak Kelompok Gagal Berpikir Soal Bisnis PCR

Selasa, 16 November 2021 – 15:25 WIB
Tes PCR. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir buka suara perihal tudingan bisnis Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) sejak awal Covid-19. Dia menegaskan tudingan tersebut merupakan fitnah.

Menanggapi hal itu, Direktur Suropati Syndicate M Shujahri mengatakan banyak kelompok yang gagal berpikir sehingga selalu mengaitkan aktivitas bisnis keluarga Erick Thohir yaitu memanfaatkan BUMN untuk memperkaya diri dan memperluas jejaring bisnis. Isu tersebut terkesan lebih mengarah pada isu kebencian pribadi.

BACA JUGA: Luhut Binsar Bakal Dilaporkan Terkait Bisnis PCR, Begini Dia Menanggapinya

Menurut Shujahri, serangan terhadap Erick Thohir makin membuktikan bahwa Menteri BUMN itu bekerja secara profesional membenahi BUMN.

“Serangan terhadap ET ini akan makin memperlihatkan bahwa ET ini cuma tahu mengurus BUMN, karena dia bukan politisi. Dia hanya akan menjawab klarifikasi. Oh lho bilang begini, gue akan buktikan bahwa tuduhannya enggak benar,” kata Shujahri, Selasa (16/11/2021).

BACA JUGA: Polemik PCR Disebut Menguntungkan Erick Thohir Secara Politik, Ini Penjelasannya

Shujahri meyakini Erick Thohir tidak terlibat bisnis PCR, bahkan bekerja membantu masyarakat dengan tulus, tidak ada niatan untuk mencari untung dari adanya tes PCR tersebut.

“Orang sudah berniat untuk menolong tetapi masih ada aja orang yang melintir bahwa kita mengambil keuntungan,” ucapnya

BACA JUGA: Baleg DPR Serap Aspirasi Terkait RUU PT TUN Mataram

Shujahri juga menyayangkan niat baik sejumlah tokoh pada masa awal mula pandemi Covid 19 masuk ke Indonesia membantu pemerintah dalam mempercepat identifikasi dan penanganan Covd-19 dipelintir oleh segelintir orang mencari keuntungan.

“Kan itu (Tes PCR) dibuat pada dasarnya semangatnya itu mempercepat bukan untuk mengambil keuntungan, membantu negara dalam hal ini untuk mempercepat testing dan tracing supaya kita bisa cepat mendeteksi virus Corona seperti itu,” terang Shujahri.

Namun, bagi Erick Thohir maupun Luhut Binsar Pandjaitan yang turut dilaporkan atas tersebut, kata Shujahri merupakan orang-orang yang sudah selesai dengan dengan hidupnya.

“Mungkin saja kalau orang-orang yang di sana bekerja kemudian mendapat penghasilan ya wajarlah kan mereka keluar keringat. Namun, kalau yang dua tokoh (Erick dan Luhut) ini, saya percayalah sudah selesai dengan hidupnya, enggak mungkinlah mengambil keuntungan dari proses PCR itu,” ujar dia.

Shujahri mempertanyakan pihak yang menuding Erick memperkaya diri dari bisnis PCR, berapa banyak jumlah kekayaannya Erick yang bertambah dari tudingan usaha itu.

“Kalau ada bahasa memperkaya itu ada satuannya, yang disebut memperkaya harus dikejar satuannya, misalnya kita memperpanjang jalanan berarti satuan kilometer dong, berapa kilometer bertambah jalan panjang itu. Ini kalau memperkaya satuannya emang berapa uangnya tambah, berapa aset yang tambah itu dong yang harus dilihat,” kata Shujahri.

Sementara itu, Pengamat Komunikasi dari Universitas Indonesia Fatimah Ibtisam menilai banyaknya hoaks dan fitnah yang menimpa sejumlah tokoh menjadi cermin ketidakdewasaan dalam berpolitik. Baik pihak yang menyebar dan mempercayai serangan hoaks, kata Tisam, membuktikan seberapa berkualitas tingkat kematangan intelektual dan emosional seseorang.

Tisam mencontohkan serangan yang kerap menimpa sejumlah tokoh seperti Presiden Jokowi hingga sejumlah menterinya yang bersifat personal.

Yang teranyar, Erick Thohir yang diserang dengan fitnah, terutama yang berkaitan dengan keluarganya.

Menurut dia, praktik hoaks yang menimpa Erick Thohir itu sebagai bagian dari usaha untuk merusak karakter sang menteri.

Tisam menambahkan serangan fitnah yang bersifat personal menunjukkan kegagalan untuk mencari celah untuk mengkritisi sang menteri dari sisi objektif.

“Kerap muncul serangan fitnah yang sifatnya personal. Mengambil jalan pintas yang cepat untuk menjatuhkan yakni dengan informasi yang direkayasa. Di sisi lain mengangkat isu personal seperti ini kontraproduktif dan tidak bermanfaat. Mengaburkan isu dan kritik yang semestinya diangkat seperti bagaimana upaya penguatan BUMN," ucapnya.

Beberapa akhir ini, Erick Thohir kerap diserang hoaks. Mulai dari tudingan soal PCR, deklarasi capres, hingga serangan fitnah yang menyasar kepada keluarganya.

Bahkan Erick difitnah soal asal usul keluarga dan agamanya. Tisam menilai serangan fitnah itu membuktikan adanya pihak yang memancing di air keruh.

Tisam menjelaskan sulit dilepaskan kenyataan bahwa serangan itu terkait dengan posisi Erick sekarang ini sebagai salah satu menteri di pos strategis.

Sebab, menurutnya, sebelum duduk di pemerintahan Erick relatif tidak pernah diserang isu negatif. Ini membuktikan adanya pihak yang kepentingannya terganggu.

“Memang makin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpa. Mungkin, posisi sebagai menteri membuat banyak orang yang kepentingannya terganggu menyerang balik. Salah satu bentuknya adalah fitnah," ulas Tisam.

Tisam pun mengajak masyarakat untuk cerdas dalam menyaring informasi. Katanya kritik adalah hal yang diperlukan oleh pejabat publik. Namun serangan fitnah atau hoaks, menurutnya adalah hal yang tidak dapat diterima dan dibenarkan dalam konteks apa pun.

“Fitnah dan hoaks apalagi menyasar ke keluarga dan orang tua dari sang pejabat, adalah tindakan yang tidak manusiawi," ujar Tisam.(fri/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler