Survei Pilwako Medan: Elektabilitas Bobby Nasution 44,4 Persen, Akhyar 8,8 Persen

Sabtu, 12 September 2020 – 05:55 WIB
Bobby Nasution. Foto; Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, MEDAN - Lembaga survei Medan Institute For Democracy (MIDE) menjelaskan hasil survei Pilkada Medan 2020 yang diambil datanya saat awal Agustus lalu.

Lembaga yang diinisiasi oleh sejumlah peneliti muda ini melakukan survei terhadap 1.000 responden serta menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 3 persen.

BACA JUGA: Menghitung Peluang Bobby Nasution dan Gibran bin Jokowi di Pilkada, Ada yang Berat

Survei dilakukan tepatnya dalam periode 12-16 Agustus di seluruh kecamatan di Kota Medan.

Dalam survei yang dilakukan sebelum adanya kepastian paslon yang akan diusung oleh partai-partai politik peserta pilkada ini terungkap tingginya popularitas dan elektabilitas bakal calon wali kota Bobby Nasution dibanding sejumlah nama lain yang saat itu berpotensi menjadi rivalnya.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Anies Baswedan Diserbu, Rizal Ramli Sikat Jokowi, Penerbit Kartun Nabi Muhammad tak Menyesal

Di antaranya Ikhwan Ritonga, Akhyar Nasution, Salman Alfarisi, Maruli Siahaan, Hasyim dan lain-lain.

Peneliti MIDE Ikhwanul Harahap dalam paparannya pada saat konpers secara daring mengungkapkan perilaku responden dalam menjawab pertanyaan survei cukup dipengaruhi oleh persepsi ketidakpuasan terhadap pemerintah kota terkait sejumlah isu.

BACA JUGA: Lihat Tuh Si Bobby Menantu Jokowi, Ke KPU Pakai Vespa, Katanya Ada Hubungan Sama Medan

Seperti pelayanan publik, penanganan Covid-19 serta munculnya isu korupsi.

Dari hasil survei permasalahan Kota Medan yang dikeluhkan oleh masyarakat yakni korupsi 17,3 persen; jalan rusak 11,1 persen; banjir 10,9 persen; susah lapangan pekerjaan 10,3 persen; kriminalitas 10,1 persen, dan kemacetan 9,3 persen.

"Dari permasalahan yang ada di Kota Medan, masyarakat mengharapkan adanya program-program seperti akses lapangan kerja, pemerintahan yang bersih, perbaikan infrastruktur, dan lain sebagainya," kata Ikhwanul dalam pemaparannya secara virtual.

Terkait kriteria pemimpin Kota Medan, Ikhwanul menjelaskan masyarakat menginginkan pemimpin yang jujur, bersih, dan bebas korupsi; pandai dan berwawasan luas; dan memiliki program yang mampu menjawab keluhan masyarakat Kota Medan terkait berbagai permasalahan yang ada.

Dalam survei ini, Ikhwanul juga memaparkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Pemerintah Kota Medan. Masyarakat yang kurang puas sebanyak 52,3%, tidak puas 12,2%, dan puas 27,5 persen. Sementara. Sangat tidak puas 3,0 %, sangat puas 4,2%, dan 0,8% tidak menjawab.

Terkait Pilkada Kota Medan, Sebagian besar responden (56,3%) sudah mengetahui mengenai pelaksanaan Pilkada Kota Medan 2020, kemudian sebanyak 40 persen belum mengetahui dan sebanyak 3,2% menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

Untuk tingkat popularitas bakal calon walikota dalam survei MIDE yang tertinggi adalah Bobby Nasution (90,9%), mengalahkan kandidat lain seperti Akhyar Nasution (64,5%) dan Salman Alfarisi (29,1%).

Sementara melalui pertanyaan tertutup, terkait elektabilitas bakal calon walikota, Ikhwan mengungkapkan Bobby Nasution mengungguli nama-nama lain yakni 44 persen. Sementara Akhyar Nasution di angka 8,8 persen dan Salman 4 persen.

Dalam, kesempatan tersebut, hadir pengamat politik dari Universitas Sumatera Utata (USU) Dadang Dermawan sebagai penanggap hasil survei.

Salah satu poin yang mendapat perhatian adalah rendahnya tingkat kepuasan masyarakat kepada Pemerintah Kota Medan.

"Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat bisa sangat dirasa. Kita bisa lihat bagaimana masalah tahunan seperti banjir, jalan rusak, sampah, dan lain sebagainya masih belum teratasi. Saya juga melihat kurangnya tingkat kepuasan masyarakat karena saat ini dalam keadaan pandemi Covid-19 dan pelayanan serta antisipasi Pemkot Medan mungkin dirasa tidak memuaskan. Meski harus memaklumi pula bahwa isu terkait lambannya respons pemerintah menghadapi Covid 19 bukan hanya persoalan pemerintahan Kota Medan saja. Ini persoalan mulai semua tingkatan pemerintahan saat ini”, katanya.

Sementara itu, pengamat politik yang juga Peneliti Litbang Kompas Yohan Wahyu menilai masalah Kota Medan yang dipaparkan MIDE seperti masalah korupsi pastinya akan mendapat perhatian khusus dari calon pemilih maupun khususnya para calon walikota.

"Seperti yang kita tahu tiga kepala daerah Kota Medan berurusan dengan kasus korupsi. Jadi, ke depan wajar masyarakat ingin memiliki sosok yang bersih, tidak memiliki rekam jejak yang berkaitan dengan korupsi," ujarnya.

Dari hasil survei ini juga terungkap sebagian besar responden melihat faktor sosok anak muda (15,9%) menjadi alasan kuat dalam memilih calon walikota Medan nantinya, selain faktor personal berwibawa (12,8%) dan berpengalaman (12,6%).

Faktor lain alasan adalah berwawasan luas (5,6%), merakyat (5,1%), tokoh baru (4,5%), putra daerah (3,7%), berjiwa sosial (2,2%), kesamaan partai politik (1,7%), dan taat beragama (1,7%).

Hasil survey ini dilakukan sebulan sebelum pendaftaran para pasangan calon beserta partai-partai pengusung ke KPUD Kota Medan.

Tentunya hasil survei elektabilitas calon kepala daerah Kota Medan ini masih akan terus bergerak setelah penetapan oleh KPUD dipastikan akhir September nanti. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler