Survei Bima Arya: 11 Persen Reponden Percaya Covid-19 Ialah Konspirasi

Sabtu, 12 September 2020 – 15:44 WIB
Wali Kota Bogor Bima Arya. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menilai pemahaman warga terhadap bahaya penularan Covid-19 tampak mengendur. Hal itu diketahui Bima Arya setelah Pemerintah Kota Bogor menggelar survei dengan tim laboratorium forensik Covid-19 Indonesia dan sebuah lembaga swadaya masyarakat Singapura.

"Mayoritas enggak paham apa itu Covid-19. Mayoritas warga merasa bahwa jauh dari Covid-19, sedikit kemungkinan terpapar," ujar Bima dalam diskusi daring dengan tema PSBB Lagi?, Sabtu (12/9).

BACA JUGA: Anies Baswedan Perketat PSBB, Bima Arya: Saya Tangkap, Ada yang Belum Selesai

Hasil survei itu, kata dia, sebagian masyarakat berpikir Covid-19 adalah konspirasi yang sengaja dibuat. Sebelas persen responden menyatakan Covid-19 ialah teori konspirasi.

Sebagai catatan, survei yang dibeberkan Bima Arya melibatkan sekitar 21 ribu responden di Kota Bogor. 

BACA JUGA: Pernah Somasi Panji Petualang dan Tegur Irfan Hakim, Melanie Subono: Gue Menyayangi 2 Laki-laki ini

"Sebelas persen percaya teori konspirasi, 29 persen enggak percaya teori konspirasi, 50 persen bingung bisa iya (konspirasi) bisa enggak," ungkap dia.

Namun, Bima tidak membeberkan sikap 10 persen reponden survei, atas Covid-19. Dia juga tidak menjelaskan secara rinci tingkat kepercayaan dan waktu survei dilakukan.

BACA JUGA: Ini 10 Kesalahan Gubernur Anies Dalam Menangani COVID-19 Versi PSI

Bima hanya berbicara soal temuan survei ini bisa menjadi acuan membuat kebijakan. Misalnya soal pekerjaan rumah yang perlu dilakukan, jika ingin memperketat Pembatasan Sosial berskala besar (PSBB) 

Sebelum melaksanakan PSBB, pemerintah perlu berkonsentrasi penuh meningkatkan edukasi warga. Utamanya menyamakan persepsi atas bahaya penularan Covid-19. 

"Ini PR (pekerjaan rumah) terbesar. Mana bisa melakukan kebijakan yang tegas, lockdown, sementara persepsinya begitu. Akan ada gejolak. PR (Pekerjaan Rumah) utama adalah edukasi ke masyarakat," tutur dia.

Pemkot Bogor, kata Bima, lebih memilih memperkuat Dinas Kesehatan sebelum memperketat PSBB. Kemudian Pemkot Bogor juga berkerja sama dengan tokoh agama untuk mengedukasi bahaya penularan Covid-19.

"Makanya saya perkuat lagi Dinkes, dokter-dokter, IDI, pemuka agama, tokoh agama, lebih kencang lagi ke bawah. Dari situ baru kemudian penguatan protokol kesehatan ditingkat mikro, ditingkat kecamatan," pungkas dia.(ast/jpnn)


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler