Tanpa Laga, Liverpool Sudah Juara

Oleh: Imam Dzulkifli, Pewarta Olahraga

Senin, 28 Mei 2018 – 14:56 WIB
Imam Dzulkifli

jpnn.com, MAKASSAR - PERNAHKAH kamu menaruh cinta pada dua hati? Saya pernah. Dan menjalaninya sungguh rumit. Cepat atau lambat, kamu akhirnya harus melepaskan salah satu dari mereka. Kamu tidak akan sanggup untuk adil.

Masa remaja saya berlangsung dalam situasi seperti itu. Saya tidak pernah bisa menjawab pertanyaan, "Cinta mana, Juventus atau Liverpool?" Saya membeli kostum keduanya. Saya menonton pertandingan keduanya. Saya tahu soal Delle Alpi dan Anfield. Saya membaca kisah-kisah di Turin dan Merseyside.

BACA JUGA: Trio La Liga Masuk Pot Pertama Liga Champions

Tetapi di 2012, saya memutuskan berhenti menggemari Juventus. Mereka gagal memberi contoh bijak memperlakukan seseorang yang banyak berjasa. Del Piero seharusnya tidak ke Sydney.

Sejak itu saya tak lagi ke dua hati. Meski dalam setiap kabar kemenangan Juve, saya tetap menyelipkan rasa bahagia. Begini, sebersih-bersihnya kamu menggosok wajan yang penuh kerak, sangat mungkin masih ada yang tertinggal.

BACA JUGA: Saat Real Madrid Seperti Bulls, Lakers atau Celtics

Saya bahagia bersama ratusan juta orang lain yang juga menyayangi Liverpool. Tak ada piala yang rutin di setiap musim, namun klub ini tak henti-henti mengajarkan perjuangan dan kerja keras. Kami membanggakan prinsip itu; bahwa uang bukan syarat untuk tersenyum.

Musim ini, pesan-pesan untuk menikmati proses, datang lagi dari Melwood dan Kirby, tempat yang sejuk di Inggris. Seorang pria Mesir yang pernah dibuang di London, justru tumbuh sebagai pahlawan di utara. Liverpool memberinya panggung dan perlahan dia menemukan kepercayaan dirinya sebagai anak kampung yang setara dengan Ronaldo atau Messi.

BACA JUGA: Ronaldo dan Bale Rusak Pesta di Ruang Ganti Real Madrid

Istimewanya, Mohamed Salah menolak jadi pelupa. Dia tak membiarkan kebintangannya kini menjadi penyebab hilangnya semangat untuk terus berjuang. Bukan berlatih seadanya lalu membeli kapal pesiar dan pesta-pesta di tengah samudera.

Salah tetaplah pemain yang harus tiba tepat waktu di kamp latihan.

Di luar lapangan, dia bersyukur. Ambulans, sekolah, rumah sakit diadakannya di Nagrig, tempatnya dilahirkan. Beberapa jam jelang dia tampil di final Liga Champions, keluarganya memotong tiga ekor sapi di pusat kota Basion sebelah barat. Daging dicincang kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir yang kemungkinan akan memasaknya menjadi kari.

Sadio Mane, trisula Liverpool lainnya mengirim 300 jersey ke Bambali, desa di Senegal, tempat keluarga besarnya masih tinggal. Termasuk ibunya. Mereka akan menonton bareng sambil menghirup aroma pabrik tekstil yang kadang masih tersisa di baju baru.

Jadi, Anda tak perlu bertanya ke mana saya mengarahkan doa dalam laga puncak Liga Champions. Saat Salah dan rekan-rekannya memasuki Olympiyski Stadium, harapan besar sudah saya kirimkan berkali-kali.

Bagi saya dan mungkin juga penggemar lain Liverpool, bukan piala berkuping besar itu yang paling dibutuhkan. Kami sudah pernah merebutnya di Istanbul. Dengan cara yang tidak gampang pula. Namun memang sangat baik bila Liverpool yang menang.

Ada banyak hal positif yang akan terjadi di berbagai belahan dunia ini bila tim berbaju merah yang juara. Anak-anak muda bakal semakin percaya bahwa meski kamu kecil, kamu tidak dilarang punya impian besar. Dan itu bisa terwujud kalau kamu berjuang dan menghargai prosesnya.

Semangat semacam itu sudah lama kami rawat di kalangan terbatas pencinta Liverpool. Seseorang Kopites (julukan penggemar Livepool yang tidak tinggal di kota Liverpool) mengaku sangat ingin terbang ke Kiev, tempat laga final itu digelar.

Namun dia sadar, akan butuh sangat banyak biaya. Kiev bukan Paris atau Munchen yang segalanya mudah. Belum lagi untuk membeli tiket stadion yang mahalnya membuat minta ampun itu.

"Saya memang punya rencana ke Kiev. Tetapi tak punya keinginan masuk ke stadion. Menyaksikan bus Liverpool masuk ke Olympiyski dan lalu (semoga) keluar menenteng piala akan menjadi pengalaman yang sungguh mengasyikkan. Sesederhana itu."

Begitu kata orang yang saya lupa namanya itu. Tetapi dia keren, seperti suporter Liverpool pada umumnya. Kekagumannya hanya pada kebanggaan, bukan kemewahan.

Anda juga mesti tahu, Kiev yang kita sebut-sebut sedari tadi itu adalah kota yang juga senasib dengan klub Liverpool. Perjuangannya berat. Dahulu pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan di timur Eropa, jalur perdagangan Skandinavia dan Konstantinopel, serta tanah yang indah untuk siapa saja. Namun luluh lantak oleh perang. Kini baru bertekad tumbuh lagi pelan-pelan.

Oh iya, dalam tiga hari sebelum laga, koran-koran menyajikan statistik. Katanya, Liverpool tak perlu takut karena mereka justru unggul dalam angka. Namun saya memilih tak menulis ulang angka-angkanya di sini.

Beberapa fans Real Madrid adalah sahabat saya. Sangat baik bila saya menjaga perasaan mereka. You'll Never Walk Alone (YNWA) kadang-kadang juga berlaku untuk kubu lawan. Kami setia kawan dan setia lawan.

Lagipula, dibanding mereka, saya dan ratusan juta fans Liverpool di mana pun berada, lebih terlatih kalah. Kali ini pun kami akan lebih suka menikmati pertandingan ketimbang menuntut tim buru-buru mencetak gol.

Salah dan rekan-rekannya sudah juara sebelum Mirolad Mazic meniup peluit kick off. (fajar online/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Loris Karius Dicaci, Disebut Pemotong Rumput hingga Pelawak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler