Survei SPP Ungkap 3 Faktor Prabowo Bisa Menang Pilpres 2024

Jumat, 02 Desember 2022 – 21:29 WIB
Direktur Eksekutif Suara Politik Publik Asrudin Azwar. Foto: Dokumentasi Asrudin

jpnn.com, JAKARTA - Pemilihan presiden (Pilpres) 2024 masih menyisakan waktu lima belas bulan lagi. Namun, sejumlah nama pun mulai dimunculkan oleh partai-partai politik untuk diusung menjadi capres.

Di antaranya, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Puan Maharani, Airlangga Hartarto, Ridwan Kamil dan sederet nama lainnya.

BACA JUGA: Duet Prabowo Subianto dan Erick Thohir Saling Melengkapi, Cocok Maju Pilpres

Lalu, bagaimana tingkat elektabilitas para capres ini jika mereka akan berhadap-hadapan secara head to head (H2H)?

Bila dilihat dari sisi eforia dukungan pemilih, hasilnya Prabowo Subianto selalu menang melawan siapapun jika yang maju berkontetstasi hanya ada dua nama capres, baik melawan Ganjar Pranowo, Anies Baswedan ataupun dengan nama lainnya.

BACA JUGA: Anak Kandung Laporkan Ibu ke Polisi, Lalu Minta Uang Damai Rp 12 Juta, Viral

Demikian salah satu temuan penting survei nasional terbaru Suara Politik Publik (SPP). Survei ini dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan menggunakan metode baku: multistage random sampling.

Jumlah responden survei nasional ini adalah 1.200 responden dengan margin of error sebesar ± 2,83% dan pada tingkat kepercayaan (level of confidence) 95,0%.

BACA JUGA: Setelah Membunuh, Anton Sujarwo Rampas Motor Warga, Lalu Kabur

Usia responden yang dijadikan sampel adalah 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Responden dipilih secara acak dan diwawancara dengan tatap muka. Waktu survei sendiri dilakukan pada tanggal 14 – 21 November 2022.

Berikut hasil survei jika capres yang berkontestai hanya ada dua nama;

• Prabowo Subianto vs Ganjar Pranowo

Prabowo Subianto : 39,3%
Ganjar Pranowo : 30,4%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Rahasia : 30,3%

• Prabowo Subianto vs Anies Baswedan

Prabowo Subianto : 40,3%
Anies R. Baswedan : 27,7%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Rahasia : 32,0%

• Prabowo Subianto vs Puan Maharani

Prabowo Subianto : 51,9%
Puan Maharani : 3,4%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Rahasia : 44,7%

• Prabowo Subianto vs Airlangga Hartarto

Prabowo Subianto : 51,9%
Airlangga Hartarto : 1.7%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Rahasia : 46,4%

• Prabowo Subianto vs Ridwan Kamil

Prabowo Subianto : 43,3%
Ridwan Kamil : 13,2%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Rahasia : 43,5%

• Prabowo Subianto vs Agus Harimurti Yudhoyono

Prabowo Subianto : 47,9%
Agus Harimurti Yudhoyono : 7,0%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Rahasia : 45,1%

• Prabowo Subianto vs Erick Thohir

Prabowo Subianto : 52,7%
Agus Harimurti Yudhoyono : 1,5%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Rahasia : 45,8%

Merujuk hasil ini, maka jika Pilpres diadakan pada saat survei dilakukan, bisa dipastikan Prabowo akan memenangkan kontestasi Pilpres. Hemat saya, ada tiga faktor yang bisa dianalisis mengapa Prabowo bisa tak terkalahkan dan menang dalam survei SPP kali ini:

Pertama, Prabowo diuntungkan oleh pernyataan dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kita tahu bahwa dalam beberapa kesempatan Jokowi telah memberi sinyal untuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden 2024.

Saat menghadiri pembukaan pameran Indo Defence 2022 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Rabu 2 November 2022, Jokowi menyatakan memberi restu agar bekas rivalnya itu ikut Pilpres 2024.

Ia dengan tegas menyatakan mendukung Prabowo. Lima hari kemudian, Saat menghadiri HUT ke-8 Partai Perindo pada Senin, 7 November 2022, Jokowi juga menegaskan kembali pernyataannya bahwa 2024 adalah jatahnya Pak Prabowo.

Mungkin ada yang berkata bahwa ucapan Jokowi itu hanya basa-basi politik saja. Namun, perlu diingat Jokowi adalah seorang presiden. Ia seorang figur politik yang memiliki magnet politik publik.

Setiap pernyataan yang dilontarkannya akan dipersepsikan oleh publik sebagai sebuah kebenaran politik. Karenanya tak heran jika kebenaran politik mengenai dukungan Jokowi tersebut telah membuat Prabowo memuncaki piramida elektabilitas Capres.

Kedua, publik ingin memberikan kesempatan pada Prabowo. Kita tahu bahwa Prabowo sudah tiga kali berkesempatan mengikuti kontestasi Pilpres: Sekali sebagai calon wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri (2009), dan dua kali sebagai capres (2014 & 2019).

Dengan modalitas politik ini, memori politik public tentu saja akan tertuju pada Prabowo. Kegigihan politik Prabowo berkontestasi rupanya telah merangsang ingatan publik dan oleh karenanya publik ingin memberikan kesempatan kepada Prabowo memimpin bangsa ini.

Ketiga, Prabowo sudah fix dicalonkan partainya sendiri, Gerindra, sejak Agustus 2022 lalu. Dengan start lebih dahulu, Gerindra diuntungkan secara politik karena bisa lebih cepat melakukan political socialization untuk memengaruhi suara politik publik agar mendukung Prabowo.

Apalagi kalau koalisi Gerindra dengan PKB tetap berjalan sesuai rencana dan terjaga soliditasnya akan semakin memudahkan Prabowo melenggang dalam kontestasi karena sudah memenuhi aturan ambang batas 20% [Presidential Threshold/PT 20%].

Sebaliknya, partai-partai lain masih disibukkan meracik koalisi politik untuk menentukan siapa bakal capres yang akan diusung. Anies Baswedan yang telah resmi dicalonkan Nasdem pun terancam tak bisa membawanya ke panggung politik pilpres karena masih kesulitan mencari dukungan koalisi demi memenuhi PT 20 persen.

Merujuk pada tiga analisis di atas, tugas Gerindra dan Prabowo ke depannya adalah tinggal menjaga tren positif elektabiltas-nya dengan berbagai sosialisasi politik yang bernilai political efficacy (berorientasi kerakyatan). Dengan begitu tingkat kepercayaan publik akan semakin meluas dan akan lebih mudah bagi Prabowo untuk memenangkan kontestasi ini.(ray/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler