Tangguh Hadapi El Nino, Petani Subang Dapat Nilai Tambah

Selasa, 13 Juni 2023 – 18:52 WIB
Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan SIMURP Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2023 yang diselenggarakan Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan di BPP Pagaden, Kabupaten Subang, Selasa (13/6). Foto: Kementan

jpnn.com, SUBANG - Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim yang diinisiasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan menjadi andalan bagi petani di Kabupaten Subang dalam mengantisipasi perubahan iklim.

Perubahan iklim dalam hal ini ancaman El Nino yang sudah di depan mata.

BACA JUGA: Pemda Diminta Replikasi Program Pertanian Cerdas Iklim untuk Menanggulangi Dampak El Nino

Hal itu terungkap dalam pertemuan 'Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan SIMURP Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2023' yang diselenggarakan Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan di BPP Pagaden, Kabupaten Subang, Selasa (13/6).

Selain tangguh dalam menghadapi El Nino, pertanian cerdas iklim rupanya juga membawa dampak positif bagi petani di Kabupaten Subang.

BACA JUGA: Kementan Berkomitmen Jaga Pasokan Hortikultura untuk Hadapi El-Nino

Berkat pertanian cerdas iklim, petani di Subang mendapatkan nilai tambah dari produk olahan pertanian yang mereka garap.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan selain masa depan Indonesia, pertanian juga harus diupayakan sedapat mungkin agar memberikan nilai tambah untuk petani.

BACA JUGA: Si Kembar Rihana dan Rihani Buronan yang Paling Dicari Polisi

Sebab, segala upaya yang dilakukan pemerintah dalam kerangka pembangunan pertanian nasional, orientasi utamanya adalah kesejahteraan petani.

"Kementan terus berupaya agar pembangunan pertanian nasional memberikan nilai tambah produk pertanian, sekaligus meningkatkan efisiensi sehingga perbaikan ekonomi dan peningkatan produksi dan produktivitas pertanian bisa diwujudkan," kata Mentan Syahrul.

Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi menambahkan, Kementan telah menyiapkan langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global.

Salah satu langkah strategis yang disiapkan, yakni program pertanian cerdas iklim.

"Pertanian cerdas iklim ini mengombinasikan rencana, ilmu pengetahuan, keterampilan dan aksi nyata, baik oleh petani maupun penyuluh, bagaimana mereka membaca situasi iklim yang tengah terjadi agar tak berdampak pada pertanian mereka," terang Dedi.

Dikatakan Dedi, pertanian cerdas iklim diharapkan menjadi konsep baru bagi petani dalam menunjang program ketahanan pangan nasional.

"Dengan pertanian cerdas iklim kita berharap produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan, tak terpengaruh oleh situasi iklim yang tengah terjadi, karena kita tahu dan telah memiliki rencana apa yang akan dilakukan," ujar Dedi.

Petani penerima manfaat pun terbantu dengan program SIMURP yang diinisiasi BPPSDMP Kementan.

Maryuni, dari KWT Karya Mandiri Kecamatan Pagaden Barat merasakan betul manfaat program. Penjualan produk kelompoknya berupa aneka macam kue, kripik singkong, rengginang, opak dan lainnya telah berkembang pesat.

"Bahkan, pemesanan hingga ke luar negeri, tepatnya Taiwan. Kami bersyukur sekali mendapat program SIMURP ini," kata Maryuni.

Sama  halnya dengan Hasan Basri dari Kelompok Tani Cinta Tani Jaya di Kecamatan Binong.

Produksi olahan beras ketannya terus meningkat semenjak tersentuh program ini.

"Produksi kami sudah mencapai 100 kilogram per bulan. Kalau ada pesanan, kami genjot lagi produksinya. Kami juga difasilitasi perizinan. Sekarang kita tinggal menunggu perizinan keluar saja," ujar Hasan Basri.

Dalam 'Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan SIMURP Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2023', ada beberapa langkah dukungan penerapan teknologi CSA, di antaranya demplot CSA di Kelompok Tani (Poktan), Penerapan teknologi CSA Scalling Up, rembug tani, pengawalan dan pendampingan kegiatan SIMURP, Uji emisi GPK, penguatan BPP dan penumbuhkembangan produk dan jejaring pasar (market linked) KEP.

Adapun materi CSA demplot atau genta organik meliputi teknologi irigasi intermitten/AWD/macak-macak, enggunaan varietas unggul, penentuan waktu tanam (KATAM), teknologi jajar legowo, pembuatan dan penggunaan pupuk organik, penggunaan pupuk berimbang dan pengendalian OPT.

Adapun pada tahun ini, anggaran SIMURP untuk Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 3,125 miliar. Jumlah itu bertambah sebesar Rp 13,258 miliar setelah dilakukan top up.

Secara keseluruhan, ada 10 provinsi yang mendapatkan program SIMURP. Untuk di Jawa Barat diimplementasikan di Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon.

Program SIMURP sendiri diimplementasikan di 24 kabupaten, 22 daerah irigasi, 121 dari 117 BPP dan 117 desa dengan melibatkan sebanyak 4.623 kelompok tani. (rhs/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... AKBP Aszhari Kurniawan: Tembak di Tempat Gerombolan Bermotor Membuat Onar


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
El Nino   Subang   petani   pertanian  

Terpopuler